Waspadai Cacar Air pada Ibu Hamil yang Juga Dapat Membahayakan Janin

Cacar air pada ibu hamil yang terjadi beberapa hari sebelum persalinan dapat menyebabkan komplikasi pada bayi
Jika ibu hamil terkena cacar air, maka ibu harus menjalani pemeriksaan USG untuk memeriksa apakah ada masalah pada janin

Meski umumnya dialami oleh anak-anak, namun cacar air juga dapat terjadi pada ibu hamil. Cacar air pada ibu hamil tak boleh dianggap sepele karena bisa memicu terjadinya komplikasi pada ibu maupun janin. Cacar air atau varicella adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan timbulnya ruam kecil kemerahan disertai dengan demam dan nyeri pada tubuh. 

Cacar air menimbulkan lesi di kulit dengan ciri bintil berair yang terasa gatal dan diawali dengan demam. 

Penyebab cacar air pada ibu hamil

Cacar air disebabkan oleh virus varicella zoster yang sangat menular dan dapat dengan mudah menyebar dari orang ke orang. Ibu hamil dapat tertular virus ini melalui kontak langsung dengan droplet atau ruam dari penderita cacar air. Bahkan permukaan yang telah terkontaminasi oleh droplet tersebut juga bisa membuat Anda tertular.

Akan tetapi, bagi ibu hamil yang sudah pernah mengalami cacar air, maka sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan antibodi untuk melawan virus tersebut sehingga kemungkinan untuk tertular lagi sangatlah kecil. Selain itu, vaksin cacar air juga dapat melindungi Anda dari infeksi virus tersebut. 

Hal ini membuat sangat sedikitnya ibu hamil yang terkena cacar air, bahkan diperkirakan hanya ada 1-5 kasus dari setiap 10 ribu kehamilan. Jadi, ibu hamil yang belum memiliki kekebalan terhadap virus varicella zoster lebih mungkin terkena penyakit cacar air.

Dampak cacar air pada ibu hamil

Di antara ibu hamil yang belum memiliki kekebalan terhadap cacar air, penyakit tersebut bisa menyebabkan komplikasi. Sekitar 10-20% ibu hamil yang terkena infeksi dapat mengalami varicella pneumonia. Risiko terkena pneumonia akan menjadi lebih tinggi jika Anda seorang perokok atau terkena cacar air di trimester ketiga. 

Komplikasi tersebut terkait dengan tingkat kelahiran prematur yang lebih tinggi. Sementara, berdasarkan data yang terbatas cacar air belum terbukti dapat meningkatkan risiko keguguran pada ibu hamil. Meski begitu, bukan hanya pada ibu hamil komplikasi juga dapat terjadi pada janin.

Risiko komplikasi pada janin akan bergantung pada usia kehamilan ibu saat terkena penyakit tersebut. Jika usia kehamilan berada di antara minggu ke-8 hingga ke-20, maka janin memiliki sedikit risiko cacat lahir langka yang disebut sebagai sindrom varicella bawaan. Bayi yang terkena sindrom ini akan mengalami kelainan pada mata, otak, pencernaan atau anggota gerak, serta terbentuknya jaringan parut pada kulit. 

Sementara, paparan pada paruh kedua kehamilan umumnya tak akan menyebabkan cacat lahir. Akan tetapi, jika cacar air pada ibu hamil terjadi selama beberapa hari sebelum melahirkan hingga 48 jam pasca-persalinan, maka bayi kemungkinan akan dilahirkan dengan infeksi neonatal varicella yang berpotensi mengancam jiwa.

Jika ibu hamil terkena cacar air, maka ibu harus menjalani pemeriksaan USG terperinci untuk memeriksa tanda-tanda kecacatan atau masalah lain yang mungkin terjadi. Kemudian, akan dilakukan pula USG lanjutan untuk memastikan kondisi janin.

Mengatasi cacar air pada ibu hamil

Jika Anda tidak tahu apakah diri Anda kebal terhadap cacar air atau tidak, maka lakukanlah tes darah untuk memastikannya. Sementara, bagi ibu hamil yang belum pernah terkena cacar air dan melakukan kontak langsung dengan penderita cacar, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

Dokter akan memberi suntikan imunoglobulin untuk mengurangi kemungkinan parahnya infeksi dan komplikasi yang serius. Suntikan tersebut dapat diberikan maksimal 10 hari setelah terpapar virus cacar.  Gejala cacar air umumnya akan muncul 10-21 hari setelah terjadinya paparan.

Ketika gejala sudah muncul, dokter akan meresepkan obat antivirus untuk meredakannya. Bagi ibu hamil yang tiba-tiba mengalami pneumonia, segera cari bantuan darurat karena kondisi tersebut dapat memburuk dengan cepat.

Dokter juga akan memberi suntikan imunoglobulin pada bayi yang baru dilahirkan oleh ibu penderita cacar air untuk mencegah maupun mengurangi risiko keparahan penyakit. Jika bayi menunjukkan gejala infeksi, maka si Kecil pun akan diberi obat antivirus secara intravena. Hal tersebut dilakukan guna menunjang kesehatan ibu maupun bayi.

Sementara, bagi Anda yang belum pernah terkena cacar air dan merencanakan kehamilan, konsultasikan terlebih dahulu pada dokter untuk mendapat vaksin cacar air. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyarankan para wanita menunggu selama sebulan setelah mendapat vaksin cacar air jika ingin melakukan program hamil. Jadi, janganlah menganggap sepele penyakit ini dan terus jaga kesehatan dengan baik.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/expert-answers/chickenpox-and-pregnancy/faq-20057886
Diakses pada 06 Mei 2020

Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/chickenpox-during-pregnancy-miscarriage-2371421
Diakses pada 06 Mei 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/pregnancy/infections-varicella-zoster
Diakses pada 06 Mei 2020

Baby Center. https://www.babycenter.com/0_chicken-pox-during-pregnancy_9329.bc
Diakses pada 06 Mei 2020

Artikel Terkait