Waspada, Malaria Kebal Obat Menyebar di Asia Tenggara

Jenis parasit malaria kebal obat yang menyebar di Asia Tenggara
Jenis parasit malaria yang kebal obat dan menyebar di Asia Tenggara, merupakan turunan parasit Plasmodium falciparum

Dunia saat ini dihebohkan dengan studi terbaru mengenai malaria, yang baru saja dirilis pada 22 Juli 2019 kemarin. Studi tersebut melaporkan, malaria yang kebal terhadap obat, telah menyebar di sejumlah kawasan Asia Tenggara.

Temuan ini tentunya menghebohkan. Sebab, fenomena malaria kebal obat, dapat mengancam upaya negara-negara, dalam memerangi penyakit ini. Malaria sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis parasit, yang masuk ke darah melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Infeksi malaria berbahaya karena dapat berujung pada kegagalan fungsi organ tubuh, bahkan kematian.

[[artikel-terkait]]

Mengapa bisa muncul parasit malaria kebal obat?

Dalam artikel terbaru yang dimuat dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases tersebut, dikatakan bahwa jenis parasit penyebab malaria kebal obat yang memiliki kode KEL1/PLA1 ini, merupakan turunan dari Plasmodium falciparum.

Plasmodium falciparum memang dikenal sebagai salah satu parasit malaria yang paling mengancam, bersama dengan Plasmodium vivax.

Kasus malaria kebal obat ini, awalnya berkembang dari Kamboja. Namun, hingga penemuan ini dirilis, KEL1/PLA1 telah menyebar ke Laos, Thailand, dan Vietnam. Penelitian dilakukan dengan menganalisis sampel darah dari pasien malaria, yang berasal negara-negara tersebut (termasuk Kamboja), selama 2007-2018.

Hal lain yang perlu digarisbawahi dari studi tersebut, yakni KEL1/PLA1 yang menjadi beragam dan membentuk jenis baru, karena perangkat gen parasitnya telah bermutasi. Berbagai upaya untuk memeranginya pun diperlukan, termasuk menghadapi mutasi gen pada KEL1/PLA1.

Gejala malaria yang harus diketahui

Adanya temuan penelitian tersebut, tentu mengancam keberhasilan pemberantasan infeksi malaria. Terlebih, infeksi malaria dapat menimbulkan kematian. Pada 2017, infeksi malaria telah mengakibatkan 435 ribu kematian di seluruh dunia.

Malaria disebabkan oleh beberapa jenis parasit, yang dimasukkan ke darah oleh nyamuk Anopheles sebagai vektor. Parasit Plasmodium falciparum, yang turunannya disebut-sebut kebal terhadap obat, merupakan salah satu jenis yang berbahaya. Sebab, malaria jenis ini dapat menimbulkan gangguan pernapasan dan kegagalan fungsi organ tubuh, seperti hati dan ginjal.

Jika seseorang terinfeksi malaria, ada beberapa gejala untuk mengenalinya. Gejala tersebut berupa:

Gejala malaria umumnya muncul antara 7-18 hari, setelah infeksi terjadi. Walau begitu, pada beberapa kasus, tanda-tanda malaria baru muncul setelah satu tahun.

Ada beberapa kelompok yang lebih rentan untuk terinfeksi malaria. Kelompok-kelompok tersebut yakni bayi, anak-anak di bawah umur lima tahun, ibu hamil, individu dengan HIV dan AIDS, serta orang yang sering bepergian, terutama ke wilayah dengan kasus malaria yang tinggi.

Bagaimana dengan kasus malaria di Indonesia?

Daerah-daerah di Afrika Sub-Sahara merupakan kawasan yang memiliki kasus malaria paling tinggi. Kawasan berikutnya yang juga mengalami banyak kasus malaria adalah Asia Tenggara, Pasifik Barat, Mediterania arah timur, serta Amerika. Hingga tahun 2017, sejumlah 87 negara masih berkutat menghadapi infeksi malaria. Indonesia adalah salah satunya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, Papua merupakan daerah yang masih menunjukkan adanya peningkatan kasus malaria, walau infeksi malaria di luar Papua memperlihatkan penurunan. Kasus di Papua menyumbang 79% infeksi malaria di Indonesia, pada 2018.

Hingga tahun lalu, kematian akibat malaria masih dilaporkan di Indonesia, walau trennya menunjukkan adanya penurunan. Ada 34 kasus kematian akibat malaria, yang terjadi sepanjang 2018.

Cegah malaria mulai dari keluarga

Mencegah suatu penyakit, tentunya lebih baik daripada mengobatinya, termasuk untuk malaria. Bukan tidak mungkin, parasit malaria kebal obat ini juga menyebar ke Indonesia.

Berikut ini cara dan langkah yang bisa Anda lakukan.

  • Memasang kelambu di tempat tidur. Kementerian Kesehatan RI juga telah membagikan kelambu berinsektisida ke berbagai wilayah di Indonesia.
  • Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk.
  • Meminum obat pencegah malaria, saat bepergian ke daerah dengan kasus malaria yang tinggi. Contoh obat yang dapat dikonsumsi yakni obat doxycyline.

Vaksinasi malaria menjadi harapan baru, untuk dapat mencegah infeksi malaria. Vaksin ini tengah dikembangkan, dan baru saja diujicobakan di beberapa negara di Afrika, pada bulan April 2019.

Sembari menunggu vaksin malaria tersebut, Anda dapat mencegah infeksi malaria, mulai dari lingkup keluarga, dengan cara-cara di atas. Pencegahan malaria ini difokuskan pada upaya untuk menghalau nyamuk, yang berperan sebagai vektor atau pembawa penyakit ini.

The Lancet Infectious Diseases. https://www.thelancet.com/journals/laninf/article/PIIS1473-3099(19)30392-5/fulltext
Diakses pada 24 Juli 2019

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Situasi Terkini Perkembangan Program Pengendalian Malaria di Indonesia Tahun 2018. [pdf]

World Health Organization. https://www.who.int/news-room/detail/23-04-2019-malaria-vaccine-pilot-launched-in-malawi
Diakses pada 24 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed