Waspadai Parosmia, Salah Satu Gejala Awal Covid-19 Selain Anosmia

(0)
02 Mar 2021|Nenti Resna
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Penderita parosmia akan mengalami perubahan pada indra penciumannyaParosmia menyebabkan penderitanya mencium bau yang berbeda dari yang seharusnya
Parosmia adalah istilah medis untuk menjelaskan ganggguan pada indra penciuman. Penderita parosmia akan mengalami perubahan intensitas aroma sehingga benda-benda di sekeliling Anda akan tercium menjadi beraroma sangat tajam dan tidak menyenangkan.Parosmia kadang disalahartikan dengan gangguan penciuman lain yang disebut phantosmia. Keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Penderita phantosmia akan mencium aroma yang tidak ada sumbernya atau disebut dengan aroma ‘hantu’.Di sisi lain, penderita parosmia akan mendapatkan aroma yang ‘salah’ dari biasanya. Misalnya, jika aroma masakan yang biasanya menggugah selera, malah menjadi berbau menyengat dan busuk pada penderita parosmia.

Beda parosmia dan anosmia sebagai gejala Covid-19

Gangguan penciuman, seperti parosmia dan anosmia, termasuk gejala awal infeksi Covid-19. Berbeda dengan parosmia yang menyebabkan aroma berbeda atau berkebalikan, anosmia adalah gangguan penciuman yang menyebabkan penderitanya benar-benar kehilangan kemampuan untuk mencium aroma.Kondisi anosmia pada penderita Covid-19 juga bisa diawali dengan terjadinya parosmia. Sebuah kasus di Amerika Serikat melaporkan bahwa seorang wanita sempat merasakan gejala awal berupa parosmia di malam hari yang berlangsung selama beberapa jam.Keesokan harinya setelah parosmia menghilang, ia merasa tidak enak badan dan dua hari kemudian mulai mengalami anosmia atau kehilangan penciuman. Selanjutnya, wanita tersebut dinyatakan positif Covid-19 setelah melakukan pemeriksaan.Setiap orang dapat memiliki penyebab parosmia yang berbeda selain infeksi virus Covid-19. Efek yang paling parah dari kondisi parosmia adalah gangguan kesehatan fisik akibat mendeteksi bau busuk dan tidak menyenangkan. Parosmia dapat membuat Anda kehilangan selera makan, pusing, mual, muntah, hingga menyebabkan penurunan berat badan dan malnutrisi.

Penyebab parosmia

Parosmia terjadi karena terdapat kerusakan saraf reseptor penciuman yang berfungsi untuk mendeteksi aroma. Kondisi ini dapat disebabkan oleh sejumlah gangguan kesehatan, seperti:

1. Infeksi bakteri atau virus

Gangguan penciuman sering kali terjadi saat seseorang terjangkit virus, misalnya flu atau Covid-19. Selain virus, infeksi bakteri juga bisa menjadi salah satu penyebab masalah ini.Infeksi, baik bakteri atau virus, pada saluran pernapasan atas dapat merusak sel saraf sehingga menyebabkan parosmia.

2. Cedera kepala atau trauma otak

Tahukah Anda kalau cedera kepala atau trauma otak juga berpotensi menyebabkan kerusakan indra penciuman? Durasi terjadinya parosmia akibat trauma kepala tergantung jenis cedera dan tingkat keparahannya.

3. Kondisi neurologis

Gangguan penciuman seperti parosmia juga bisa menjadi salah satu gejala awal penyakit yang berkaitan dengan gangguan neurologis, seperti Alzheimer dan Parkinson.

4. Tumor

Walaupun termasuk jarang, tumor juga termasuk salah satu penyebab parosmia. Khususnya, tumor yang terdapat di area sinus.

5. Merokok dan paparan bahan kimia

Kerusakan indra penciuman bisa terjadi akibat racun dan bahan kimia yang terdapat pada rokok. Selain itu, paparan bahan kimia lain dan polusi udara yang tinggi, juga dapat menjadi penyebab parosmia.

6. Efek samping pengobatan kanker

Beberapa jenis pengobatan kanker, seperti terapi radiasi dan kemoterapi, juga dapat menyebabkan parosmia sebagai efek sampingnya.

Perawatan parosmia

Parosmia umumnya dapat disembuhkan, khususnya jika disebabkan oleh pemicu yang dapat diatasi. Misalnya, karena faktor lingkungan, pengobatan, atau merokok. Indra penciuman dapat kembali normal setelah pemicu parosmia dihentikan.Berikut adalah sejumlah metode pengobatan untuk mengatasi parosmia:
  • Klip hidung untuk mencegah aroma masuk ke dalam indra penciuman
  • Pemberian zinc dan vitamin A
  • Pemberian antibiotik untuk jenis parosmia yang disebabkan infeksi bakteri
  • Pembedahan mungkin diperlukan untuk mengangkat polip atau tumor yang menghalangi hidung.
Selain pengobatan di atas, Anda juga bisa mencoba latihan ‘senam penciuman’ selama 12 minggu dapat membantu proses penyembuhan sebanyak 25 persen pasien parosmia.Senam penciuman adalah terapi berupa latihan mencium empat jenis aroma yang berbeda setiap harinya dan melatih otak untuk mengategorikan aroma-aroma tersebut secara tepat.

Pemulihan parosmia

Parosmia biasanya bukan kondisi permanen. Kondisi ini dapat sembuh seiring waktu setelah sel saraf memperbaiki diri. Namun, waktu yang diperlukan untuk pulih mungkin tidak sebentar. Proses pemulihan tergantung dengan penyebab dan tingkat keparahannya.Untuk parosmia yang disebabkan oleh infeksi, sekitar 60 persen kasusnya dapat sembuh beberapa tahun kemudian, dengan rata-rata membutuhkan 2-3 tahun.Demikian juga parosmia yang terjadi karena Covid-19. Kondisi ini bisa saja memakan waktu beberapa bulan hingga tahun untuk pemulihan. Meskipun virus sudah tidak lagi menginfeksi, sel saraf pada indra penciuman memerlukan waktu lebih lama untuk pulih.Jika Anda punya pertanyaan masalah penciuman, Anda bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh aplikasi SehatQ sekarang di App Store atau Google Play.
anosmiacoronavirus
Healthline. https://www.healthline.com/health/parosmia
Diakses 16 Februari 2021
Aerzte Blatt. https://www.aerzteblatt.de/int/archive/article/213639/Parosmia-as-an-early-symptom-of-acute-SARS-CoV-2-infection
Diakses 16 Februari 2021
Fifth Sense. https://www.fifthsense.org.uk/parosmia-and-phantosmia/
Diakses 16 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait