Vaksin Hib adalah Pencegah Meningitis dan Pneumonia pada Bayi, Ini Kelebihannya

(0)
27 Dec 2019|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Pemberian vaksin HiB dapat mencegah penyakit meningitis dan pnemumonia akibat bakteri HiBVaksin HiB dapat mencegah pneumonia dan meningitis akibat bakteri HiB
Dibanding vaksin lain seperti DPT maupun MR, vaksin Hib mungkin kurang populer di tengah masyarakat. Namun, bukan berarti penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi Hib ini bisa diremehkan terutama pada anak-anak.Buktinya, Hib termasuk salah satu jenis vaksin yang masuk daftar imunisasi dasar lengkap yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan maupun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Vaksin Hib adalah vaksin yang diberikan untuk menangkal menyakit yang disebabkan oleh bakteri Haemophilus influenzae type b. Meski namanya berbau ‘influenza’, namun vaksin ini bukan untuk mencegah penyakit flu, melainkan penyakit yang lebih parah akibat infeksi berat, seperti radang selaput otak (meningitis), radang paru (pneumonia), infeksi telinga (otitis media), dan lain-lain.Perlu digarisbawahi bahwa imunisasi Hib hanya dapat mencegah meningitis dan pneumonia yang disebabkan oleh kuman Hib. Meningitis dan pneumonia bisa juga disebabkan oleh kuman pneumokokus yang dapat dicegah dengan pemberian vaksin pneumokokus (PCV).

Kapan imunisasi Hib diberikan kepada bayi?

Di Indonesia, pemberian vaksin Hib dilakukan berbarengan dengan jadwal imunisasi DPT dan hepatitis B, yakni melalui vaksin DPT-Hib-HB merek Pentabio yang diproduksi oleh Bio Farma. Vaksin Pentabio ini diberikan secara cuma-cuma alias gratis di fasilitas kesehatan milik pemerintah, serta bisa didapatkan juga di klinik vaksin maupun rumah sakit swasta yang terakreditasi.Imunisasi Hib dilakukan sebanyak 3 kali dengan suntikan pertama saat bayi berusia 2 bulan. Setelah itu, pemberian vaksin Hib harus kembali dilakukan saat bayi berusia 4 bulan dan 6 bulan dan diulang pada saat bayi berusia 18 bulan.Bila bayi baru akan mendapat injeksi vaksin Hib pertamanya pada rentang usia 1-5 tahun, maka imunisasi Hib hanya perlu dilakukan satu kali.Imunisasi ini tidak perlu dilakukan pada orang dewasa dan anak yang berusia di atas 5 tahun. Sebab, penyakit ini hanya menyerang anak yang berusia di bawah 5 tahun.

Apa yang harus Anda perhatikan saat melakukan imunisasi Hib pada bayi?

Meski pemberian vaksin Hib sangat direkomendasikan oleh para ahli kesehatan, Anda sebaiknya memerhatikan beberapa hal sebelum melakukan imunisasi ini, seperti:
  • Tunda imunisasi Hib jika anak sedang dalam kondisi sakit, misalnya demam tinggi.
  • Anda tidak perlu menunda pemberian vaksin Hib pada bayi jika ia hanya mengalami pilek atau sakit ringan lainnya dan masih bisa melaksanakan imunisasi sesuai jadwal.
  • Jangan melakukan imunisasi Hib kembali bila bayi memerlihatkan reaksi alergi yang parah (anafilaksis) setelah imunisasi sebelumnya.
Menurut IDAI, pemberian vaksin ini aman dilakukan dan jarang terjadinya infeksi. Adapun munculnya demam ringan hingga tinggi, bengkak, kemerahan, dan bayi menjadi agak rewel setelah imunisasi Hib adalah efek samping imunisasi HIB yang wajar. Kondisi ini dinamakan sebagai kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI).KIPI biasanya akan hilang dalam 3-4 hari, meski kadang bisa berlangsung lebih lama. Selama anak mengalami KIPI, Anda bisa memberi obat penurun panas tiap 4 jam, kompres air hangat, dan sering diberi ASI, susu, atau jus buah (bila sudah mengonsumsi makanan padat).Umumnya, KIPI tidak sampai mengakibatkan penyakit berat, apalagi kelumpuhan serta kematian. Bila kondisi anak tidak membaik atau bertambah berat dan membuat Anda khawatir, hubungi dokter.

Apa yang terjadi bila imunisasi Hib tidak dilakukan?

Bayi yang tidak mendapat imunisasi Hib akan sangat rentan terkena infeksi bakteri Hib. Ketika vaksin Hib belum ditemukan, bakteri ini adalah salah satu pembunuh anak-anak lewat penyakit yang dinamakan meningitis bakteri.Meningitis adalah infeksi yang menjangkiti selaput pembungkus otak dan sumsum tulang belakang manusia. Ketika anak terkena meningitis bakteri, ia akan memerlihatkan gejala, seperti demam tinggi, penurunan kesadaran, koma, dan akhirnya meninggal dunia.Sebanyak 3-6% anak yang menderita meningitis bakteri tidak bisa diselamatkan. Bahkan jika bisa melewati masa koma, kondisi anak yang pernah diserang meningitis bakteri biasanya mengalami kerusakan serius pada bagian saraf dan otak, serta yang ditandai dengan cacat fisik, seperti buta dan lumpuh hingga keterbelakangan mental.Selain meningitis, bakteri Hib juga dapat menyebabkan infeksi pneumonia. Penyakit lain yang berhubungan dengan bakteri ini adalah epiglottitis (infeksi tenggorokan yang membuat penderitanya kesulitan bernapas), infeksi darah, tulang, serta persendian yang mengarah pada artritis.Untuk itu, segera kunjungi dokter atau fasilitas kesehatan masyarakat untuk mendapatkan imunisasi Hib dan imunisasi tambahan lainnya agar bayi bisa terhindar dari penyakit di atas. Selain itu, jangan percaya kabar burung bahwa vaksin Hib justru dapat menyebabkan penyakit-penyakit tersebut.Vaksin ini sangat aman digunakan dan justru sangat direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk meningkatkan daya tahan tubuh guna mencegah bayi terkena infeksi yang mematikan.
vaksin bayi dan anakimunisasi anakmeningitispneumonia
IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/tanya-jawab-hib-haemophilus-influenza-tipe-b
Diakses pada 26 Desember 2019
IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-imunisasi-bagian-iii
Diakses pada 26 Desember 2019
IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/imunisasi-penting-untuk-mencegah-penyakit-berbahaya
Diakses pada 26 Desember 2019
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/hib-vaccine.html
Diakses pada 26 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/children/vaccines/hib-h-influenzae-type-b-vaccine
Diakses pada 26 Desember 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait