Waspadai Sindrom Ruminasi yang Dapat Menyebabkan Malnutrisi


Sindrom ruminasi menyebabkan penderitanya muntah setelah makan, lalu dikunyah dan ditelan atau dimuntahkan kembali. Kondisi ini bisa menyebabkan malnutrisi jika diabaikan terlalu lama.

(0)
15 Dec 2020|Nenti Resna
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Sindrom ruminasi dapat menyebabkan muntah setelah makanSindrom ruminasi menyebabkan penderitanya memuntahkan makanan ke mulut setelah ditelan
Sindrom ruminasi adalah gangguan makan yang menyebabkan penderitanya secara berulang memuntahkan makanan ke mulut baik disengaja atau tidak sengaja (regurgitasi), kemudian mengunyahnya dan menelan atau memuntahkannya lagi.Kondisi ini dapat terjadi tidak lama setelah makanan ditelan, dan kerap berlangsung hingga berkali-kali setiap kali makan. Penderita sindrom ruminasi mengungkapkan bahwa rasa makanan yang mereka konsumsi masih normal karena belum terlalu lama di dalam perut sehingga tidak dicerna oleh asam lambung.Sindrom ruminasi umumnya terjadi pada anak-anak, tapi semua orang di segala usia dapat mengalaminya. Gangguan ini biasanya ditangani lewat terapi perlaku dan pemberian obat-obatan tertentu.

Penyebab sindrom ruminasi

Belum bisa dibuktikan secara pasti apa sebenarnya penyebab sindrom ruminasi. Namun, para ahli menganggap kemungkinan terbesar penyebab sindrom ini adalah adanya peningkatan tekanan pada perut.Saat perut membesar karena sedang mengonsumsi makanan, tekanan di perut akan meningkat. Bersamaan dengan hal tersebut, sfingter (katup) esofagus bagian bawah mengalami relaksasi dan menyebabkan makanan dapat naik kembali atau regurgitasi.Regurgitasi merupakan tindakan refleks yang dapat dilatih, dan bisa terjadi secara disengaja atau tidak disengaja. Penderita sindrom ruminasi dapat melakukan regurgitasi tanpa alasan tertentu, jadi bukan karena sakit perut atau sedang dalam kondisi tidak sehat.Sindrom ruminasi juga berkaitan dengan sembelit kronis karena koordinasi yang buruk dari otot dasar panggul. Faktor usia dianggap tidak memiliki kaitan dengan sindrom ini karena dapat terjadi pada bayi hingga orang dewasa.Sindrom ruminasi sering disalahpahami sebagai bulimia nervosa atau penyakit GERD. Akan tetapi, sindrom ini tidak selalu diawali dengan mual atau begah seperti pada GERD, juga tidak harus dipaksa muntah seperti pada kasus bulimia nervosa.Meskipun demikian, penderita gangguan kecemasan, depresi, ataupun gangguan kejiwaan lainnya, memiliki risiko lebih tinggi mengalami sindrom ruminasi.

Gejala sindrom ruminasi

Beberapa gejala dari sindrom ruminasi, di antaranya:
  • Muntah tanpa paksaan, biasanya terjadi dalam waktu 10 menit setelah makan
  • Gangguan pencernaan
  • Sakit perut atau tekanan pada perut akan berkurang setelah regurgitasi
  • Perut terasa penuh
  • Bau mulut
  • Bibir pecah-pecah
  • Dapat disertai mual atau tidak
  • Penurunan berat badan tanpa sengaja.
Jika terus diabaikan, sindrom ruminasi dapat merusak saluran antara mulut dan perut (esofagus). Sindrom ini juga bisa mengakibatkan malnutrisi, erosi gigi, hingga perasaan malu dan isolasi sosial.

Cara mengatasi sindrom ruminasi

Untuk memberikan perawatan yang tepat, dokter akan menegakkan diagnosis terlebih dahulu. Beberapa hal yang mungkin dokter lakukan adalah:
  • Memeriksa gejala-gejala yang Anda alami.
  • Memeriksa riwayat kesehatan pribadi dan keluarga.
  • Pengamatan perilaku untuk mendiagnosis sindrom ruminasi.
  • Tes otot esofagus (manometri) untuk mengukur tekanan di perut dan memberikan gambaran untuk digunakan dalam terapi perilaku.
  • Esophagogastroduodenoscopy, yaitu pemeriksaan kondisi kerongkongan, lambung, dan bagian atas usus halus (duodenum).
  • Biopsi, yakni pengambilan sampel jaringan kecil untuk pemeriksaan lebih lanjut.
  • Pengosongan lambung. Mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan makanan untuk dikosongkan dari perut.
Jika diagnosis telah ditegakkan, jenis perawatan yang diberikan akan bergantung pada adanya gangguan lain, usia, dan kemampuan kognitif.

1. Terapi perilaku

Terapi perilaku untuk mengubah kebiasaan dapat digunakan dalam mengobati sindrom ruminasi pada pasien tanpa gangguan perkembangan.Terapi ini membantu untuk mengenali saat regurgitasi akan terjadi dan belajar bernapas dengan menggunakan pernapasan diafragma (otot perut). Pernapasan diafragma dapat mencegah kontraksi perut dan regurgitasi.Salah satu bagian dari terapi perilaku untuk sindrom ruminasi adalah biofeedback. Ini adalah teknik yang dapat digunakan untuk mengontrol beberapa fungsi tubuh. Pencitraan pada biofeedback dapat membantu mempelajari cara melakukan pernapasan diafragma untuk mengontrol regurgitasi.Untuk bayi dengan sindrom ruminasi, pengobatan biasanya berfokus pada perubahan lingkungan dan perilaku bayi yang dilakukan dengan bantuan orangtua atau pengasuhnya.

2. Pengobatan

Dokter dapat meresepkan obat penghambat pompa proton (PPI), seperti esomeprazole atau omeprazole jika sindrom ruminasi telah menyebabkan kerusakan di kerongkongan. Obat PPI berfungsi melindungi lapisan esofagus dan dapat digunakan hingga frekuensi dan tingkat keparahan regurgitasi berkurang.Selain obat PPI, obat-obatan untuk merelaksasi perut setelah makan juga dapat bermanfaat untuk mengurangi tekanan di lambung.Jika Anda punya pertanyaan lainnya seputar sindrom ruminasi, Anda bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh aplikasi SehatQ sekarang di App Store atau Google Play.
muntahgangguan makan
My Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17981-rumination-syndrome
Diakses 2 Desember 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rumination-syndrome/diagnosis-treatment/drc-20377333
Diakses 2 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait