Serangan jantung saat berlari dapat terjadi secara tiba-tiba
Ilustrasi serangan jantung yang terjadi saat berlari

Sudah bukan rahasia lagi jika manfaat lari sangat baik untuk kesehatan jantung. Salah satu jenis olahraga aerobik ini diyakini dapat memperkuat jantung sehingga mampu memompa lebih banyak oksigen ke seluruh tubuh. Dengan ini, jantung pun dapat bekerja lebih efisien.

Namun, bagi Anda yang memiliki riwayat penyakit jantung, sebaiknya perlu berhati-hati. Pasalnya, pelari yang memiliki riwayat penyakit jantung bisa saja mengalami risiko serangan jantung saat berlari.

Manfaat lari untuk kesehatan jantung

Manfaat lari untuk kesehatan jantung memang tidak perlu diragukan lagi. Manfaat lari untuk kesehatan jantung adalah membantu menurunkan kolesterol jahat dan menurunkan tekanan darah.

Selain itu, sejumlah studi yang telah dilakukan menyebutkan bahwa para pelari, terutama pelari jarak jauh atau maraton, memiliki kondisi jantung yang lebih besar, tebal, dan efisien dalam memompa darah dibandingkan orang-orang yang tidak aktif bergerak (sedentary lifestyle).

Akan tetapi, Anda tidak perlu berlari maraton setiap hari untuk meningkatkan kesehatan jantung. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of American College of Cardiology menyebutkan bahwa lari 30-59 menit per minggu dapat menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler sebesar 58 persen dibandingkan orang-orang yang tidak berlari sama sekali.

Risiko serangan jantung saat berlari

Anda mungkin seringkali mendengar pelari mengalami serangan jantung saat berlari, hingga ada yang berujung pada kematian. Nyatanya olahraga ketahanan (endurance training), seperti lari jarak jauh, memang berisiko menimbulkan gangguan pada jantung.

Hal tersebut disebabkan oleh olahraga lari yang dilakukan secara berlebihan dapat meningkatkan radikal bebas dalam tubuh sehingga mengikat kolesterol dan menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah jantung.

Selain itu, dehidrasi dan gangguan elektrolit akibat lari jarak jauh juga dapat menimbulkan gangguan irama jantung.

Ada pula kondisi yang disebut kardiomiopati hipertrofi, yakni kelainan jantung akibat faktor genetik yang menyebabkan otot jantung (miokardium) menebal dengan tidak normal.

Otot jantung yang menebal ini dapat menyebabkan jantung jadi sulit memompa darah. Kondisi tersebut dapat terjadi pada siapa pun, termasuk orang-orang yang usianya masih tergolong muda.

Kenali gejala gangguan serangan jantung saat berlari

Pastikan Anda memperhatikan kondisi tubuh Anda saat berlari. Segera hentikan olahraga dan cari pertolongan medis apabila Anda mengenali gejala gangguan serangan jantung, seperti:

1. Nyeri dada

Salah satu gejala gangguan serangan jantung saat berlari yang paling umum terjadi adalah nyeri dada. Ya, banyak orang yang mengalami nyeri dada secara tiba-tiba sebagai salah satu gejala serangan jantung yang utama.

Namun, tak sedikit pula yang mengalami rasa tidak nyaman ringan, tertekan, atau sesak pada area dada.

Nyeri dada dapat menjalar ke bagian lengan, punggung, leher, rahang, atau perut. Selain dada, rasa tidak nyaman atau sakit juga bisa muncul atau menjalar pada lengan, punggung, leher, rahang, atau perut.

Anda bisa pula mengalami rasa tidak nyaman yang berpindah dari satu bagian tubuh ke area tubuh lainnya, seperti dari dada ke rahang, atau leher ke bahu, lengan, atau punggung.

Nah, jika kondisi ini yang Anda dalami saat berlari, segera hentikan olahraga dan cari pertolongan medis.

2. Sesak napas

Gejala serangan jantung saat berlari berikutnya adalah sesak napas. Sesak napas dapat terjadi sebelum nyeri dada atau mungkin terjadi begitu saja tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman pada area dada Anda sebelumnya.

3. Denyut jantung berdebar cepat atau tidak teratur

Sensasi denyut jantung berdebar cepat atau tidak teratur juga menjadi salah satu gejala penyakit yang berkaitan dengan jantung. Oleh karena itu, segera cari pertolongan medis apabila Anda merasa denyut jantung tidak teratur saat tengah berolahraga atau berlari.

4. Keringat dingin

Keringat dingin adalah salah satu gejala serangan jantung saat berlari. Kondisi juga dapat disertai dengan rasa mual.

5. Merasa ingin pingsan

Pada gejala yang cukup parah, berolahraga atau berlari dapat membuat Anda merasa lelah, pusing, sehingga merasa ingin pingsan. Jika Anda mengalami gejala serangan jantung saat berlari ini, maka segera hentikan olahraga.

Tips aman untuk mencegah serangan jantung saat berlari

Pemeriksaan EKG
Pemeriksaan EKG mungkin perlu dilakukan sebelum rutin lari

Bagi Anda yang memiliki riwayat penyakit jantung, ada beberapa tips aman yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan jantung saat berlari.

Jika Anda ingin rutin melakukan olahraga lari, khususnya lari jarak jauh, sebaiknya lakukan konsultasi dengan dokter spesialis jantung terlebih dahulu. Langkah ini bertujuan untuk  mengetahui faktor risiko penyakit jantung yang mungkin Anda alami serta mendiskusikan target latihan Anda.

Anda bisa saja melakukan pemeriksaan penunjang guna memastikan apakah Anda dalam kondisi yang aman untuk berlari atau tidak. Beberapa jenis pemeriksaan jantung yang mungkin direkomendasikan oleh dokter Anda adalah:

  • Pemeriksaan fisik
  • Pengukuran tekanan darah
  • Pemeriksaan penunjang, seperti elektrokardiografi (EKG), treadmill, dan ekokardiografi.

Saat melakukan konsultasi, beri tahu dokter bila Anda pernah mengalami gejala penyakit yang berhubungan dengan masalah jantung saat berolahraga atau berlari, seperti nyeri dada, sesak napas, dan gangguan irama jantung.

Selain itu, informasikan kepada dokter jika Anda memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit jantung. Dengan ini, Anda pun dapat melakukan olahraga dengan aman dan nyaman serta terhindar dari kondisi serangan jantung saat berlari.

Narasumber:
dr. Emile T.H. Parapat, Sp.JP
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah
OMNI Hospitals Alam Sutera

OMNI Hospitals Alam Sutera

Healthline. https://www.healthline.com/health/heart-disease/problems-during-exercise#call-
Diakses pada 29 Maret 2020

Artikel Terkait