4 Penyebab Vaginosis Bakteri (Bacterial Vaginosis), dan Cara Mencegahnya

(0)
Vaginosis bakteri adalah peradangan pada vulva dan vagina yang disebabkan oleh bakteri gardnerella vaginalisVaginosis bakteri bisa menimbulkan gejala berupa keputihan bau amis yang berwana kuning kehijauan.
Ada dua jenis bakteri yang hidup di dalam vagina, yaitu bakteri baik dan bakteri jahat. Namun apabila keseimbangan dua jenis bakteri ini terganggu, wanita rentan mengalami infeksi bernama bacterial vaginosis (BV) atau vaginosis bakteri. Vaginosis bakteri adalah jenis infeksi vagina yang paling umum terjadi pada wanita usia 15-44 tahun.

Penyebab bacterial vaginosis (vaginosis bakteri)

Bacterial vaginosis atau vaginosis bakterialis adalah peradangan pada vulva dan vagina yang disebabkan oleh bakteri gardnerella vaginalis. Bakteri ini adalah penyebab dari 45-99% kasus vaginosis bakteri.Selain itu, vaginosis bakterialis dapat pula disebabkan oleh spesies bakteri lain yang hidup secara alami di vagina, seperti bakteri Lactobacillus, Bacteroides, Peptostreptococcus, Fusobacterium, Eubacterium dan bakteri lainnya.Bakteri Eschericia coli yang merupakan penyebab diare dan infeksi saluran kemih juga ditemukan pada sekitar 25% wanita dengan vaginosis bakteri.Masih banyak jenis bakteri penyebab vaginosis bakteri yang belum dapat dikenali. Bahkan pada kenyataannya, vaginosis bakteri bisa terjadi akibat infeksi lebih dari satu spesies bakteri. 

Hal-hal yang memicu pertumbuhan bakteri jahat penyebab vaginosis bakteri (bacterial vaginosis)

Vaginosis bakterialis terjadi akibat pertumbuhan bakteri jahat yang berlebih sehingga mengganggu keseimbangan jumlah bakteri baik di dalam vagina. Lantas, apa yang menyebabkan pertumbuhan bakteri jahat dalam vagina jadi berlebih?Penyebabnya belum sepenuhnya dipahami. Akan tetapi, aktivitas tertentu yang Anda mungkin sering lakukan dapat meningkatkan risiko Anda mengalami infeksi bakteri pada vagina.Beberapa hal yang dapat memicu infeksi bakteri penyebab bacterial vaginosis adalah:

1. Hubungan seks 

Bacterial vaginosis bukan penyakit menular seksual. Namun CDC melaporkan, kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita yang memiliki banyak pasangan seks atau pasangan seks baru. Terutama jika berhubungan seks tanpa pengaman.Memiliki pasangan seks baru atau gonta-ganti pasangan seks dapat mengganggu keseimbangan bakteri di dalam vagina. Hal ini membuat risiko seorang wanita mengalami vaginosis bakterialis jadi lebih tinggi. Bacterialis vaginosis jarang menyerang wanita yang belum pernah berhubungan seks. Namun, bukan mustahil infeksi bakteri pada vagina ini dapat menyerang individu yang tidak aktif secara seksual maupun yang menjalani hubungan monogami.

2. Membersihkan vagina dengan douche (vaginal douching)

Banyak wanita percaya bahwa membersihkan vagina lebih efektif dengan vaginal douche. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak seperti itu.Dokter justru tidak menyarankan wanita menggunakan douche untuk membersihkan vagina. Sangat sedikit bukti ilmiah yang tersedia tentang manfaat douching. Secara keseluruhan, risiko douching jauh lebih besar daripada manfaatnya.Memakai douche terbukti dapat meningkatkan risiko infeksi pada vagina, termasuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri.Douching mengganggu keseimbangan alami bakteri dalam vagina dengan membilas koloni bakteri baik. Hal tersebut membuat lingkungan vagina jadi lebih ideal bagi pertumbuhan bakteri jahat penyebab infeksi.Tekanan aliran air dari semprotan juga memungkinkan bakteri jahat yang ada di vagina berjalan naik melewati serviks hingga ke dalam rahim, saluran tuba, atau rongga perut dan menyebabkan infeksi di dalam tubuh.Penelitian telah menemukan bahwa wanita yang berhenti douching memiliki risiko jauh lebih kecil untuk mengalami vaginosis bakteri.

3. Sedang hamil

Wanita hamil berisiko tinggi mengalami bacterial vaginosis karena perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan.Para ilmuwan telah menemukan bahwa bakteri bisa mendapat keuntungan dari hormon yang digunakan tubuh kita untuk menjaga sistem kekebalan tubuh guna menyebabkan infeksi.Sederhananya, bakteri menggunakan hormon kita untuk mendorong pertumbuhannya sendiri. Hal ini lebih mungkin terjadi pada wanita yang sedang hamil karena sistem imun selama masa ini juga cenderung lebih lemah.Vaginosis bakteri adalah salah satu jenis infeksi yang umum terjadi selama kehamilan. Infeksi bakteri pada vagina ini diperkirakan menyerang hingga 30% wanita hamil setiap tahun.Jika Anda mengalami bakterial vaginosis selama kehamilan, penting untuk berkonsultasi dan mendapatkan pengobatan dari dokter. Vaginosis bakteri dapat meningkatkan risiko bayi Anda lahir prematur dan memiliki berat lahir rendah (BBLR).

4. Memakai KB spiral (IUD)

KB spiral alias IUD adalah salah satu jenis alat kontrasepsi yang populer. Namun pada kasus tertentu, pemasangan KB spiral dapat membuat wanita rentan mengalami infeksi pada vagina.Penyebabnya belum jelas dipahami. Namun, studi dari jurnal Sexually Transmitted Diseases menduga peningkatan risiko bakteri vaginosis berhubungan dengan reaksi tubuh akibat adanya benda asing dalam vagina.Peneliti juga berpendapat bahwa pemasangan IUD dapat meningkatkan volume dan durasi aliran darah haid pada wanita. Vagina yang terus-terusan terasa lembap dapat menjadi hunian yang ideal bagi pertumbuhan bakteri.

Cara mencegah infeksi penyebab bacterial vaginosis

Lebih dari 84% wanita yang memiliki vaginosis bakteri tidak mengalami gejala apapun. Namun pada beberapa kasus, bacterial vaginosis dapat memunculkan gejala berupa keputihan tidak normal yaitu:
  • Keputihan berwarna putih keruh, abu-abu, atau kehijauan.
  • Keputihan berbau amis menyengat; baunya akan tercium paling kuat setelah seks atau selama haid.
  • Vagina gatal atau terasa sakit.
Oleh karena itu, alangkah lebih baik untuk mencegah daripada mengobati. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa Anda terapkan untuk menjaga kesehatan vagina demi mengurangi risiko terhadap bacterial vaginosis:
  • Bersihkan vagina dengan cara yang benar. Jangan pakai douche untuk membersihkan vagina. Cukup gunakan air bersih untuk membersihkan bagian luar vagina. 
  • Jangan gunakan produk wewangian pada area vagina, seperti deodoran, parfum, bedak, sabun sirih, dan lainnya
  • Tidak berhubungan seks tanpa pengaman (kondom atau dental dam).
  • Batasi jumlah pasangan seks Anda. 
  • Sering ganti pembalut jika Anda sedang menstruasi.
  • Biasakan membilas vagina dari depan ke belakang setiap habis buang air kecil
  • Jaga area vagina tetap kering; segera ganti celana dalam dan celana luar setelah Anda berkeringat atau berolahraga.
Segera berkonsultasi dengan dokter lewat aplikasi SehatQ jika Anda mengalami gejala bacterial vaginosis seperti yang telah disebut di atas. Meski tergolong ringan dan mudah diobati, vaginosis bakterial dapat menyebabkan komplikasi pada kesehatan jika dibiarkan terus berlanjut atau sering kambuh.Aplikasi kesehatan keluarga SehatQ dapat Anda unduh gratis di Appstore dan Playstore.
infeksi bakteripenyakit menular seksualkeputihanvaginosis bakteripenyakit wanitakesehatan wanitavagina gatalorgan intim wanitakesehatan vagina
Harvard Medical School. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/bacterial-vaginosis-gardnerella-vaginitis-a-to-z
Diakses pada 15 Mei 2019
Hill Gale, B. The microbiology of bacterial vaginosis. Volume 169, Number 2, Part 2 Am J Obstet Gynecol.CDC. https://www.cdc.gov/std/bv/stdfact-bacterial-vaginosis.htm diakses 21 Nov 2020Cleveland Clinic https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/3963-bacterial-vaginosis diakses 21 Nov 2020WebMD https://www.webmd.com/women/guide/vaginal-douching-helpful-or-harmful diakses 21 Nov 2020Sexual Transmitted Disease Journal https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3285477/ diakses 21 Nov 2020Epidemiologic Reviews Journal https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2567125/ diakses 21 Nov 2020Healthline https://www.healthline.com/health/bacterial-vaginosis/treat-prevent#3 diakses 21 Nov 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait