logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kehamilan

Waspadai Inversio Uteri atau Rahim Terbalik sebagai Komplikasi Persalinan

open-summary

Inversio uteri adalah komplikasi kehamilan, yang membuat posisi rahim terbalik dan berusaha keluar lewat leher rahim bahkan hingga vagina. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan ibu mengalami perdarahan hebat bahkan meninggal dunia.


close-summary

5 Jun 2020

| Nina Hertiwi Putri

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Inversio uteri atau rahim terbalik bisa terjadi pada ibu yang baru melahirkan

Inversio uteri adalah kondisi rahim terbalik yang termasuk sebagai kompikasi pascapersalinan

Table of Content

  • Apa itu inversio uteri?
  • Penyebab inversio uteri
  • Gejala yang muncul pada inversio uteri
  • Penanganan inversio uteri

Persalinan merupakan proses yang kompleks dan bagi beberapa ibu, tahapan ini bisa berubah jadi sesuatu yang berisiko. Salah satu komplikasi yang bisa terjadi setelah proses persalinan adalah inversio uteri. Kondisi ini meski jarang terjadi, tapi bisa berbahaya bagi sang ibu.

Advertisement

Perempuan dengan kondisi inversio uteri saat proses persalinan, berisiko mengalami kematian akibat syok dan perdarahan yang hebat. Namun, selama kondisi ini diatasi secara cepat, maka risiko kematian bisa dihindari dan ibu maupun bayi bisa melewatinya dengan selamat.

Apa itu inversio uteri?

Inversio uteri adalah komplikasi persalinan serius yang berupa kondisi fundus yang sudah mencapai batas maksimal atau mencapai kavitas endometrium.

Dikutip dari penelitian, umumnya, pasien dengan kondisi inversio uterus datang setelah melahirkan, namun ada beberapa kasus, yang jarang terjadi, inversio uterus ini terjadi tanpa adanya persalinan.

Inversio uterus disebut juga kondisi rahim terbalik. Kondisi ini terjadi ketika bagian rahim atau uterus yang bernama fundus, yang seharusnya berada di bagian atas dekat dada, jadi terbalik menghadap bawah ke arah vagina. Pada beberapa kasus, bagian rahim tersebut ada yang ikut keluar dari leher rahim atau bahkan vagina saat persalinan.

Keparahan inversi dari rahim ini bisa dibagi menjadi beberapa tingkat, yaitu:

  • Inversi tidak komplit. Pada inversi ini, bagian atas rahim sudah rusak, tapi tidak ada bagian rahim yang keluar lewat serviks atau leher rahim.
  • Inversi komplet. Pada inversi ini, rahim benar-benar terbalik dan keluar sepenuhnya ke leher rahim.
  • Inversio prolapse. Pada inversi ini, bagian atas rahim sudah keluar lebih jauh hingga ke vagina.
  • Inversi total. Pada inversi ini, seluruh bagian rahim sudah di luar vagina.

Inversio uteri juga bisa dibedakan menjadi tiga sesuai dengan waktu terjadinya, yaitu:

  • Inversi akut. Kondisi ini terjadi dalam 24 jam setelah persalinan.
  • Inversi subakut. Inversi yang terjadi setelah 24 jam hingga satu bulan setelah persalinan.
  • Inversi kronis. Inversi yang terjadi satu bulan setelah persalinan.

Baca juga: Perdarahan Hingga Plasenta Tertahan, Ini 7 Tanda Bahaya Persalinan

Penyebab inversio uteri

Hingga saat ini, penyebab inversio uteri tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa hal yang diyakini bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini, seperti:

  • Tali pusar yang pendek
  • Persalinan berlangsung lebih dari 24 jam
  • Sudah pernah melahirkan sebelumnya
  • Penggunaan obat pelemas otot saat persalinan
  • Kelainan rahim sejak awal kehamilan
  • Rahim lemah
  • Riwayat inversio uteri
  • Adanya plasenta akreta, yang membuat plasenta tertanam terlalu dalam di dinding rahim
  • Plasenta menempel pada bagian atas rahim
  • Tenaga medis menarik tali pusat terlalu keras saat persalinan
  • Bayi tumbuh terlalu besar di dalam kandungan

Baca Juga

  • Mengenal Depresi Postpartum, Kondisi Stres Setelah Melahirkan yang Berbahaya
  • Mengenal Tahapan Pemeriksaan Leopold sebelum Persalinan dan Fungsinya
  • Penyebab Perut Sakit Setelah Melahirkan dan Cara Mengatasinya

Gejala yang muncul pada inversio uteri

Sebelum muncul, inversio uteri bisa menimbulkan beberapa gejala dan tanda yang bisa dirasakan ibu, antara lain:

  • Benjolan yang keluar dari vagina
  • Perdarahan hebat
  • Pusing
  • Keringat dingin
  • Lemas
  • Napas pendek-pendek
  • Jantung berdetak lebih kencang dari normal

Dokter juga bisa mendiagnosis seseorang mengalami kondisi ini saat rahimnya terasa tidak berada di tempat yang seharusnya dan turunnya tekanan darah secara drastis. Sehingga, apabila Anda merasakan gejala-gejala di atas, segera panggil dokter.

Oleh karena itu selama kehamilan, terutama jika disertai kondisi inversio uteri kronis, Anda perlu mengenali gejala-gejala di atas dan langsung memeriksakan diri ke dokter.

Baca juga: Perdarahan Uterus Abnormal, Perdarahan Vagina yang Tak Boleh Diabaikan

Penanganan inversio uteri

Karena ibu yang mengalami kondisi ini umumnya mengalami perdarahan hebat, maka untuk penanganan pertama, pemberian infus dan transfusi darah sangatlah krusial.

Kedua langkah ini dilakukan untuk segera mengganti cairan yang hilang berlebihan agar ibu tidak mengalami syok hipovolemik, sekaligus mengatasi hipotensi atau tekanan darah rendah yang terjadi.

Setelah itu, dokter akan langsung melakukan usaha untuk mereposisi atau membenarkan posisi rahim. Sebelum reposisi dilakukan, dokter mungkin akan memberikan anestesi atau bius total pada ibu.

Reposisi rahim sendiri bisa dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

1. Reposisi manual

Tindakan reposisi umumnya akan dilakukan secara manual. Dokter mendorong balik rahim yang keluar lewat leher rahim agar bisa kembali masuk. Setelah reposisi selesai dilakukan, dokter akan memberikan obat seperti oxytocin dan methylergonovine untuk membantu rahim berkontraksi dan mencegahnya kembali terbalik.

Lalu, dokter maupun perawat akan memijat rahim hingga organ tersebut benar-benar berkontraksi dan perdarahan berhenti.

Selain infus dan transfusi darah, wanita yang mengalami inversio uteri juga biasanya akan mendapatkan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi.

2. Reposisi dengan alat

Selain melakukannya secara manual, dokter juga dapat menggunakan alat yang berbentuk seperti balon ditambah dengan alat yang akan mengeluarkan tekanan dengan tenaga air.

Balon tersebut akan ditempatkan di dalam area rahim dan dialiri oleh cairan salin untuk mendorong rahim bergerak kembali ke posisi normal.

3. Operasi

Apabila kedua cara di atas belum bisa untuk mengembalikan posisi rahim, maka dokter akan melakukan operasi untuk mengatasi kondisi ini.

Inversio uteri memang termasuk komplikasi parah yang harus ditangani secepat mungkin. Namun, tingkat kesembuhan setelah dilakukan perawatan pada kondisi ini pun cukup tinggi.

Sehingga, apabila Anda merasakan gejala atau tanda yang mirip dengan yang telah disebutkan di atas, segera periksakan diri ke dokter.

Jika ingin berkonsultasi langsung pada dokter, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.

Advertisement

persalinanpenyakit rahimpenyakit komplikasi

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved