Vagina basah merupakan bagian dari respons seksual seorang wanita terhadap stimulus
Rata-rata seorang wanita memproduksi 1-4 mililiter cairan vagina dalam sehari

Kadang tanpa disadari, Anda merasa lembap di celana dalam karena vagina basah. Selama tidak ada aroma vagina menyengat atau warna keputihan yang abnormal, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Meski demikian, vagina basah juga bisa jadi alarm ada yang tidak beres pada tubuh Anda.

Vagina – berbeda dengan vulva – adalah membran mukosa yang permukaan dan jaringannya selalu lembap. Ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap seberapa banyak cairan yang diproduksi vagina.

Fluktuasi hormon wanita, kesuburan, hingga rangsangan dapat berpengaruh terhadap seberapa basahnya vagina. Sebaliknya, fase menopause juga bisa menyebabkan vagina terasa lebih kering.

Penyebab vagina basah

Terlepas dari seberapa banyak cairan vagina yang diproduksi seorang wanita, cairan ini sangat penting untuk memastikan vagina sehat dan membuat aktivitas bercinta jadi lebih nyaman.

Vagina juga menjadi rumah bagi bakteri-bakteri baik, namun perawatan vagina yang salah seperti memakai sabun miss V dapat mengganggu keseimbangan bakteri di vagina.

Beberapa penyebab vagina basah adalah:

1. Cairan vagina normal

Setiap harinya, sangat wajar apabila seorang wanita merasakan vaginanya basah. Rata-rata seorang wanita memproduksi 1-4 mililiter cairan vagina dalam sehari. Jumlah ini bisa berbeda-beda dari waktu ke waktu. Contohnya saat jelang masa ovulasi, vagina basah akan lebih terasa karena serviks memproduksi lebih banyak cairan.

2. Respons terhadap rangsangan

Vagina basah juga merupakan bagian dari respons seksual seorang wanita terhadap stimulus. Pada hal ini, yang bekerja memproduksi cairan adalah kelenjar Bartholin di kedua sisi bibir vagina. Cairan ini membantu melubrikasi vagina saat bercinta sehingga tidak merasakan iritasi atau gesekan yang tidak nyaman.

Vagina basah hingga 1-2 jam setelah selesai bercinta atau terangsang juga masih dianggap normal. Meski demikian, seiring dengan bertambahnya usia seorang wanita, kondisi vagina cenderung lebih kering karena produksi hormon estrogen semakin sedikit.

 3. Perubahan hormon

Semakin tinggi level hormon estrogen seseorang, akan semakin aktif kelenjar Bartholin bekerja memproduksi cairan. Itulah mengapa orang yang menjalani terapi cara menyeimbangkan hormon kerap merasakan vagina basah.

Semakin tinggi kadar estrogen seseorang, semakin encer pula cairan yang keluar dari vagina. Warna cairan ini adalah bening dan terasa licin. Bisa jadi, ini merupakan tanda seseorang sedang dalam masa subur.

 4. Infeksi

Vagina basah dapat berarti alarm tanda bahaya ketika terjadi infeksi. Ciri-ciri utamanya adalah vagina terasa gatal, perih, hingga muncul sensasi terbakar. Tak hanya itu, keputihan setelah berhubungan juga bisa jadi sinyal terjadinya infeksi.

Beberapa contoh infeksi yang menyebabkan vagina basah dan mengeluarkan keputihan dengan aroma dan warna tidak normal adalah infeksi jamur, vaginosis bakteri, atau infeksi menular seksual lainnya.

5. Vagina berkeringat

Vagina basah juga bisa terjadi karena keringat atau vaginal sweat. Hal ini bisa terjadi saat mendapatkan rangsangan awal saat bercinta, area vagina membesar karena aliran darah lebih kencang. Inilah yang menyebabkan vagina bisa mengalami transudate sehingga terasa lembap di bawah sana.

Menariknya, vagina basah juga bisa terjadi saat tubuh memberikan respons secara fisiologis. Contohnya saat melihat gambar atau membaca sesuatu yang sensual. Meski demikian, bukan berarti hal ini berarti seorang wanita sedang horny atau terangsang.

Artinya, bukan berarti setiap kali seorang wanita mengalami vagina basah berarti dirinya sedang terangsang. Itu hanyalah respons tubuh secara umum yang menunjukkan bahwa vagina sedang menjalankan fungsi anatominya.

Jadi, tak perlu khawatir berlebihan saat merasakan vagina basah. Selama tidak ada aroma dan warna yang berbeda dari biasanya, itu hanyalah respons alami vagina.

Namun apabila terlihat ada yang tidak biasa seperti warna cairan vagina atau keputihan yang kehijauan atau kecokelatan, konsultasikan kepada dokter.

Selain itu, apabila terasa ada yang tidak nyaman seperti rasa sakit, gatal, atau sensasi terbakar di vagina, Anda juga dianjurkan menemui dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Bustle. https://www.bustle.com/articles/77553-how-does-your-vagina-get-wet-heres-a-closer-look-at-where-your-natural-lubrication-comes
Diakses 6 Desember 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/womens-health/vaginal-wetness#9
Diakses 6 Desember 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326504.php#causes
Diakses 6 Desember 2019

Banner Telemed