Wabah Difteri Muncul Lagi, Kenali Penyebab dan Pencegahannya

Wabah difteri kembali menghantui masyarakat Indonesia
Wabah difteri bisa dicegah melalui imunisasi

Setelah sempat menghilang, wabah difteri kini kembali muncul dan menghantui masyarakat Indonesia, tepatnya di Kota Malang, Jawa Timur. 

Dilaporkan ada dua sekolah di kota tersebut yang guru dan siswanya terbukti positif carrier difteri, yakni orang yang membawa bakteri difteri. Alhasil, pihak sekolah sempat meliburkan aktivitas belajar mengajar sebagai langkah antisipasi agar penyebaran penyakit tidak meluas.

Infeksi difteri memang tergolong penyakit serius yang bisa merusak sejumlah organ, seperti jantung, ginjal, dan otak, serta berisiko mengancam jiwa. Namun, penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi

Penyebab dan faktor risiko wabah difteri yang perlu diketahui

Difteri adalah infeksi penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Bakteri ini menyerang tenggorokan dan saluran pernapasan bagian atas. Bakteri penyebab difteri dapat menghasilkan racun berbahaya yang mudah menyebar ke bagian tubuh lainnya. 

Seseorang dapat tertular penyakit difteri apabila tidak sengaja menghirup atau menelan percikan air liur yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk atau bersin. 

Penularan juga bisa terjadi melalui benda yang sudah terkontaminasi dengan air liur serta digunakan oleh penderita, seperti gelas, tisu, tempat tidur, mainan, dan pakaian. Selain itu, difteri berisiko terjadi pada orang yang:

  • Tinggal di area padat penduduk atau kebersihannya sangat buruk 
  • Belum melakukan imunisasi difteri 
  • Memiliki gangguan sistem imun, seperti AIDS 
  • Bepergian ke wilayah yang sedang terjadi wabah difteri. 

Difteri lebih rentan dialami oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun dan orang dewasa berusia lebih dari 40 tahun. 

Apa saja gejala penyakit difteri? 

Gejala difteri muncul dua hingga lima hari setelah infeksi terjadi. Beberapa orang mungkin tidak mengalami gejala apa pun, sedangkan yang lain bisa saja mengalami gejala ringan yang mirip dengan flu biasa

Meski tidak selalu menimbulkan gejala, penyakit ini awalnya ditandai dengan badan lemah lesu, sakit tenggorokan, demam, dan selaput abu-abu tebal yang menutupi tenggorokan dan amandel. 

Selaput abu-abu tebal ini disebut dengan pseudomembrane. Lapisan pseudomembrane sangat menebal hingga menutupi jaringan hidung, amandel, kotak suara, dan tenggorokan. 

Pseudomembrane mungkin akan berwarna biru dan kehijauan, hitam, bahkan bisa berdarah. Akibatnya, orang yang terkena difteri akan kesulitan bernapas atau bahkan menelan. Selain itu  pseudomembrane ini mudah berdarah.

Selain menginfeksi sistem pernapasan, bakteri penyebab difteri dapat menyerang kulit. Difteri bisa menyebabkan kulit tampak kemerahan, bengkak, dan terasa sakit saat disentuh. 

Bahkan, mungkin pula timbul luka menyerupai borok (ulkus). Umumnya, difteri kulit ini dialami oleh orang-orang yang tinggal di pemukiman padat penduduk dengan sanitasi yang buruk. 

Secara umum, gejala difteri meliputi:

  • Demam dan menggigil
  • Pembengkakan kelenjar di leher
  • Suara serak
  • Batuk yang keras
  • Sakit tenggorokan
  • Kulit berwarna kebiruan
  • Lemah dan lesu
  • Kesulitan bernapas

Jika seseorang mengalami tanda-tanda dan gejala difteri di atas, segera periksakan ke dokter untuk segera mendapatkan pertolongan medis. 

Bagaimana cara mengobati difteri?

Difteri adalah kondisi penyakit yang serius. Maka dari itu, pengobatan harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit dan komplikasinya. 

Dokter dapat menduga pasien terkena difteri apabila terdapat lapisan abu-abu di tenggorokan atau amandelnya. Namun, guna memastikannya, dokter akan mengambil sampel lendir dari tenggorokan pasien (pemeriksaan usap atau swab tenggorokan), untuk diteliti di laboratorium. 

Jika diagnosis dokter menunjukkan bahwa seseorang positif terkena penyakit difteri, maka pengobatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Suntik antitoksin (antiracun) 

Dokter akan memberikan suntikan antitoksin difteri, atau yang lebih dikenal dengan istilah antiserum (ADS), pada pasien yang terdiagnosis difteri. Hal ini bertujuan untuk menetralkan racun yang dihasilkan oleh corynebacterium diphtheria.

Namun, sebelum disuntikkan ke pasien, dokter akan menjalani tes alergi kulit untuk memastikan bahwa pasien tidak mengalami alergi terhadap antitoksin. Dokter akan memberikan antitoksin dalam dosis kecil, kemudian meningkatkan dosisnya. 

2. Memberikan antibiotik

Difteri juga dapat diobati dengan antibiotik, seperti penisilin atau eritromisin. Antibiotik dapat membantu membunuh bakteri dalam tubuh dan menghilangkan infeksi. 

Selama pengobatan, anak-anak dan orang dewasa akan diminta untuk rawat inap di rumah sakit guna mencegah penyebaran penyakit. 

Pentingnya vaksin difteri untuk pencegahan 

Meski penyakit difteri lebih cepat menular, berbahaya, dan dapat menyebabkan kematian, ini dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi atau imunisasi. 

Oleh karena itu, imunisasi difteri masuk ke dalam program imunisasi wajib di Indonesia yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan. 

Vaksin difteri biasanya diberikan melalui imunisasi DPT (Difteri, Pertusis atau batuk rejan, dan Tetanus). Pemberian vaksin tersebut dilakukan sebanyak lima kali yang dimulai pada usia 2 bulan.

Kemudian, anak Anda harus mendapat vaksinasi DPT kembali pada usia 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, usia 5 tahun, dan usia sekolah dasar. Jenis-jenis imunisasi untuk mencegah difteri, yaitu:

  • Tiga dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib (Difteri, Pertusis/batuk rejan. Tetanus, Hepatitis-B, dan Haemofilus influensa tipe b) pada usia 2, 3, 4 bulan.
  • Satu dosis imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib saat usia 18 bulan. 
  • Satu dosis imunisasi lanjutan DT (Difteri-Tetanus) bagi anak kelas 1 sekolah dasar/sederajat.
  • Satu dosis imunisasi lanjutan Td (Tetanus difteri) bagi anak kelas 2 sekolah dasar/sederajat.
  • Satu dosis imunisasi lanjutan Td bagi anak kelas 5 sekolah dasar/sederajat. 

Sementara, orang dewasa dapat melindungi diri dari risiko tetanus, difteri, dan pertusis melalui vaksinasi Td atau Tdap (vaksin pengganti Td), yang harus diulang setiap 10 tahun sekali. 

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, salah satu faktor yang membuat wabah difteri muncul adalah adanya orang sehat yang tidak menunjukkan gejala penyakit difteri, tetapi bisa menularkannya kepada orang lain. Fenomena ini dikenal sebagai carrier difteri. 

Jika terdapat salah satu anggota keluarga dengan penyakit ini, dan agar tidak menjadi carrier difteri, segera hubungi petugas kesehatan agar Anda dan keluarga mendapatkan antibiotik. Dokter juga akan melakukan nasofaring swab sebagai upaya pencegahan.

Oleh karena itu, menerapkan perilaku bersih dan sehat juga menjadi penting sebagai langkah pencegahan terkena penyakit difteri. Dengan begitu, wabah difteri tidak lagi muncul di kemudian hari.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/article/view/17121200002/menkes-difteri-menular-berbahaya-dan-mematikan-namun-bisa-dicegah-dengan-imunisasi.html
Diakses pada 25 Oktober 2019

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/article/view/17120500001/-imunisasi-efektif-cegah-difteri.html
Diakses pada 25 Oktober 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/diphtheria
Diakses pada 25 Oktober 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/symptoms-causes/syc-20351897
Diakses pada 25 Oktober 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/diagnosis-treatment/drc-20351903
Diakses pada 25 Oktober 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/159534.php
Diakses pada 25 Oktober 2019

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/diphtheria/about/causes-transmission.html
Diakses pada 25 Oktober 2019

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/td.html
Diakses pada 25 Oktober 2019

International Child Health Review Collaboration. http://www.ichrc.org/452-difteri
Diakses pada 25 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed