02 Nov 2020, 20:49Psikologi

Apa itu penyakit stockholm syndrome?

F
Info Penanya: F, Wanita, 26 Tahun
Dok, stockholm syndrome itu penyakit apa ya?
578 Views
0 Balasan
SehatQ
Dijawab Oleh  dr. Farahdissa
(0)
Selamat malam, FTerima kasih atas pertanyaannya.Sindrom stockholm adalah respon psikologis pada seseorang yang berada pada kondisi penculikan atau penyekapan.  Seseorang dengan sindrom ini memiliki hubungan emosional yang positif terhadap orang yang menculik atau melakukan kekerasan pada mereka.  Menurut para ahli, respon ini merupakan cara seseorang untuk melindungi dirinya dari trauma. Seseorang dapat mengidap sindrom stockholm ketika korban menerima rangkaian ancaman baik secara fisik maupun psikis yang berlangsung terus menerus.  Jika korban menerima sedikit kebaikan dari penculik mereka, korban akan merasa tersentuh karena masih diperlakukan baik dan tidak menyakiti korban.  Korban pun berpikir untuk lebih bersikap baik dan bekerja sama dengan penculik apabila hal tersebut menjadi jaminan keselamatan hidup korban.  Hal ini dapat menjadi faktor dibalik munculnya sindrom stockholm. Walaupun hal ini tidak dialami oleh semua korban penculikan dan penyekapan.

Penyebab timbulnya sindrom stockholm :

  • Penculik memperlakukan korban dengan baik.
  • Adanya kontak mata antara korban dan penculik sehingga memungkinkan untuk terjadinya keterikatan antar satu sama lain.
  • Penculik merasa aparat penegak hukum tidak melakukan pekerjaan dengan baik.
  • Penculik berpikir bahwa aparat meremehkan tindakan yang mereka lakukan.
Setelah diselamatkan atau dilepaskan oleh penculik, korban dengan sindrom stockholm masih memiliki keterikatan yang positif terhadap penculik mereka.  Bahkan pada beberapa kasus, korban menolak untuk bersaksi sebagai korban penculikan saat persidangan.  Walaupun begitu, beberapa korban akan mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan stress pascatrauma.Sindrom ini merupakan gangguan psikologis yang tidak memiliki standar baku karena gangguan ini jarang terjadi.  Sehingga tidak ada pengobatan pasti untuk menangani sindrom ini.  Namun, psikoterapi dan pengobatan yang konsisten dapat membantu untuk pemulihan gejala pascatrauma. Semoga penjelasan ini bermanfaat.Salam sehat,dr. Farah
depresipost traumatic stress disorder (PTSD)gangguan kecemasangangguan psikologiskekerasan
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)
Balas
Postingan membutuhkan waku beberapa saat untuk tampil

Forum Tanya Dokter

(maks. 500 karakter)
Postingan membutuhkan waktu beberapa saat untuk tampil