Waspadai Obesitas pada Remaja, Jangan Sampai Ancam Buah Hati Anda

Sering melahap junk food bisa menjadi salah satu penyebab obesitas pada remaja
Kebiasaan makan junk food bisa termasuk salah satu faktor penyebab obesitas pada remaja

Angka obesitas pada generasi muda telah meningkat selama 50 tahun terakhir. Kondisi berupa kelebihan lemak tubuh ini perlu mendapat perhatian serius karena bisa menyebabkan berbagai komplikasi di kemudian. Mulai dari kolesterol tinggi, diabetes, dan hipertensi.

Penting untuk segera menangani obesitas pada remaja agar tidak berlanjut dan mengganggu kualitas hidup saat mereka beranjak dewasa.

Apa sebenarnya penyebab obesitas pada remaja?

Hingga kini, penyebab pasti obesitas pada remaja masih membingungkan para pakar medis. Proses tubuh mengatur berat badan dan lemak tubuh pun belum dipahami dengan baik.

Tetapi obesitas yang dialami oleh remaja bisa dipicu oleh kombinasi dari berbagai faktor berikut:

  • Genetik atau keturunan
  • Faktor sosial dan ekonomi, contohnya akses makanan sehat yang terbatas
  • Kemampuan metabolisme tubuh
  • Kurang tidur
  • Gaya hidup yang tak sehat, misalnya sering mengonsumsi junk food
  • Penyakit tertentu, seperti gangguan endokrin
  • Obat-obatan tertentu

Kapan seorang remaja dianggap mengalami obesitas?

Gejala obesitas yang utama adalah terlalu banyak lemak dalam tubuh. Anda juga bisa  memperkirakan kondisi ini dengan mengunakan rumus indeks massa tubuh (IMT) atau body mass index (BMI).

Cara menghitung BMI sangat mudah. Menurut Kemenkes RI, Anda hanya perlu membagi berat badan (dalam satuan kilogram) dengan tinggi badan (dalam satuan meter) yang sudah dikuadratkan. Berikut contohnya:

Remaja wanita A memiliki berat badan 70 kg dengan tinggi badan 150 cm (1,5 m). Perhitungan IMT-nya adalah sebagai berikut:

= 70 : (1,5 x 1,5)

= 70 : 2,25

= 31,111

Sementara batas ambang indeks massa tubuh sesuai dengan informasi dari Kemenkes adalah:

  • Kurus: 17-18,4
  • Normal: 18,5-25
  • Gemuk: 25,1-27
  • Obesitas: Di atas 27

Itu berarti, remaja wanita A mengalami obesitas karena indeks massa tubuhnya sebesar 31,1. Hasil perhitungan IMT ini kemudian dibandingkan dengan standar untuk remaja seusianya dengan tinggi badan dan jenis kelamin yang sama, pada usia 2-20 tahun.

Apabila hasil tersebut berada di atas persentil 95 pada grafik pertumbuhan remaja wanita seusianya, anak Anda akan dikatakan mengalami obesitas.

Cara membantu remaja yang alami obesitas

Pertama-tama, Anda tentunya ingin anak Anda memiliki gaya hidup yang lebih sehat. Ini memang bukan hal yang mudah. Tapi cobalah untuk tidak memaksanya agar segera mengubah gaya hidup.

Anda lebih baik mendorongnya untuk mencari tahu sendiri mengenai alasan mengapa ia perlu mengubah pola makannya atau lebih rutin olahraga.

Ingatlah juga bahwa anak-anak pasti mencontoh orang tuanya dalam segala hal. Jika Anda ingin anak lebih sehat, Anda juga perlu menerapkan gaya hidup sehat ke rutinitas Anda sendiri. Barulah Anda bisa mengajak Si Kecil untuk ikut mempraktikkannya.

Berikut adalah langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk membantu mengatasi obesitas pada remaja:

  • Terapkan diet sehat

Usahakan untuk selalu menyiapkan asupan sehat di rumah. Singkirkan minuman manis yang tinggi kalori, seperti jus kemasan, sport drink, serta minuman bersoda. Gantilah dengan air putih atau susu yang rendah lemak.

Jadikan sayur dan buah-buahan sebagai camilan sehari-hari. Anda bisa memotong dan menaruhnya dalam wadah khusus dan memasukkannya ke kulkas. Dengan ini, anak mudah untuk mengambilnya.

Anda juga perlu memastikan bahwa buah hati selalu sarapan tiap pagi. Melewatkan sarapan bisa membuat anak kelaparan dan lepas kendali saat makan siang nanti.

  • Ajak anak berolahraga

Para ahli merekomendasikan remaja untuk berolahraga setidaknya 30-60 menit per hari. Bila anak belum terbiasa berolahraga, mulailah dengan pelan-pelan dan tingkatkan intensitasnya secara bertahap.

Tidak masalah jika anak memulai latihan fisik dengan berjalan kaki selama 10 menit per hari. Saat ia sudah beradaptasi, Anda dapat menambah durasinya.

Agar anak lebih semangat, buatlah kegiatan olahraga bersama keluarga tiap pagi atau tiap akhir pekan. Bisa dengan bersepeda, berenang, atau berjalan kaki di car free day. Tentu anak akan lebih terpacu untuk aktif bergerak jika anggota keluarganya juga ikut serta.

  • Lakukan perubahan secara bertahap

Terapkan perubahan gaya hidup dengan perlahan-lahan. Jangan tiba-tiba melarang anak untuk makan permen favoritnya atau memaksanya jogging selama satu jam.

Tuntutan-tuntutan tersebut malah akan menjadi bumerang. Anak bisa merasa gagal karena tidak mencapai target, dan mungkin menolak untuk melanjutkan kegiatan.

  • Ajarkan body image yang positif

Penting juga bagi tiap orang tua untuk mengajarkan tentang body image (citra tubuh) yang positif. Khususnya di tengah nilai budaya yang memandang bahwa kurus itu cantik dan sehat.

Berikan kata-kata motivasi yang menguatkan dan menekankan pada kelebihan-kelebihan buah hati. Dengan ini, ia akan belajar untuk menerima dirinya apa adanya dan tidak selalu bercermin pada pendapat dari teman-teman sebayanya.

Tekankan pula agar anak memahami bahwa bentuk tubuh bukanlah patokan yang akan menentukan kualitas seseorang.

Obesitas pada remaja adalah kondisi serius yang berlangsung jangka panjang (kronis). Para ahli sepakat bahwa penting untuk mengatasi fenomena ini sesegera mungkin agar tidak makin mengganggu kualitas hidup mereka.

Jika dibiarkan begitu saja, efek obesitas dapat lebih signifikan terhadap fisik maupun mental remaja. Mulai dari ancaman penyakit (diabetes serta penyakit jantung) hingga tekanan kejiwaan yang berupa stres, depresi, dan merasa rendah diri.

Anda juga bisa meminta bantuan medis dari dokter untuk menyusun langkah-langkah tepat dalam menangani obesitas pada remaja yang dialami oleh buah hati. Misalnya, dalam menyusun menu sehari-hari dan jadwal olahraga yang tepat, serta cara mengatasi tekanan mental yang ia alami.

Nationwide Children's Hospital. https://www.nationwidechildrens.org/conditions/health-library/obesity-in-teens
Diakses pada 25 Februari 2020

WebMD. https://www.webmd.com/parenting/raising-fit-kids/weight/treatment-overweight-teen#1
Diakses pada 25 Februari 2020

Kementerian Kesehatan RI. http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/bagaimana-cara-menghitung-imt-indeks-massa-tubuh
Diakses pada 25 Februari 2020

Kementerian Kesehatan RI. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/tabel-batas-ambang-indeks-massa-tubuh-imt
Diakses pada 25 Februari 2020

Artikel Terkait