logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
Forum
Kesehatan Pria

Toxic Masculinity dan Bahayanya bagi Kesehatan Mental Laki-laki

open-summary

Toxic masculinity adalah anggapan sempit tentang sifat maskulinitas pada laki-laki. Toxic masculinity dapat berbahaya bagi laki-laki, wanita, dan masyarakat.


close-summary

Ditinjau secara medis oleh dr. Reni Utari

19 Okt 2020

toxic masculinity memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan standar maskulin pada laki-laki

Dalam toxic masculinity, sifat pria harus identik dengan kekerasan, agresif secara seksual, dan tidak boleh menunjukkan emosi

Table of Content

  • Apa itu maskulinitas?
  • Apa itu toxic masculinity?
  • Ciri-ciri perilaku toxic masculinity
  • Dampak toxic masculinity bagi kesehatan mental
  • Toxic masculinity juga berbahaya bagi perempuan dan masyarakat
  • Bagaimana cara mencegah perilaku toxic masculinity?
  • Catatan dari SehatQ

Sejak kecil, banyak anak laki-laki yang diajarkan untuk menjadi pria yang tangguh, kuat, bahkan tak jarang mengandalkan kekerasan. Beberapa pria dewasa kemudian juga memandang aktivitas “rumahan” seperti memasak dan menyapu hanya patut dilakukan perempuan. Anggapan dan perilaku ini merupakan contoh dari toxic masculinity.

Advertisement

Seperti apa toxic masculinity tersebut? Simak informasinya berikut ini.

Apa itu maskulinitas?

Sebelum membahas perihal toxic masculinity, sedikit akan kita bahas mengenai apa itu maskulinitas terlebih dahulu. Secara harfiah, maskulin adalah kualitas atau penampilan yang secara tradisional dikaitkan dengan laki-laki.

Maskulin juga dianggap sebagai konsep abstrak yang dinilai melalui sejumlah karakteristik berdasarkan gender.

Umumnya, seorang laki-laki akan dianggap maskulin jika memiliki sejumlah karakteristik sifat yang memenuhi ‘standar’ kelaki-lakian, seperti:

  • Kekuatan
  • Kekuasaan
  • Agresif
  • Aksi
  • Penuh kendali
  • Mandiri
  • Kepuasan diri
  • Kesetiakawanan.

Akan tetapi, karakteristik sifat di atas dianggap usang karena kenyataannya tidak semua laki-laki memilikinya. Seorang laki-laki juga bisa memiliki sifat yang dianggap sebagai feminin, seperti lemah lembut atau sensitif. Begitu pula pada wanita, yang bisa memiliki sejumlah karakteristik yang dianggap sebagai maskulin.

Baca Juga

  • Mengenal Micropenis yang Sebabkan Ukuran Penis Kecil
  • Cara Menghadapi Pelaku Playing Victim di Sekitar Anda
  • Gangguan Kepribadian Ganda Bisa Muncul Akibat KDRT pada Anak

Apa itu toxic masculinity?

Toxic masculinity adalah anggapan sempit terkait peran gender dan sifat laki-laki. Orang yang disebut toxic masculinity biasanya menganut paham bahwa kekerasan, agresif secara seksual, dan menutupi emosi (khususnya sedih dan tangis) adalah sifat wajib yang harus dimiliki pria untuk menjadi lelaki yang "seutuhnya". 

Pengertian yang sama juga diungkapkan oleh sebuah studi yang dimuat dalam Journal of School Psychology. Menurut studi tersebut, toxic masculinity diartikan sebagai kumpulan sifat maskulin dalam masyarakat yang ditujukan untuk mendorong adanya dominasi, kekerasan, merendahkan perempuan, hingga homofobia.

Pengertian toxic masculinity memang sesuai dengan makna harfiahnya, yakni maskulinitas 'beracun'. Artinya, orang yang menunjukkan perilaku ini memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan standar maskulinitas pada diri seorang laki-laki. 

Ciri-ciri perilaku toxic masculinity

Contoh toxic masculinity adalah melakukan kekerasan terhadap wanita
Melakukan kekerasan pada orang lain, terutama wanita, merupakan bentuk maskulinitas beracun

Agar bisa lebih memahami perilaku ini, berikut sejumlah ciri toxic masculinity yang umum ditemui:

  • Punya pandangan bahwa laki-laki tidak seharusnya mengeluh dan menangis
  • Cenderung bersikap kasar terhadap orang lain
  • Ingin mendominasi orang lain
  • Agresif bahkan kasar secara seksual terhadap pasangan maupun orang lain
  • Laki-laki tidak perlu membela hak perempuan dan kaum marjinal lain
  • Menganggap 'keren' tindakan-tindakan yang berisiko, seperti berkendara dalam kecepatan tinggi, minum alkohol, dan bahkan mengonsumsi obat-obatan terlarang
  • Menganggap bahwa kegiatan memasak, menyapu rumah, berkebun, dan mengasuh anak adalah tugas perempuan

Dampak toxic masculinity bagi kesehatan mental

Meski tampak seperti lumrah, nyatanya toxic masculinity bisa berbahaya bagi kesehatan mental. Hal ini berisiko memunculkan batasan mengenai sifat pria dalam hidup dan bermasyarakat.

Bukan tidak mungkin hal ini malah dapat menimbulkan konflik, baik di dalam diri pria itu sendiri ataupun lingkungan sekitarnya.

Konsep maskulin yang keliru ini juga dapat menjadi beban bagi para pria yang dianggap tidak memenuhi "standar" yang telah diyakini.  Apabila seorang pria dibesarkan dalam lingkungan yang mengagungkan toxic masculinity, ia jadi menganggap bahwa dirinya hanya harus menunjukkan sifat maskulin dalam arti sempit tersebut agar bisa diterima di masyarakat. 

Sebagai contoh, pria didoktrin untuk tidak boleh menunjukkan kesedihan apalagi sampai berujung tangisan. Menunjukkan rasa sedih dan menangis diyakini merupakan karakterisitik feminin, yang hanya boleh dilakukan oleh perempuan. 

Menahan emosi terus-menerus pada akhirnya dapat berujung pada masalah kesehatan mental, seperti stres dan depresi.

Lebih gawat lagi, ada yang menganggap bahwa mencari pertolongan ahli kejiwaan juga dianggap sebagai sikap feminin. Alhasil, pria dilaporkan lebih jarang melakukan konsultasi psikologis (konseling) dengan psikolog maupun psikiater. 

Toxic masculinity juga berbahaya bagi perempuan dan masyarakat

Faktanya, bahaya toxic masculinity tidak hanya untuk pria. Masyarakat, khususnya wanita, juga berpotensi menjadi korban perilaku negatif ini.

Pria yang mengagungkan konsep maskulinitas yang salah akhirnya menganggap dirinya harus lebih dominan dan punya nilai yang lebih baik dibandingkan perempuan. Bahkan, mereka juga menganggap pelecehan dan kekerasan seksual adalah tindakan yang 'wajar' sebagai seorang laki-laki. 

Hal tersebut tentu pada akhirnya akan merugikan perempuan sebagai korbannya. Anggapan itu pula yang tak bisa dipungkiri menjadi salah satu penyebab kekerasan dalam rumah tangga hingga pelecehan seksual atau bahkan pemerkosaan.

Menurut lembaga non-profit Do Something, 85 persen korban kekerasan dalam rumah tangga adalah perempuan.

Toxic masculinity yang tidak terkendali juga bisa memicu terjadinya sejumlah hal berikut ini:

Bagaimana cara mencegah perilaku toxic masculinity?

Cara efektif untuk mencegah toxic masculinity adalah mengedukasi anak sejak dini, khususnya anak laki-laki. Berikut ada sejumlah tips yang bisa Anda terapkan pada si Kecil:

  • Sampaikan bahwa tidak ada salahnya bagi anak laki-laki untuk menunjukkan rasa sedih dan menangis, serta mengungkapkan segala keluh kesah yang dirasakan
  • Ajarkan pada anak untuk tidak mengucapkan kata-kata yang terkesan merendahkan perempuan seperti, “cara jalanmu seperti perempuan” atau “cara berbicaramu seperti perempuan”
  • Kenali konsep konsensual sejak dini dengan menyesuaikan umur anak laki-laki Anda. Misalnya, beritahu bahwa setiap orang butuh kesepakatan dan persetujuan dari lain pihak jika hendak melakukan sesuatu yang melibatkan pihak lain.
  • Anda juga bisa memberi pemahaman bahwa tubuh setiap orang adalah milik orang tersebut, sehingga ia tak bisa sembarangan menyentuh atau memeluk tanpa izin dari orang yang bersangkutan. 
  • Hati-hati dan selalu pantau anak Anda ketika tengan mengakses konten hiburan. Apabila Anda melihat adanya elemen toxic masculinity di dalam konten hiburan tersebut, entah itu buku atau film, Anda bisa memberikan pemahaman bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang patut untuk dicontoh.

Catatan dari SehatQ

Toxic masculinity membuat beberapa pria terjebak dalam standar dan definisi tentang menjadi laki-laki yang berlebihan. Perilaku ini bisa berbahaya bagi sang pria dan wanita atau orang di sekitarnya.

Untuk mendapatkan informasi lain terkait kesehatan mental pria, Anda bisa menanyakan ke dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Aplikasi SehatQ bisa di-download di App Store dan Playstore yang selalu mendampingi hidup sehat Anda

Advertisement

bullyingtraumakekerasangangguan psikologiskesehatan pria

Ditulis oleh Arif Putra

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq
    FacebookTwitterInstagramYoutubeLinkedin

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Perusahaan

Dukungan

Butuh Bantuan?

Jam operasional:
07:00 - 20:00 WIB

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2023. All Rights Reserved