Mengapa Trauma Uretra Menakutkan bagi Para Pengendara Motor dan Sepeda?

Straddle injury dapat menyebabkan trauma pada uretra, mulai dari lebam sampai ruptur uretra.
Berkendara motor atau bersepeda dapat menyebabkan trauma uretra.

Dari kota besar sampai daerah pelosok di Indonesia, motor adalah moda transportasi yang banyak dipilih. Begitu juga dengan sepeda, sekarang ini peminat olahraga sepeda semakin meningkat. Pemandangan pengendara sepeda dan motor sama-sama mengarungi kemacetan mungkin sudah tidak asing lagi.

Sudah menjadi rahasia umum juga bahwa keselamatan berkendara di negara kita belum menjadi prioritas. Hal ini didukung dengan angka kecelakaan pengendara motor di Indonesia yang cukup tinggi. Salah satu cedera yang dapat terjadi akibat kecelakaan sepeda motor dan sepeda yang jarang mendapat sorotan adalah straddle injury. Cedera ini merupakan cedera pada daerah selangkangan, yang juga menjadi risiko semua pengendara motor dan sepeda.

Salah satu jenis cedera daerah selangkangan yang khas pada laki-laki adalah trauma pada uretra. Uretra berjalan di dalam perineum sampai ke ujung penis, yaitu bagian selangkangan yang melakukan kontak langsung dengan jok motor atau sepeda saat berkendara.

Trauma Uretra dan Gejalanya

Jika terjadi tabrakan atau jatuh terkena stang saat berkendara motor atau sepeda, bagian uretra yang berjalan di dalam perineum ini paling rentan terkena trauma. Trauma uretra yang terjadi bergantung pada jenis trauma dan keparahannya, mulai dari lebam, berdarah, sampai uretra robek (ruptur uretra).

Uretra yang mengalami trauma dapat menyebabkan gejala berupa:

  • Keluarnya darah dari lubang uretra
  • Tidak dapat buang air kecil
  • Air seni bercampur darah
  • Sakit saat buang air kecil
  • Jika terjadi ruptur uretra, baik sebagian atau seluruhnya, air seni dapat masuk ke jaringan sekitar, menyebabkan pembengkakan atau lebam

Trauma uretra kerap dirasakan sebagai gejala yang ringan sehingga penderitanya seringkali tidak langsung memeriksakan diri ke dokter. Aliran darah ke jaringan yang terkena trauma dapat terganggu (iskemia), menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan akhirnya terjadi penyempitan uretra. Kondisi penyempitan uretra ini disebut sebagai striktur uretra.

Umumnya penderita datang dengan gejala striktur uretra. Selain striktur uretra, komplikasi lain yang dapat disebabkan oleh trauma uretra adalah infeksi dan masalah berkemih.

Penanganan Trauma Uretra

Untuk mencegah komplikasi yang tidak diinginkan, penting bagi Anda untuk memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami straddle injury. Gejala dapat muncul atau tidak sama sekali. Apabila ada darah keluar dari lubang uretra pasca trauma, penderitanya diharuskan untuk lebih waspada. Berikut beberapa penanganan trauma uretra yang perlu dilakukan:

  • Bebat

Jika ada perdarahan yang aktif, bebat ditekan pada bagian yang berdarah untuk membantu menghentikannya.

  • Kompres Dingin

Bungkus es dengan selapis handuk atau kain tipis, lalu tempelkan pada bagian tubuh yg mengalami trauma. Lakukan beberapa kali sehari selama 2-3 hari, masing-masing 15-20 menit. Kompres dingin dapat mengurangi nyeri dan bengkak.

  • Duduk Berendam di Air Hangat

Duduk berendam dalam bak berisi air hangat, dapat membantu mengurangi pembengkakan.

  • Obat Antinyeri

Untuk mengurangi nyeri, Anda dapat meminum obat antinyeri yang dijual bebas di apotik atau took obat lainnya.

  • Pemasangan Sistostomi

Dokter mungkin akan perlu untuk memasang kateter langsung melalui kandung kemih (sistostomi), jika ditemukan tanda-tanda ruptur uretra atau jika Anda sulit buang air kecil. Kateter dimasukkan langsung ke dalam kandung kemih melalui sayatan kecil di perut. Kantong drain dipasang untuk menampung air seni. Pemasangan kateter ini penting untuk menjaga aliran air seni tetap lancar dan mempercepat penyembuhan uretra yang terkena trauma.

  • Operasi

Dalam kasus tertentu atau mengancam nyawa, operasi mungkin dibutuhkan untuk memperbaiki dan menyambungkan kembali jaringan uretra yang rusak.

Salah satu upaya yang dapat Anda lakukan untuk mencegah straddle injury adalah menggunakan jok sepeda motor atau sepeda yang didesain tidak menimbulkan tekanan terlalu besar pada bagian perineum, tetapi lebih memberi tekanan pada bokong. Kendarai motor atau sepeda dengan badan yang tegak. Hindari mencondongkan badan ke stang.

Walaupun mengendarai motor atau sepeda tidak selalu aman, tetapi perlindungan diri dapat diupayakan untuk mencegah cedera-cedera berat.

Urology Care Foundation. https://www.urologyhealth.org/urologic-conditions/urethral-trauma
Diakses pada Mei 2019

Saint Luke’s. https://www.saintlukeskc.org/health-library/understanding-straddle-injury
Diakses pada Mei 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/451797-overview#a11
Diakses pada Mei 2019

European Association of Urology. https://uroweb.org/wp-content/uploads/24-Urological-Trauma_LR1.pdf
Diakses pada Mei 2019

UC San Diego Health. http://myhealth.ucsd.edu/Library/Wellness/AtWork/3,90793
Diakses pada Mei 2019

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. https://www.niddk.nih.gov/health-information/urologic-diseases/perineal-injury-males
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed