Waspada Tulang Retak, Olahraga Tertentu Bisa Menjadi Penyebabnya!

Tangani tulang retak dan patah kaki dengan membalut menggunakan perban
Penanganan tulang retak yang tepat akan menghindarkan penderita dari komplikasi yang lebih parah

Memulai kebiasaan untuk aktif bergerak tentu menjadi langkah baik untuk menjaga kesehatan. Tapi ingat, Anda tidak boleh sembarangan langsung berolahraga dengan intensitas tinggi. Bukannya sehat, risiko cedera bisa mengincar Anda. Misalnya, keseleo, tulang retak, hingga patah kaki ketika Anda berlari kencang atau melompat.

Sajian tulisan ini akan fokus pada pembahasan tulang retak, yang dikenal dengan istilah hairline fracture atau stress fracture. Sesuai namanya, kondisi ini merujuk pada keretakan yang terjadi akibat stress atau tekanan yang dibebankan pada tulang.

[[artikel-terkait]]

Apa penyebab tulang retak?

Keretakan pada tulang paling banyak terjadi di bagian kaki dan pergelangan kaki, akibat aktivitas yang repetitif dan terlalu sering digunakan. Walau begitu, tulang di tubuh bagian atas pun dapat mengalaminya kondisi ini. Penyebabnya yang umum adalah jatuh atau kecelakaan.

Selain itu, ada pula faktor-faktor lain yang meningkatkan kemungkinan tulang retak. Beberapa faktor risiko tersebut meliputi:

1. Perubahan mendadak pada intensitas, frekuensi, durasi, dan jenis aktivitas fisik. Sama seperti tubuh, tulang juga butuh proses adaptasi agar tidak cedera. Oleh karena itu, lakukan perubahan secara bertahap.

2. Pernah mengalami keretakan tulang. Sekali menderita tulang yang retak, risiko Anda untuk kembali mengalaminya akan meningkat.

3. Jenis olahraga tertentu.Tulang retak rentan terjadi pada orang-orang yang aktif berolahraga tertentu, seperti basket, tenis, sepak bola, hoki, dan senam. Demikian pula dengan kegiatan menari, misalnya balet.

4. Struktur kaki, misalnya telapak kaki yang sangat datar (flat foot).

5. Masalah pada alas kaki, contohnya sepatu yang sudah aus atau tidak sesuai dengan jenis kegiatan.

6. Gangguan pada tulang. Kondisi medis tertentu bisa memengaruhi kondisi tulang dan meningkatkan risiko keretakan, misalnya osteoporosis yang dapat membuat kepadatan tulang menurun, sehingga tulang Anda menjadi rapuh.

7. Jenis kelamin. Wanita memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena tulang retak.

8. Kekurangan nutrisi. Tulang retak juga lebih rentan terjadi jika asupan nutrisi Anda tidak terjaga dengan baik, misalnya kekurangan vitamin D dan kalsium.

Gejala pada tulang retak

Gejala utama yang pertama terasa biasanya adalah rasa nyeri. Sensasi ini akan bertambah parah apabila Anda melakukan aktivitas tertentu yang membebani tulang.

Rasa sakit juga bisa berkurang pada saat beristirahat, namun kembali muncul dan semakin parah selama Anda menjalani rutinitas sehari-hari. Di samping rasa sakit, pembengkakan pada area tulang yang mengalami keretakan dan memar pun bisa terjadi.

Bila Anda mengalami gejala-gejala tersebut, periksakan dan konsultasikan ke dokter. Jangan menunggu hingga kondisi Anda bertambah buruk.

Bagaimana cara menangani tulang retak?

Setelah mendiagnosis keretakan tulang yang terjadi, dokter dapat menentukan penanganan yang sesuai dengan tingkat keparahan kondisi tulang Anda. Berikut sejumlah langkah perawatan yang bisa dianjurkan:

1. Penanganan tanpa pembedahan

Sebagai tindakan dasar, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan metode RICE. Cara ini bisa Anda lakukan di rumah. Apa sebenarnya metode RICE ini?

Rest atau beristirahat

Anda perlu mengistirahatkan atau menghindari penggunaan area tulang yang retak. Langkah ini akan mempercepat proses penyembuhan.

Ice atau kompres es

Hawa dingin dari es dapat membantu untuk mengurangi nyeri yang disebabkan oleh tulang retak. Tapi ingatlah jangan menempelkan es secara langsung pada kulit. Kenapa?

Pasalnya, es batu yang ditempelkan langsung ke kulit bisa memicu radang dingin atau frosbite. Anda sebaiknya menggunakan kompres dari es batu yang telah dilapisi kain atau handuk.

Compression atau tekanan

Bebat bagian nyeri dengan perban khusus, namun jangan terlalu ketat karena dapat mengganggu aliran darah. Jika kulit tampak kebiruan atau terasa dingin, lepaskan lilitan perban.

Elevation atau mengangkat bagian yang terasa nyeri

Anda perlu mengangkat bagian tubuh yang terasa nyeri akibat tulang retak agar lebih tinggi dari posisi jantung. Langkah ini akanmengurangi rasa nyeri dan bengkak.

Sebagai contoh, bila tulang yang retak terjadi pada kaki, letakkan kaki yang cedera di atas bantal ketika Anda berbaring sehingga posisinya lebih tinggi posisi jantung Anda.

Selain metode RICE, dokter mungkin juga akan menyarankan Anda untuk meminum obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen, aspirin, atau naproxen. Obat ini bisa Anda beli secara bebas ataupun dengan resep dokter.

Apabila diperlukan, Anda juga bisa dianjurkan memakai splint atau gips. Tujuannya adalah agar bagian tulang yang retak tidak terlalu banyak bergerak.

Pemulihan tulang retak umumnya akan membutuhkan waktu sekitar enam hingga delapan minggu. Selama masa ini, hindari aktivitas yang berat supaya pemulihan berjalan lancar.

2. Tindakan pembedahan

Beberapa kasus tulang retak mungkin saja memerlukan pembedahan sebagai langkan penanganan. Tindakan ini biasanya dilakukan pada kejadian di mana tulang yang retak terjadi pada area dengan aliran darah yang kurang memadai.

Setelah sembuh, jagalah agar tulang retak tidak terjadi lagi. Misalnya, menghindari olahraga yang tinggi risiko cedera, perubahan mendadak pada intensitas aktivitas fisik.

Jika Anda ingin memulai olahraga, lakukanlah dengan perlahan-lahan dan secara bertahap. Pastikan pula Anda mencukupi asupan gizi, terutama kalsium dan vitamin D.

Artikel Terkait

Banner Telemed