Voyeurisme Adalah Ketertarikan Melihat Orang Telanjang Atau Bercinta, Seberapa Bahaya?

Voyeurisme adalah fantasi saat melihat orang lain tanpa busana atau sedang melakukan aktivitas seksual
Voyeurisme yang kronis bisa berubah dari kesenangan mengintip menjadi penyimpangan seksual atau parafilia

Apabila ada orang yang punya ketertarikan berlebih melihat orang lain tanpa busana atau beraktivitas seksual, bisa jadi mengalami gejala voyeurisme. Berlawanan dengan ekshibisionisme, penderita voyeurisme adalah orang yang lebih tertarik sekadar melihat, bukan yang melakukan atau memamerkan.

Istilah orang yang menderita kelainan voyeurisme adalah “voyeur” atau “peeping Tom”. Ciri khas voyeur adalah mereka mencari tempat mengintip yang tersembunyi. Artinya, korban yang dilihat tidak tahu sedang diintai orang lain.

Voyeurisme adalah sebatas fantasi

Kunci dari voyeurisme adalah fantasi saat melihat orang lain tanpa busana atau sedang melakukan aktivitas seksual. Meski demikian, orang yang menderita kelainan ini hanya akan berani berfantasi dan memuaskan dirinya tanpa melibatkan orang lain seperti dengan melakukan masturbasi.

Namun pada kasus yang lebih kronis, voyeurisme bisa menjadi gangguan penyimpangan seksual atau parafilia. Ketika hal ini terjadi, penderitanya bisa memiliki fantasi seksual yang menyebabkan stres.

Bahkan bukan tidak mungkin mereka melibatkan benda tak bernyawa, anak-anak, atau orang dewasa lain tanpa persetujuan sebelumnya.

Kapan voyeurisme menjadi kelainan?

Tak perlu merasa tidak nyaman ketika Anda memiliki ketertarikan ke arah voyeurisme. Selama tidak melanggar privasi orang lain, voyeurisme adalah hal yang aman dilakukan.

Namun ada beberapa indikator atau batasan yang membuat voyeurisme menjadi sebuah kelainan. Beberapa di antaranya adalah:

  • Melanggar privasi seseorang di area terbatas seperti rumah, kamar, atau ruang ganti (di tempat gym atau di mal)
  • Melihat orang lain bercinta tanpa persetujuan
  • Mulai berani merekam atau memotret orang lain tanpa izin
  • Berani masuk ke area terlarang untuk memuaskan hasrat
  • Merasa stres apabila tidak melakukan voyeurisme dalam waktu lama
  • Tidak bisa merasakan rangsangan seksual tanpa melihat orang lain tanpa busana
  • Tidak bisa menahan keinginan memuaskan hasrat voyeurisme meskipun membahayakan diri sendiri

Wajarkah voyeurisme?

Voyeurisme adalah hal yang sebenarnya manusiawi ketika seseorang mengagumi keindahan tubuh perempuan atau laki-laki tanpa busana. Terlebih, manusia adalah makhluk visual.

Namun hal ini menjadi masalah apabila orang yang menderita voyeurisme melibatkan orang lain demi memuaskan fantasinya. Contohnya ketika voyeur mengintip orang lain tanpa izin.

Untuk itu, bagi siapapun yang memiliki hasrat seperti dalam kasus voyeurisme, sebaiknya mencari cara yang tidak mengganggu orang lain seperti:

  • Pornografi

Pornografi tidak selalu buruk, bahkan bisa menjadi pilihan bagi orang yang memiliki tanda-tanda voyeurisme agar tidak melanggar hak orang lain. Meski demikian, menonton pornografi harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

  • Role-play

Apabila ada orang lain atau partner yang setuju, lakukan role-play. Ada banyak skenario yang bisa disusun untuk memuaskan hasrat voyeurisme. Namun pastikan orang yang terlibat dalam hal ini tahu betul apa batasan mana yang boleh dan tidak.

  • Imajinasi

Setiap orang bebas berimajinasi, contohnya dengan membaca novel erotis atau mendengarkan podcast serupa. Media ini tidak bersifat visual namun bisa memuaskan hasrat voyeurisme dengan cara yang lebih aman.

Kelainan voyeurisme memerlukan diagnosis dari pakar yang profesional di bidangnya. Ketika voyeurisme dirasa berlebihan, maka akan dilakukan diagnosis melihat seberapa sering frekuensi keinginan ini muncul, durasi voyeurisme yang dialami, juga dampaknya pada kehidupan pribadi.

Voyeurisme bisa diobati dengan mencari hal lain yang membangkitkan rasa penasaran, mengobati pola pikir agar tidak selalu negatif, hingga mengidentifikasi lokasi atau situasi yang mungkin membuat orang kembali “kambuh”.

Perlu diingat bahwa voyeurisme hanya terdeteksi pada orang dewasa, bukan pada remaja dan anak-anak. Pada mereka, yang dirasakan adalah rasa ingin tahu dan fase pubertas sehingga ingin eksplorasi lebih jauh.

Jadi, voyeurisme hanya ditemukan pada orang dewasa. Apabila ada gejala serupa pada remaja dan anak-anak, itu hanyalah tahap bertumbuh yang normal.

Healthline. https://www.healthline.com/health/what-is-voyeurism#treatment
Diakses 30 Januari 2020

MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/home/mental-health-disorders/sexuality-and-sexual-disorders/voyeurism
Diakses 30 Januari 2020

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/conditions/voyeuristic-disorder
Diakses 30 Januari 2020

Artikel Terkait