Hati-hati, Vaksin Palsu Ternyata Miliki Kandungan Ini

Vaksin palsu ternyata bisa mengandung cairan infus.
Vaksin palsu tentu saja tidak bisa memberikan perlindungan bagi tubuh layaknya vaksin asli.

Peredaran vaksin palsu yang meresahkan masyarakat, membuat tidak sedikit orangtua khawatir dengan keamanan prosedur vaksinasi anak. Vaksin palsu ini sebenarnya tidak membawa efek negatif yang signifikan bagi kesehatan Si Kecil.

Namun dengan menerima vaksin palsu dan malah melewatkan jadwal pemberian imunisasi yang sesungguhnya, anak akan kehilangan manfaat dari vaksin. Sebab, vaksin palsu memiliki kandungan yang meski tidak begitu berbahaya bagi tubuh, tapi tidak memberikan manfaat perlindungan layaknya vaksin asli.

Apa saja kandungan dalam vaksin palsu?

Vaksin palsu merupakan produk yang dilabeli sebagai vaksin, tetapi tidak memiliki kandungan antigen di dalamnya. Sehingga, vaksin palsu tidak dapat merangsang pembentukan antibodi di dalam tubuh dan tidak bermanfaat sama sekali.

Keaslian sebuah vaksin dapat diketahui melalui proses pemeriksaan laboratorium yang dilakukan BPOM. Dari hasil pemeriksaan tersebut, umumnya vaksin palsu mengandung bahan-bahan berikut ini:

  • Cairan infus:

    Beberapa vaksin palsu mengandung cairan infus berupa larutan gula dan elektrolit.
  • Pelarut vaksin:

    Selain itu, vaksin palsu juga dapat berisikan cairan pelarut berupa garam fisiologis atau aqua pro injection yang sebenarnya aman diserap tubuh.
  • Antibiotik gentamisin:

    Berdasarkan temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ada vaksin palsu yang berisi antibiotik gentamisin. Antibiotik untuk menangani infeksi ini umumnya terkandung dalam produk tetes mata, tetes telinga, hingga obat oles.

Efek vaksin palsu bagi tubuh

Meski kemungkinannya kecil, vaksin palsu berpotensi
timbulkan alergi.

Berdasarkan hasil investigasi pemerintah dan instansi kesehatan terkait, efek samping vaksin palsu diduga sangat kecil. Hal ini disebabkan oleh rendahnya dosis vaksin palsu yang masuk ke dalam tubuh.

Vaksin palsu dengan kandungan antibiotik gentamisin sekalipun diperhitungkan akan masuk ke dalam tubuh sebanyak 20 mg. Saat mencapai peredaran darah, kandungan vaksin palsu ini akan dibuang melalui ginjal.

Efek jangka panjang dari vaksin palsu dengan kandungan gentamisin pun sangat kecil. Sebab, gangguan fungsi ginjal dan pendengaran hanya dapat terjadi jika gentamisin diberikan dalam dosis tinggi.

Sementara itu, hasil investigasi juga menemukan adanya risiko jangka pendek akibat suntikan vaksin palsu yang mengandung cairan infus. Risiko jangka pendek berupa infeksi dan reaksi alergi itu diduga terjadi akibat proses pembuatan vaksin yang tidak higienis.

Ini cara menghindari vaksin palsu

Untuk dapat menghindari vaksin palsu dan memperoleh vaksin asli, kunjungilah sarana pelayanan kesehatan pemerintah, seperti Puskesmas, Posyandu, atau rumah sakit pemerintah. Kementerian Kesehatan RI menjamin keaslian dan keamanan vaksin yang disalurkan melalui instansi pemerintah tersebut.

Melalui layanan kesehatan yang disediakan pemerintah pula, Si Kecil dapat memperoleh vaksin secara gratis.

Selain itu, Anda juga dapat memastikan keaslian vaksin dengan melakukan langkah-langkah berikut ini:

  1. Memeriksa vaksin bersama dokter:

    Sebelum si kecil menerima vaksinasi maupun imunisasi, minta dokter untuk memeriksa tanggal kedaluwarsa vaksin, wadah dan segel vaksin, label vaksin, penanda suhu, serta bentuk fisik vaksin. Secara fisik, keaslian vaksin dapat dilihat dari ada atau tidak adanya endapan, warna, serta kejernihannya. Selain itu, izin edar vaksin asli atau palsu dapat diperiksa di situs BPOM.
  2. Mengamati reaksi tubuh:

    Setelah menerima vaksin, amati reaksi tubuh Si Kecil. Segera periksakan ke dokter jika ada gejala yang dirasa mengkhawatirkan.
  3. Melaporkan pada BPOM secepatnya:

    Jika ada hal yang mencurigakan, segera laporkan kepada BPOM via Halo BPOM 1500533 atau Kementrian Kesehatan di (kode lokal) 1500567.

Seberapa penting pemberian vaksin bagi anak?

Memastikan anak memperoleh vaksin asli sangatlah penting. Sebab, vaksin dapat memberikan perlindungan bagi anak terhadap berbagai risiko penyakit di kemudian hari.  Vaksin merupakan antigen berupa mikroorganisme (virus atau bakteri) hidup yang telah dilemahkan. Produk ini berfungsi untuk merangsang kekebalan tubuh manusia.

Pemberian vaksin atau vaksinasi dapat dilakukan melalui suntikan, maupun oral. Saat vaksin bekerja, tubuh akan mengira tengah diserang mikroorganisme aktif. Sehingga, tubuh akan memproduksi antibodi agar bersiap melawan serangan infeksi di kemudian hari.

Catatan dari SehatQ

Jika anak Anda terlanjur memperoleh vaksin palsu, buatlah laporan pada satuan petugas (satgas) penanganan vaksin palsu. Setelah terdaftar dan terverifikasi, Si Kecil bisa mendapatkan vaksinasi ulang secara gratis di sarana pelayanan kesehatan rujukan Dinas Kesehatan provinsi setempat.

BPOM.
https://www.pom.go.id/new/view/more/pers/308/Penjelasan-Badan-POM-Terkait-Temuan-Vaksin-Palsu.html
Diakses pada Selasa 25 Februari 2020

Kementerian Kesehatan RI.
http://farmalkes.kemkes.go.id/v2/?p=5480
Diakses pada Selasa 25 Februari 2020

Kementerian Kesehatan RI.
https://www.kemkes.go.id/article/view/16072200002/vaksin-pemerintah-terjamin-keamanan-ketersediaan-dan-tidak-dipalsukan.html
Diakses pada Selasa 25 Februari 2020

Kementerian Kesehatan RI.
https://www.kemkes.go.id/article/view/16072200001/pernyataan-bersama-kemenkes-bpom-bprs-dan-9-organisasi-profesi.html
Diakses pada Selasa 25 Februari 2020

IDAI.
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/seputar-kekuatiran-terkait-vaksin-tidak-berkhasiat
Diakses pada Selasa 25 Februari 2020

IDAI.
http://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id/wp-content/uploads/2017/03/Rekomendasi-IDAI-untuk-Anak-yang-Terpajan-Vaksin-Palsu-1.pdf
Diakses pada 25 Februari 2020

Artikel Terkait