Vaksin Polio, Garda Terdepan Perlindungan Anak dari Penyakit Polio


Vaksin polio adalah cara paling efektif mencegah tubuh terinfeksi virus penyebab lumpuh layu. Dua tipe imunisasi yang perlu diberikan sejak bayi berupa vaksin tetes (OPV) dan vaksin suntik (IPV)

(0)
11 Jun 2019|Giovanni Jessica
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Vaksin polio tetes adalah efektif mencegah tubuh dan lingkungan terinfeksi virus polioVaksin polio tetes mampu melindungi tubuh serta lingkungan sekitar dari infeksi virus
Vaksin polio perlu diberikan sejak bayi baru lahir. Tentu, pemberian vaksin ini bertujuan untuk memberikan perlindungan tubuh terhadap infeksi virus penyebab polio. Diketahui, polio menyebabkan lumpuh layu.Polio umumnya dialami oleh anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Akan tetapi, orang dewasa dengan kekebalan tubuh yang lemah juga dapat terkena polio.

Penyebaran virus polio

Vaksin polio diberikan untuk mencegah penularan virus dari tinja
Virus ini menular pada orang lain melalui tinja orang yang terinfeksi. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang sistem saraf pusat sehingga menyebabkan kelumpuhan otot hingga kematian. Terdapat tiga tipe virus polio, yaitu virus polio 1, 2, dan 3. Pemberian vaksin ini penting untuk mencegah polio, tepatnya untuk menjaga tubuh dari infeksi ketiga tipe virus tersebut. Vaksin ini menjadi salah satu imunisasi dasar sejak tahun 1980. Pada tahun 2007, imunisasi dalam bentuk suntik mulai diberikan di Indonesia.

Tipe-tipe vaksin polio

Saat bayi baru lahir, mereka akan mendapatkan imunisasi ini dengan cara diteteskan pada mulut. Pada bayi berusia yang lebih besar, jenis vaksin ini akan diberikan melalui suntikan pada paha.Vaksin yang diteteskan disebut juga dengan oral polio vaccine (OPV), sedangkan vaksin yang disuntikkan dikenal dengan inactivated polio vaccine (IPV). Berikut adalah perbedaan dari kedua vaksin tersebut: 

1. Oral Polio Vaccine (OPV)

Vaksin polio oral atau tetes berasal dari virus polio hidup yang dilemahkan. Jenis imunisasi ini akan merangsang pembentukkan protein yang berguna untuk menjaga sistem kekebalan tubuh (antibodi) dalam tubuh tanpa menyebabkan penyakit.Kelebihan vaksin tetes adalah perlindungan yang diberikan tidak hanya terbentuk pada bayi yang menerima vaksin, tetapi memberikan perlindungan pada lingkungan sekitarnya.Hal ini terjadi karena virus akan menyebar melalui air dan makanan sehingga seluruh keluarga dalam rumah, bahkan satu komunitas, dapat terlindungi dari polio. Akhirnya, pembentukan antibodi terhadap polio pun dilakukan dengan menyeluruh.

2. Inactivated Polio Vaccine (IPV)

Vaksin polio suntik untuk anak dengan imun lemah
Imunisasi melalui suntikan ini tidak dapat memberikan kekebalan pada lingkungan. Kekebalan tubuh yang terjadi akibat imunisasi suntik hanya efektif bagi orang yang mendapatkan vaksinasi.Imunisasi IPV dapat menjadi pilihan untuk pencegahan polio pada bayi dan anak dengan kekebalan tubuh yang lemah, atau bila OPV tidak dianjurkan. Namun, vaksin suntik ini tidak dapat diberikan ketika bayi mengalami demam, penyakit akut, atau penyakit kronis yang progresif. Bayi bisa menerima vaksin setelah sembuh dari penyakitnya.Selain itu, bayi yang mengalami alergi terhadap streptomisin tidak dapat menerima vaksin polio. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung antibiotik streptomisin sebagai pengawet.

Jadwal pemberian vaksin polio

Vaksin polio IPV setidaknya diberikan sekali seumur hidup
Seorang bayi yang memperoleh imunisasi lengkap akan mendapatkan empat dosis imunisasi. Jadwal imunisasi pertama berupa OPV yang diberikan pertama kali saat bayi baru lahir bersamaan dengan vaksin hepatitis B.Setelahnya, ada tiga dosis vaksin polio berikutnya. Usia pemberian imunisasi polio jatuh pada bayi berumur ke 2, 3, dan 4 bulan. Pada usia 4 bulan, bayi akan mendapatkan vaksin tetes dan suntikan (IPV).Sementara, booster vaksin polio akan diberikan pada anak usia 18 tahun. Perlu diingat pula, setidaknya, setiap anak harus mendapat satu imunisasi IPV dalam seumur hidupnya.Meski kerap menyerang anak-anak, polio sebenarnya bisa menjangkiti berbagai usia. Jika seseorang belum mendapatkan imunisasi polio hingga dewasa, ia akan mendapatkan tiga dosis vaksin. Dari pemberian pertama hingga kedua, jarak pemberiannya selama 1-2 bulan. Selanjutnya, jarak dari vaksin kedua hingga ketiga selama 6-12 bulan.Pemberian vaksin polio untuk orang dewasa juga dianjurkan jika:
  • Pergi ke tempat dengan kasus polio yang tinggi.
  • Orang yang bekerja di laboratorium yang mengurus sampel atau spesimen yang dicurigai terdapat virus polio.
  • Tenaga kesehatan yang melakukan penanganan pada pasien polio.

Efek samping vaksin polio

Efek samping vaksin polio membuat bayi demam
Imunisasi polio pun sama seperti imunisasi lainnya. Ya, vaksin ini juga menimbulkan efek samping. Namun, yang perlu diketahui, efek samping imunisasi polio ini tidak membahayakan keselamatan nyawa bayi.Riset yang terbit pada jurnal Pathogens and Global Health, efek samping vaksin polio oral (OPV) adalah:Sebenarnya, vaksin tetes sangat jarang menyebabkan terjadinya reaksi. Bayi boleh mendapatkan makan dan minum seperti biasa setelah mendapat vaksin. Apabila bayi muntah dalam 30 menit setelah pemberian imunisasi tipe tetes, maka mereka perlu mendapatkan dosis ulangan.Sementara itu, efek samping yang didapat dari imunisasi polio suntik adalah:
  • Reaksi di tempat suntikan (kemerahan, bengkak, nyeri tekan, nyeri, atau benjolan).
  • Demam.
  • Mudah marah.
  • kelelahan.
  • Mengantuk.
  • Nyeri sendi.
  • Nyeri tubuh.
  • Muntah.
Sementara, bayi yang menerima vaksin suntikan berpotensi mengalami reaksi dalam waktu 48 jam setelah penyuntikan. Kondisi ini mampu bertahan selama satu atau dua hari.Jika hal ini terjadi, berikan lebih banyak ASI pada bayi Anda. Selain itu, beri kompres air dingin pada tempat bekas suntikan. Berikan obat penurun demam seperti parasetamol bila diperlukan.

Pemberian vaksin polio sebaiknya ditunda apabila ada kondisi ini

Jangan beri vaksin polio bila bayi mengalami alergi berat
Meski seharusnya diberikan tepat waktu, ada kondisi yang membuat seseorang harus menunda imunisasi, yakni saat alergi berat (anafilaksis) atau tidak enak badan.Reaksi alergi ini ditandai dengan sesak napas, kelelahan kronis, mengi. Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tetap menyarankan untuk melakukan vaksinasi jika anak hanya batuk dan pilek tanpa demam.

Catatan dari SehatQ

Vaksin polio merupakan imunisasi yang efektif untuk menjaga tubuh dari virus penyebab lumpuh layu.Vaksin ini terdiri dari dua jenis, yaitu vaksin oral dan vaksin suntik. Pemberian imunisasi ini sebaiknya sejak saat bayi baru lahir, lalu diulang sebanyak tiga kali, pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Lalu, pemberian booster pun dilakukan jika anak sudah berusia 18 tahun.Efek samping yang didapat setelah melakukan imunisasi ini adalah demam, reaksi lokal, hingga lelah dan lemas.Jika Anda ingin memulai pemberian imunisasi ini pada anak Anda, segera konsultasikan dengan dokter anak melalui chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.Jika Anda ingin melengkapi keperluan untuk ibu dan anak, kunjungi untuk mendapatkan penawaran menarik.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
vaksin bayi dan anakpolioimunisasi anak
CDC. https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/polio.html
Diakses pada Mei 2019
BabyCenter. https://www.babycenter.in/a1011663/the-polio-vaccine-drops-or-injection
Diakses pada Mei 2019
Buku Ajar Imunisasi. Kementrian Kesehatan Indonesia. 2014.Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi Keenam Tahun 2017. Ikatan Dokter Anak Indonesia.Pathogens and Global Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4083159/
Diakses pada 2 November 2020
Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/apa-yang-perlu-diketahui-orangtua-tentang-pekan-imunisasi-nasional-polio-2016
Diakses pada 2 November 2020
RxList. https://www.rxlist.com/ipol-side-effects-drug-center.htm
Diakses pada 2 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait