Direktori Dokter Andrologi

Menampilkan 1-22 dari 22 andrologi yang ditemukan

Prof. Dr. dr. Wahyuning Ramelan, Sp.And

RS Metropolitan Medical Center
Setiabudi, Jakarta Selatan

dr. Tri Bowo Hasmoro, Sp.And

RS Mitra Keluarga Bekasi Barat
Bekasi Barat

dr. Nugroho Setiawan, Sp.And

Mayapada Hospital Jakarta Selatan
Cilandak, Jakarta Selatan

dr. Mira Kristania, Sp.And

RS Hermina Serpong
Serpong, Tangerang Selatan

dr. Heru Harsojo Oentoeng, Sp.And, M.Repro

RS Hermina Daan Mogot
Cengkareng, Jakarta Barat

dr. Nur Hafiz Ramadhona, Sp.And

RS Evasari Awal Bros
Cempaka Putih, Jakarta Pusat

dr. Endro Purwoko, Sp.And

Mayapada Hospital Tangerang
Tangerang, Tangerang

dr. Dicky Faizal Irnandi, Sp.And

RS Hermina Tangkubanprahu

dr. Achmad Zulfa Juniarto, Sp.And

RS Hermina Pandanaran
Semarang

dr. Adi Santosa Maliki, Sp.And

RS Hermina Pasteur
Cicendo, Bandung

dr. Anita Gunawan, Sp.And, MS

RS Pusat Pertamina
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

dr. Fransiscus Budiharto, Sp.And

RSPAD Gatot Soebroto
Senen, Jakarta Pusat

dr. Hermawan Ludirdja, Sp.And

Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Kebon Jeruk, Jakarta Barat

dr. Herry Sofyan Lubis, Sp.And

RS Awal Bros Chevron Pekanbaru
Pekanbaru

dr. Indra Gusti Mansur, Sp.And, DHES

Klinik Sammarie Family Healthcare
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

dr. Onasis Sudarto, Sp.And

Siloam Hospitals Surabaya

dr. Rahmawati Thamrin, Sp.And

Siloam Hospitals Makassar

Dokter Spesialis Andrologi

(Oleh: Nadya)

Andrologi adalah cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan masalah kesehatan pria, seperti sistem reproduksi, sistem urin, hormon pria, gangguan seksual, dan penyakit reproduksi. Bahasan utama andrologi adalah infertilitas, hormon seksual berada di bawah jumlah normal (hipogonadisme),  kontrasepsi pria, disfungsi ereksi, dan penuaan pada pria.

Dokter spesialis andrologi adalah dokter yang menangani gangguan reproduksi pria dan alat kelamin. Mereka melakukan beberapa prosedur, seperti:

  1. Analisis sperma dan air mani
  2. Perawatan membantu pembentukan sel sperma
  3. Terapi hormon
  4. Proses pembekuan sperma
  5. Bayi tabung (IVF)

Sejarah andrologi

Awal sejarah andrologi modern sebagai ilmu kedokteran ditemukan pada pertengahan abad ke-19. Namun, istilah andrologi pertama kali dilahirkan pada 1951 oleh para berbagai ilmuwan dari berbagai ilmu, seperti urologi, endokrinologi, dan dermatologi. Mereka menyatakan bahwa sistem reproduksi pria, patologi, dan fisiologinya telah lama diabaikan. “Andrologie” adalah jurnal pertama yang membahas andrologi yang diterbitkan pada 1969 di Jerman.

Perkembangan andrologi di Indonesia dimulai dari Prof. Dr. F.X. Arief Adimoelja yang mengadakan Simposium Spermatologi I yang diselenggarakan di Surabaya pada 19—21 Januari 1978. Simposium tersebut melahirkan Perkumpulan Andrologi Indonesia (PANDI). Melalui PANDI, proses andrologi menjadi cabang ilmu kedokteran dimulai. Pada 1 Maret 2006, Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) mengesahkan andrologi sebagai salah satu spesialis kedokteran baru di Indonesia.

Pendidikan andrologi

Minimal pendidikan yang harus ditempuh calon dokter spesialis andrologi adalah 9-10 tahun. Para calon dokter spesialis andrologi harus menyelesaikan pendidikan sarjana selama 4 tahun. Selanjutnya, mereka harus menjalani 4 tahun subspesialis dan residensi selama 1-2 tahun.

Dokter spesialis andrologi pun sering diminta untuk magang di fasilitas kesehatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi pria untuk mendapatkan pengalaman praktik. Namun, ada juga yang mengikuti pelatihan tambahan dan spesialisasi.

Gelar dokter spesialis andrologi di Indonesia adalah Sp.And (spesialis andrologi).

Sumber

Arsyad, KM., 2006. 10 Tahun PERSANDI (Indonesian Andrologist Association). Pengurus PP Persandi.

College Mouse. https://www.collegemouse.com/how-to-become-an-andrologist/

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12374107

Nieschlag, Eberhard., et al. 2010. Andrology: Male Reproductive Health and Dysfunction. Springer: New York.