Obesitas pada anak dapat ditandai dengan perut membuncit dan baju yang tidak muat
Baju yang tidak muat karena perut semakin membuncit bisa jadi tanda obesitas pada anak

Anak yang gemuk memang tampak menggemaskan, tapi orangtua patut waspada ketika gemuk sudah berubah menjadi obesitas. Pasalnya, obesitas pada anak akan membuat si kecil lebih rentan terkena berbagai masalah kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut obesitas pada anak adalah salah satu tantangan kesehatan yang paling serius di abad 21 ini. Tercatat pada 2016, jumlah anak yang menderita obesitas berjumlah lebih dari 41 juta anak dengan hampir setengahnya berada di Asia.

Tidak semua anak yang terlihat besar berarti menderita obesitas. Untuk mengetahui anak obesitas atau tidak, Anda dapat meminta bantuan dokter untuk melakukan pengecekan menggunakan grafik pertumbuhan, perhitungan indeks massa tubuh, dan bila perlu menjalani tes lain sesuai kondisi anak.

Mengapa obesitas pada anak dapat terjadi?

Di Indonesia, salah satu kasus obesitas anak yang paling banyak disorot adalah kasus Arya Permana yang sempat memiliki bobot 192 kg saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Arya mengaku bisa mengalami obesitas karena porsi makan berlebihan.

Secara garis besar, obesitas pada anak memang disebabkan oleh terlalu banyaknya konsumsi kalori dan makanan yang mengandung lemak oleh anak tersebut. Di sisi lain, kurangnya aktivitas fisik si Kecil juga sangat memengaruhi kondisi mereka hingga menjadi obesitas.

Meskipun demikian, ada beberapa penyebab dan faktor risiko lainnya yang dapat menciptakan obesitas pada anak, yaitu:

  • Faktor keturunan

Anak yang lahir dari keluarga penyandang obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama. Hal ini juga banyak dipengaruhi oleh kebiasaan dalam keluarga yang senang mengonsumsi makanan tinggi kalori dan tidak diimbangi dengan semangat melakukan banyak aktivitas fisik.

  • Faktor psikologis

Anak yang memiliki masalah psikis akan menjadikan makanan sebagai pelarian. Ia bisa makan tanpa henti ketika merasa stres atau bosan. Jika orangtua tidak mencegahnya, maka ia berpotensi besar mengalami obesitas.

  • Faktor sosioekonomi

Dalam beberapa kalangan masyarakat, orangtua kerap memberikan anak makanan siap saji, makanan beku, mie instan, atau biskuit yang praktis didapat dan tidak cepat basi. Perilaku ini juga bisa didukung oleh ketidaktahuan orangtua bahwa makanan-makanan tersebut justru dapat meningkatkan potensi obesitas pada anak.

Biasanya, obesitas terjadi karena gabungan beberapa faktor. Ketika bobot anak sudah meningkat drastis dan divonis obesitas, maka saat itulah ia memiliki risiko terkena dampak obesitas bagi kesehatan yang sangat berbahaya.

Apa saja dampak obesitas pada anak?

Dampak obesitas pada anak dapat terjadi dalam jangka pendek maupun panjang. Masalah kesehatan yang mungkin terlihat dalam jangka pendek, antara lain:

  • Tekanan darah dan kolesterol tinggi yang kemudian akan membuat anak rentan terkena penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung atau stroke
  • Resistensi insulin yang mengarah pada diabetes tipe 2
  • Masalah pernapasan, seperti asma dan henti napas ketika tidur (sleep apnea)
  • Masalah persendian, seperti nyeri saat bergerak
  • Pembengkakan hati, batu ginjal, hingga penyakit GERD.

Dari segi psikologis, dampak obesitas juga dapat membuat anak mengalami kecemasan hingga depresi. Selain itu, anak juga akan memiliki kepercayaan diri rendah karena mengalami perundungan dan stigma sebagai anak yang obesitas.

Obesitas pada anak sangat erat hubungannya dengan disabilitas hingga kematian dini pada anak. Ketika anak divonis obesitas, kondisi itu biasanya menetap hingga ia dewasa sehingga membatasi ruang gerak anak dan membuatnya menderita penyakit kronis di usia dini.

Dalam beberapa kasus, beberapa penyakit baru muncul saat anak beranjak remaja, seperti:

  • Penyakit kardiovaskular, terutama sakit jantung dan stroke
  • Diabetes
  • Kelainan muskuloskeletal, terutama osteoartritis
  • Beberapa tipe kanker, seperti kanker payudara, usus besar, dan endometrium.

Pencegahan obesitas pada anak

Ketika anak sudah obesitas, perlu waktu lama baginya untuk mengembalikan bobot tubuh idealnya. Oleh karena itu, WHO lebih menyarankan orangtua dan lingkungan sekitar untuk mengusahakan upaya pencegahan obesitas pada anak.

Rekomendasi umum WHO dalam pencegahan obesitas pada anak, yakni:

  • Meningkatkan konsumsi buah dan sayur, kacang-kacangan, serta makanan sehat lainnya
  • Membatasi konsumsi makanan yang kaya akan lemak jenuh dan menggantinya dengan lemak tak jenuh
  • Mengurangi konsumsi gula, baik pada makanan maupun minuman manis
  • Membuat anak lebih aktif bergerak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membantu para orangtua di Indonesia untuk menghindari obesitas dengan panduan makanan anak yang disebut dengan traffic light diet.

Green/hijau adalah makanan yang boleh dimakan setiap hari, contohnya buah dan sayur, daging tanpa lemak, ikan, kacang-kacangan, roti gandum, susu rendah lemak, dan air.

Yellow/kuning makanan yang boleh dikonsumsi dalam porsi kecil, tetapi boleh untuk dikonsumsi setiap hari, yakni daging olahan rendah lemak dan garam, produk roti dan sereal olahan, susu tinggi lemak, serta kue dan biskuit rendah lemak dan gula.

Red/merah adalah makanan yang hanya boleh dimakan sekali seminggu, yang terdiri dari makanan yang mengandung rendah vitamin dan mineral tetapi tinggi kalori. Contohnya meliputi lemak jenuh, gula dan garam, gorengan, daging olahan tinggi lemak, kue, minuman manis, serta cokelat.

Beberapa penelitian juga menunjukkan pencegahan obesitas dapat dimulai sejak bayi dengan memberikan ASI eksklusif. Membebaskan bayi dalam menyusu secara langsung disebut mengajarkan pada anak untuk mengenali rasa lapar dan rasa kenyang.

Pada anak yang memiliki risiko obesitas, orangtua juga harus memerhatikan cara pemberian makan pada anak. Hindari kebiasaan menyuapi anak sambil bermain atau menonton televisi karena dikhawatirkan membuatnya melampiaskan emosi dengan makan sehingga asupan kalorinya tidak terkontrol dan mengakibatkan obesitas pada anak.

WHO. https://www.who.int/dietphysicalactivity/childhood/en/
Diakses pada 20 Februari 2020

WHO. https://www.who.int/dietphysicalactivity/childhood_consequences/en/
Diakses pada 20 Februari 2020

WHO. https://www.who.int/dietphysicalactivity/childhood_what_can_be_done/en/
Diakses pada 20 Februari 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/childhood-obesity/symptoms-causes/syc-20354827
Diakses pada 20 Februari 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4408699/
Diakses pada 20 Februari 2020

CDC. https://www.cdc.gov/obesity/childhood/causes.html
Diakses pada 20 Februari 2020

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/obesitas-pada-anak
Diakses pada 20 Februari 2020

Tribunnews. https://sumsel.tribunnews.com/2019/01/24/ternyata-ini-penyebab-arya-permana-alami-obesitas-konsumsi-makanan-dan-minuman-ini-tiap-hari?page=2
Diakses pada 20 Februari 2020

Artikel Terkait