Ulkus mole merupakan suatu penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan oleh infeksi bakteri
Ulkus mole dapat diobati dengan antibiotik, tetapi kini muncul resistensi.

Ulkus mole atau chancroid merupakan suatu penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh infeksi bakteri Haemophilus ducreyi. Penyakit ini menyebabkan luka terbuka yang nyeri pada alat kelamin. Luka terbuka ini menjadi pintu masuk bagi kuman lain untuk menginfeksi tubuh. Salah satu contoh yang paling penting adalah HIV.

Pengobatan Antibiotik dan Resistensi Kuman Ulkus Mole

Pengobatan ulkus mole yang utama adalah antibiotik. Akan tetapi, kini sudah banyak ditemukan resistensi antibiotik dalam pengobatan ulkus mole. Salah satu studi yang meneliti resistensi kuman ulkus mole menemukan adanya kuman Haemophillus ducreyi yang resisten terhadap antibiotik. Kuman ini ditemukan resisten terhadap sebagian besar antibiotik yang ada, seperti penisilin, karbapenem, eritromisin, kanamisin, kloramfenikol, trimetoprim, dan tetrasiklin.

Saat ini, antibiotik yang direkomendasikan untuk mengobati ulkus mole adalah azitromisin, ceftriaxone, atau ciprofloxacin. Namun ternyata, sudah ditemukan juga kasus ulkus mole yang resisten terhadap pengobatan ciprofloxacin. Sayangnya, belum ada studi tentang pola resistensi kuman Haemophillus ducreyi di Indonesia.

Mengapa Resistensi Bisa Terjadi?

Perlu diingat, hingga saat ini belum ditemukan antibiotik baru yang efektif melawan kuman-kuman yang resisten. Penemuan terakhir antibiotik baru adalah di tahun 1980-an. Kita hanya bisa bergantung pada antibiotik yang sudah ada untuk mengobati ulkus mole.

Masyarakat dunia harus berterima kasih kepada Sir Alexander Fleming atas penemuannya yang menyelamatkan jutaan umat manusia, yaitu antibiotik pertama berupa penisilin. Sejak saat itu, puluhan antibiotik ditemukan. Namun sayangnya kuman-kuman ini mampu beradaptasi terhadap serangan antibiotik dan membentuk kekebalan, yang kemudian berubah menjadi superbug.

Pemilihan Antibiotik yang Ideal

Jika seseorang dicurigai mengidap suatu penyakit infeksi, idealnya dilakukan pemeriksaan kultur darah untuk menemukan secara pasti kuman penyebab infeksi. Tes resistensi antibiotik kemudian dilakukan untuk mengetahui antibiotik yang efektif membunuh kuman. Setelah itu, barulah antibiotik yang sesuai diberikan. Akan tetapi, hal ini cenderung sulit dilakukan untuk ulkus mole karena beberapa alasan berikut:

  • Tes diagnostik untuk ulkus mole tidak efektif, sehingga terapi lebih sering ditentukan berdasarkan “tebakan” sesuai gejala yang ditemukan (pendekatan sindrom).
  • Pemeriksaan kultur dan resistensi antibiotik mahal, butuh waktu lama, dan hanya tersedia di negara-negara besar.

Mencegah Resistensi Antibiotik pada Penyakit Ulkus Mole

Kita dapat berperan aktif dalam mencegah resistensi terhadap penyakit ini. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan:

1. Berkonsultasi dengan Dokter

Jika menemukan luka pada penis atau keluar cairan dari penis yang tidak normal, segera berkonsultasi dengan dokter. Mungkin ada rasa malu karena ini menyangkut hal yang sensitif. Tapi ingat, semakin cepat ulkus mole diobati dengan tepat, tingkat kesembuhannya semakin besar,

2. Menghabiskan Antibiotik Sesuai Pesan Dokter

Jika diresepkan antibiotik, habiskan sesuai pesan dokter walaupun mungkin gejalanya sudah tidak dirasakan lagi. Dengan menghabiskan antibiotik, kuman dipastikan mati seluruhnya dan tidak ada yang dorman (tidur) di dalam tubuh.

3. Memberitahu Pasangan Seksual dan Mengajaknya untuk Berobat

Memberitahu pasangan tentang PMS yang diderita bukanlah hal mudah, tapi wajib dilakukan. Jika Anda sudah sembuh, tapi pasangan belum diobati, maka besar kemungkinan untuk tertular kembali.

4. Tidak Berbagi Antibiotik dengan Orang Lain

Tidaklah bijak untuk berbagi obat kepada orang lain karena penyakitnya bisa jadi tidak sama meskipun gejalanya mirip.

5. Melakukan Pencegahan

Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Praktikkan hubungan seks yang aman untuk hindari ulkus mole dan penyakit menular seksual lainnya.

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/std/tg2015/chancroid.htm. Diakses pada Mei 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/214737-overview.
Diakses pada Mei 2019

Krupp K, Madhivanan P. Antibiotic Resistance in Prevalent Bacterial and Protozoan Sexually Transmitted Infection. Indinan J Sex Transm Dis AIDS. 2015 Jan-Jun;36(1):3-8. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4555895/
Diakses pada Mei 2019

Ison CA, Dillon JR, Tapsall JW. The Epidemiology of Global Antibiotic Resistance Among Neisseria Gonorrhoeae and Haemophilus Ducreyi. The Lancet. 1998;Vol. 351:Suppl 8-11. https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(98)90003-4/fulltext. Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed