Vaksin Hib, Pencegah Meningitis dan Pneumonia pada Bayi

Pemberian vaksin HiB dapat mencegah penyakit meningitis dan pnemumonia akibat bakteri HiB
Vaksin HiB dapat mencegah pneumonia dan meningitis akibat bakteri HiB

Dibanding vaksin lain seperti DPT maupun MR, vaksin Hib mungkin kurang populer di tengah masyarakat. Namun, bukan berarti penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi Hib ini bisa diremehkan. Buktinya, Hib termasuk salah satu jenis vaksin yang masuk daftar imunisasi dasar lengkap yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan maupun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Vaksin Hib adalah vaksin untuk menangkal menyakit yang disebabkan oleh bakteri Haemophilus influenzae tipe b. Meski namanya berbau ‘influenza’, namun vaksin ini bukan untuk mencegah penyakit flu, melainkan penyakit yang lebih parah, seperti radang selaput otak (meningitis), radang paru (pneumonia), infeksi telinga (otitis media), dan lain-lain.

Perlu digarisbawahi bahwa imunisasi Hib hanya dapat mencegah meningitis dan pneumonia yang disebabkan oleh kuman Hib. Meningitis dan pneumonia bisa juga disebabkan oleh kuman pneumokokus yang dapat dicegah dengan pemberian vaksin pneumokokus (PCV).

Kapan imunisasi Hib diberikan kepada bayi?

Di Indonesia, pemberian vaksin Hib dilakukan berbarengan dengan penyuntikkan vaksin DPT dan hepatitis B, yakni melalui vaksin DPT-Hib-HB merek Pentabio yang diproduksi oleh Bio Farma. Vaksin Pentabio ini diberikan secara cuma-cuma alias gratis di fasilitas kesehatan milik pemerintah, serta bisa didapatkan juga di klinik vaksin maupun rumah sakit swasta yang terakreditasi.

Imunisasi Hib dilakukan sebanyak 3 kali dengan suntikan pertama saat bayi berusia 2 bulan. Setelah itu, pemberian vaksin Hib harus kembali dilakukan saat bayi berusia 4 dan 6 bulan dan diulang pada saat bayi berusia 18 bulan.

Bila bayi baru akan mendapat injeksi vaksin Hib pertamanya pada rentang usia 1-5 tahun, maka imunisasi Hib hanya perlu dilakukan satu kali. Pada anak usia di atas 5 tahun, pemberian vaksin Hib tidak diperlukan karena penyakit ini hanya menyerang anak yang berusia di bawah 5 tahun.

Apa yang harus Anda perhatikan saat melakukan imunisasi Hib pada bayi?

Meski pemberian vaksin Hib sangat direkomendasikan oleh para ahli kesehatan, Anda sebaiknya memerhatikan beberapa hal sebelum melakukan imunisasi ini, seperti:

  • Tunda imunisasi Hib jika anak sedang dalam kondisi sakit, misalnya demam tinggi.
  • Anda tidak perlu menunda pemberian vaksin Hib pada bayi jika ia hanya mengalami pilek atau sakit ringan lainnya.
  • Jangan melakukan imunisasi Hib kembali bila bayi memerlihatkan reaksi alergi yang parah (anafilaksis) setelah imunisasi sebelumnya.

Menurut IDAI, munculnya demam ringan hingga tinggi, bengkak, kemerahan, dan bayi menjadi agak rewel setelah imunisasi Hib adalah hal yang wajar. Kondisi ini dinamakan sebagai kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI).

KIPI biasanya akan hilang dalam 3-4 hari, meski kadang bisa berlangsung lebih lama. Selama anak mengalami KIPI, Anda bisa memberi obat penurun panas tiap 4 jam, kompres air hangat, dan sering diberi ASI, susu, atau jus buah (bila sudah mengonsumsi makanan padat).

Umumnya, KIPI tidak sampai mengakibatkan penyakit berat, apalagi kelumpuhan serta kematian. Bila kondisi anak tidak membaik atau bertambah berat dan membuat Anda khawatir, hubungi dokter.

Apa yang terjadi bila bayi tidak melakukan imunisasi Hib?

Bayi yang tidak mendapat imunisasi Hib akan sangat rentan terkena infeksi bakteri Hib. Ketika vaksin Hib belum ditemukan, bakteri in adalah salah satu pembunuh anak-anak lewat penyakit yang dinamakan meningitis bakteri.

Meningitis adalah infeksi yang menjangkiti selaput pembungkus otak dan sumsum tulang belakang manusia. Ketika anak terkena meningitis bakteri, ia akan memerlihatkan gejala, seperti demam tinggi, penurunan kesadaran, koma, dan akhirnya meninggal dunia.

Sebanyak 3-6% anak yang menderita meningitis bakteri tidak bisa diselamatkan. Bahkan jika bisa melewati masa koma, kondisi anak yang pernah diserang meningitis bakteri biasanya mengalami kerusakan serius pada bagian saraf dan otak, serta yang ditandai dengan cacat fisik, seperti buta dan lumpuh hingga keterbelakangan mental.

Selain meningitis, bakteri Hib juga dapat mengakibatkan pneumonia. Penyakit lain yang berhubungan dengan bakteri ini adalah epiglottitis (infeksi tenggorokan yang membuat penderitanya kesulitan bernapas), infeksi darah, tulang, serta persendian yang mengarah pada artritis.

Jangan percaya kabar burung bahwa vaksin Hib justru dapat menyebabkan penyakit-penyakit tersebut di atas. Vaksin ini sangat aman digunakan dan justru sangat direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mencegah bayi terkena infeksi yang mematikan ini.

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/tanya-jawab-hib-haemophilus-influenza-tipe-b
Diakses pada 26 Desember 2019

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-iii
Diakses pada 26 Desember 2019

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/imunisasi-penting-untuk-mencegah-penyakit-berbahaya
Diakses pada 26 Desember 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/hib-vaccine.html
Diakses pada 26 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/children/vaccines/hib-h-influenzae-type-b-vaccine
Diakses pada 26 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed