Memahami Waham, Gejala Psikotik yang Sering Dialami Pengidap Skizofrenia

(0)
Waham adalah gejala tanda gangguan jiwaWaham adalah gejala psikotik yang muncul pada skizofrenia
Waham adalah salah satu tanda yang bisa ditemukan pada pengidap skizofrenia. Menurut Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Riskesdas) 2018, jumlah prevalensi penderita skizofrenia di dalam rumah tangga adalah 7 permil. Artinya di dalam seribu rumah tangga, ada 7 rumah tangga yang memiliki anggota keluarga dengan skizofrenia.Skizofrenia adalah masalah kejiwaan yang membuat orang mengartikan kenyataan dengan cara yang tidak akurat. Menurut American Psychiatric Association, selain waham, pengidap skizofrenia juga mengalami halusinasi, kekacauan pikiran, bicara tidak teratur, kesulitan berpikir, dan kehilangan motivasi.Waham serupa dengan penyakit pada umumnya. Waham memiliki penyebab maupun gejalanya. Namun, sebelum mengerti lebih lanjut mengenai waham, kenali pengertian waham terlebih dahulu.

Apa itu waham?

Pengidap waham menutup mata dan bersikukuh dengan yang dianut
Waham adalah keyakinan keliru yang dianut penderita gangguan kejiwaan. Meski banyak bukti nyata yang menunjukkan adanya kesalahan, pengidap waham tetap bersikukuh bahwa apa yang dianut atau dipercayai itu benar.Menurut buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), waham adalah kepercayaan keliru dan dianut dengan kuat, yang diakibatkan kesalahan mengambil kesimpulan tentang kenyataan.Keyakinan mengawur ini dipegang teguh terlepas dari kenyataan dan apa yang diketahui pasti oleh hampir semua orang serta didukung bukti-bukti kuat yang tidak terbantahkan. Waham dapat dikategorikan sebagai gangguan psikotik, yaitu adanya kesulitan untuk mengenali dan membedakan kenyataan dan khayalan. 

Apa penyebab waham?

Waham memiliki faktor-faktor penyebabnya, sama seperti gangguan kesehatan pada umumnya. Secara umum, waham ditimbulkan akibat adanya faktor keturunan, kondisi otak, psikologis, dan lingkungan.

1. Genetik

Waham dipengaruhi oleh genetik
Penelitian yang diterbitkan pada jurnal American Journal of Medical Genetics memaparkan, waham ataupun gangguan psikotik pada umumnya bisa disebabkan akibat faktor genetik.Jika ada kerabat generasi pertama, seperti hubungan orang tua dan anak ataupun saudara kandung, maka hal tersebut merupakan faktor menetap penyebab munculnya risiko waham pada seseorang.

2. Kelainan pada otak

Kelainan pada otak mampu memicu waham
Penelitian yang dikemukakan pada jurnal CNS Neuroscience and Therapeutics menemukan, penderita waham memiliki kelainan pada otak. Kelainan yang ditunjukkan adalah adanya permasalahan pada interaksi di bagian otak tertentu. Selain itu, zat otak dopamin pun juga menunjukkan aktivitas yang abnormal pada penderita waham.Penyintas penyakit stroke juga mampu meningkatkan faktor penyebab waham. Sebab, stroke mampu merusak otak belahan kanan. Pada penelitian ini menunjukkan, waham muncul setelah adanya kerusakan otak bagian kanan.Waham pasca-stroke ini bisa muncul tanpa riwayat riwayat masalah kesadaran, seperti delirium ataupun gangguan intelektual, seperti demensia.

3.Trauma

Gejala PTSD akibat trauma meningkatkan risiko waham
Penelitian yang diterbitkan BMC Psychiatry menemukan fakta bahwa  orang yang memiliki trauma di masa lalu juga menyebabkan munculnya waham. Penelitian ini memaparkan, sebelum merasakan waham, mereka terlebih dahulu terdiagnosis dengan gangguan kejiwaan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).Penyintas trauma yang mengidap PTSD terus-menerus menunjukkan gejala tambahan, seperti gejala psikotik, seperti waham. Hal ini menyebabkan mereka mengidap PTSD dengan fitur Psikotik Sekunder (PTSD-SP). Waham yang kambuh biasanya berkaitan dengan trauma di masa lalu.

4. Lingkungan

Orang yang tinggal dan hidup dengan orang dengan waham juga rentan terkena risiko waham. Bahkan, hal ini menimbulkan fenomena shared psychotic disorders.Biasanya, hal ini kerap terjadi pada pasangan yang telah hidup bersama menahun. Namun, penderita shared psychotic disorders cenderung pasif.Bisa juga seseorang menderita waham jika berada di satu kelompok dengan pemimpin yang juga waham. Stres dan merasa terisolasi di lingkungan sosial pun menjadi pemicu shared psychotic disorder ini.

Bagaimana gejala waham?

Halusinasi adalah gejala yang kerap dijumpai pada waham
Waham memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali. Biasanya, tanda-tanda ini cukup khas dan bisa disadari, terutama orang lain di sekitarnya. Biasanya, waham bisa dikenali jika sudah berada pada fase gangguan waham menetap. Menurut  Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima, inilah gejala dari waham:
  • Halusinasi: merasakan sesuatu yang tidak nyata, tanpa adanya rangsangan dari luar, murni berasal dari perasaannya sendiri. Misalnya, seolah-olah mendengar sesuatu padahal di ruangan sedang hening. Biasanya, halusinasi tidak ada kaitannya dengan waham yang dirasakan.
  • Keyakinan yang salah, tetapi umum dijumpai (non-bizarre delusion), misalnya merasa dituduh, padahal tidak ada orang yang menuduh atau merasa dibuntuti oleh pihak berwajib (padahal tidak).
  • Perubahan mood, suasana hati berubah menjadi mudah marah, mudah tersinggung, atau tidak bersemangat.
Selain itu, dalam buku Schizophrenia and Related Disorders, gangguan waham menetap biasanya diikuti dengan delusi yang berkepanjangan, bahkan seumur hidup.Biasanya, diidap oleh orang dengan usia paruh baya ke atas. Dalam hal ini, orang dengan gangguan waham menetap memiliki pikiran dan perilaku yang terlihat normal, tetapi dalam menanggapi wahamnya, sikap dan tindakannya membahayakan.

Apa saja jenis waham?

Jenis waham cemburu
Waham ternyata memiliki tipe yang beragam. Hal ini dibedakan berdasarkan perasaan apa yang dipercaya oleh pengidap waham. Menurut  Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima, inilah jenis-jenis waham:

1. Waham erotomania

Penderita waham merasa jika ada orang lain yang mencintai dirinya. Biasanya, orang yang dianggap mencintai dirinya adalah orang dengan status lebih tinggi. Namun, bisa juga orang tidak dikenal.

2. Waham kebesaran

Penderita waham melebih-lebihkan kemampuannya, seolah-olah mereka memiliki bakat dan wawasan yang sangat mumpuni, atau bahkan merasa pernah membuat penemuan mutakhir. Ada juga yang merasa memiliki hubungan khusus dengan orang terkenal, tetapi ini jarang ditemui.

3. Waham cemburu

Penderita merasa pasangannya atau orang lain selalu berselingkuh atau tidak setia. Biasanya, mereka langsung membuat kesimpulan yang tidak tepat, yang didukung oleh bukti yang meleset, seperti menjumpai pakaian pasangan yang kusut sebagai tanda jika pasangannya pernah berselingkuh.

4. Waham curiga

Penderita biasanya merasa dihantui oleh ancaman, misalnya dimata-matai seseorang untuk dibunuh, merasa ada penguntit yang ingin meracun, atau menghalangi tujuan jangka panjangnya. Biasanya, mereka membesar-besarkan hal-hal yang dianggap melecehkan mereka.Bahkan, tak jarang, mereka kerap mengambil tindakan hukum berkali-kali. Penderita juga sering meluapkan kemarahan. Mereka bahkan juga melakukan tindak kekerasan terhadap orang yang dianggap menyakiti.

5. Waham somatik

Penderita seolah-olah merasakan sensasi tertentu pada tubuhnya. Bentuk waham yang paling umum dari waham somatik adalah mereka merasa tubuhnya mengeluarkan bau busuk.Selain itu, mereka merasa tubuh mereka terjangkit parasit atau serangga. Mereka juga menganggap tubuh mereka cacat atau jelek dan salah satu bagian tubuh tidak berfungsi.

Siapa yang lebih berisiko terkena waham?

Perasaan terisolasi membuat pengidap membuat khayalan
Waham lebih mudah dialami bagi beberapa orang tertentu. Dalam buku Delusional Disorder, orang yang merasa terkurung, iri, sinis dan tidak percaya, curiga, dan merasa harga dirinya rendah adalah faktor yang membuat seseorang rentan waham. Sebab, hal-hal tersebut membuat mereka membuat-buat atau mencari-cari penjelasan.Dalam hal ini, khayalanlah yang digunakan sebagai penjelasan. Ketika seseorang tidak bisa membedakan kenyataan dan khayalan, inilah yang membuat seseorang mengalami waham.Orang yang rentan terkena gangguan jiwa ini adalah orang yang terisolasi, seperti imigran dengan kendala bahasa atau penyandang difabel dengan gangguan pendengaran dan/atau penglihatan. Orang lanjut usia pun juga rentan terhadap waham.

Bagaimana cara menangani waham?

Obat-obatan membantu pemulihan waham
Penderita waham biasanya ditangani dengan kombinasi dua perawatan, yaitu obat-obatan dan psikoterapi, yang dijalankan bersamaan.Psikoterapi membuat pengidap mampu mengutarakan apa yang dirasakan dan memotivasi mereka agar bersikap lebih sehat.Terapi psikososial juga dipilih sebagai metode ampuh untuk mengatasi gangguan perilaku dan psikologis pada pengidap. Mereka belajar bagaimana mengontrol gejala, menyadari tanda-tanda dini saat kambuh, dan menyusun strategi untuk mencegah kambuh.Inilah beberapa terapi psikososial yang biasa digunakan untuk penderita waham:
  • Psikoterapi individu, berguna untuk mengenali dan memperbaiki pikiran yang tidak tepat.
  • Cognitive-behavioral therapy (CBT), pengidap belajar mengenali dan mengubah pola pikir dan perilaku yang mengarah kepada perasaan yang tidak tepat.
  • Terapi keluarga, keluarga turut berkontribusi membantu penderita waham.
Obat-obatan yang dipilih biasanya berupa:
  • Obat antipsikotik, bekerja dengan cara menghalang dopamin. Dopamin ini biasanya terlibat dalam munculnya waham.
  • Obat antipsikotik atipikal, tidak hanya menghalang dopamin, tetapi juga serotonin.
  • Antidepresan dan tranquilizer, tranquilizer digunakan untuk penderita waham yang memiliki kecemasan yang tinggi dan sulit tidur.  Antidepresan digunakan untuk mengatasi depresi yang sering muncul pada orang dengan waham.

Catatan dari SehatQ

Waham adalah gangguan kejiwaan yang membuat penderita meyakini sesuatu yang salah walaupun ada banyak bukti yang menyatakan jika apa yang dipercaya salah. Hal ini dikarenakan adanya kesalahan mengartikan dan mengambil kesimpulan yang berkaitan dengan kenyataan. Ada empat faktor penyebab waham, ada yang berasal dari diri sendiri hingga pengaruh dari luar.Waham pun memiliki jenis-jenisnya sendiri. Hal ini bergantung pada perasaan apa yang muncul yang paling dipercaya oleh pengidap waham.Selain memiliki faktor bawaan yang menyebabkan waham, ada pula orang-orang yang rentan terkena waham. Biasanya, orang-orang yang merasa terisolasi lah yang lebih mudah mengidap waham.Waham bisa diatasi dengan cara terapi psikologi dan obat-obatan. Keduanya harus beriringan hasilnya maksimal.Jika mengalami gejala-gejala di atas, segera konsultasi ke dokter spesialis kejiwaan.
kesehatan mentalmasalah kejiwaanpost traumatic stress disorder (PTSD)skizofrenia
Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf (Diakses pada 10 September 2020)Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443 (Diakses pada 10 September 2020)American Psychiatric Association. https://www.psychiatry.org/patients-families/schizophrenia/what-is-schizophrenia (Diakses pada 10 September 2020)Industrial Psychiatry Journal. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3016695/ (Diakses pada 10 September 2020) (Diakses pada 10 September 2020)Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3016695/ (Diakses pada 10 September 2020)Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/delusional-disorder-a-to-z (Diakses pada 10 September 2020)American Journal of Medical Genetics. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/ajmg.b.32640 (Diakses pada 10 September 2020)CNS Neuroscience and Therapeutics. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/cns.12973 (Diakses pada 10 September 2020)BMC Psychiatry. https://bmcpsychiatry.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12888-016-1166-1 (Diakses pada 10 September 2020)Web MD. https://www.webmd.com/schizophrenia/guide/shared-psychotic-disorder (Diakses pada 10 September 2020)Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima. https://cdn.website-editor.net/30f11123991548a0af708722d458e476/files/uploaded/DSM%2520V.pdf (Diakses pada 10 September 2020)Web MD. https://www.webmd.com/schizophrenia/guide/delusional-disorder (Diakses pada 10 September 2020)Schizophrenia and related disorders. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/delusional-disorder (Diakses pada 10 September 2020)Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. https://dsm.psychiatryonline.org/pb-assets/dsm/update/DSM5Update2015.pdf (Diakses pada 10 September 2020)Delusional Disorder. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539855/ (Diakses pada 10 September 2020)Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9599-delusional-disorder/management-and-treatment (Diakses pada 10 September 2020)
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait