Penyebab susah BAB saat berpuasa adalah kurangnya cairan dalam tubuh
Kurangnya cairan dapat menyebabkan susah BAB saat puasa

Perubahan pola makan ketika bulan Ramadan membuat sistem pencernaan membutuhkan penyesuaian. Salah satu masalah yang paling sering terjadi adalah susah BAB saat puasa.

Penyebab susah BAB saat puasa adalah kurangnya jumlah serat, kurang cairan, serta jarang bergerak. Tentu saja kondisi ini membuat tak nyaman terutama ketika sedang berpuasa.

Bagaimana cara mengatasi susah BAB saat puasa?

[[artikel-terkait]]

7 Tips mengatasi susah BAB saat puasa

Berikut beberapa tips untuk menjaga pencernaan sehingga berfungsi sebagaimana mestinya saat berpuasa.

1. Makan makanan berserat

Konsumsi makanan berserat akan melancarkan proses pencernaan. Hal ini disebabkan serat tidak dapat dihancurkan dan diserap oleh sistem pencernaan manusia.

Oleh karena itu, serat akan memenuhi usus dan menimbulkan dorongan untuk buang air besar. Konsumsi makanan yang mengandung serat tinggi seperti kacang, sayur, buah, atau gandum.

Salah satu buah yang sering dijumpai saat bulan puasa adalah kurma. Kurma sebagai buah pilihan favorit saat puasa diketahui memiliki kemampuan dalam membantu mempercepat proses pencernaan.

Jadi, selain sebagai santapan berbuka, kurma juga berguna untuk membantu mengatasi susah BAB saat puasa.

2. Mengurangi konsumsi makanan rendah serat

Selama bulan puasa, hindarilah mengkonsumsi makanan rendah serat seperti makanan kalengan, produk susu, dan daging. Makanan ini berpotensi membuat adanya perubahan pada pencernaan Anda, baik diare atau susah BAB.

3. Minum air putih yang cukup

Kebutuhan manusia akan air sudah diketahui semua orang. Orang yang tidak berpuasa saja akan mengalami kehausan sewaktu-waktu, apalagi mereka yang sedang berpuasa.

Oleh karena itu, penting untuk meminum air putih yang cukup ketika berbuka hingga sahur. Air putih juga akan membantu lancarnya pencernaan dengan menambah konsentrasi air pada feses sehingga lebih mudah untuk keluar.

Minum 8 gelas air putih sehari dikatakan cukup memenuhi kebutuhan tubuh sehari. Saat puasa, jumlah ini dapat terbagi menjadi pola 2-4-2, 2 gelas saat berbuka, 4 gelas saat makan malam, dan 2 gelas saat sahur. Jumlah ini merupakan jumlah minimal sehari.

Jadi Anda boleh dan tentu sangat baik jika meminum air lebih dari 8 gelas air putih agar tidak susah BAB saat puasa.

4. Tetap beraktivitas

Saat berpuasa, aktivitas harus tetap berlangsung seperti biasa. Mengurangi aktivitas justru akan berdampak pada menurunnya aktivitas saluran pencernaan yang dapat menyebabkan susah BAB.

5. Mengatasi stres

Stres diketahui menyebabkan melambatnya pergerakan usus yang akan membuat tidak lancarnya sistem pencernaan. Atasi stres dengan cara yang benar. Isi kegiatan Anda saat bulan Ramadan dengan hal-hal yang positif dan dekatkan diri pada Sang Pencipta.

6. Tidak menahan dan menunda ketika ada dorongan untuk buang air besar

Ketika ada “panggilan alam”, bergegaslah beranjak dari tempat Anda berada menuju kamar mandi untuk menjawab panggilan tersrbut.

Menunda buang air besar akan membuat pencernaan Anda terganggu. Konsentrasi air pada kotoran akan terus berkurang hingga membuar kotoran menjadi keras saat Anda berusaha mengeluarkannya.

7. Usahakan membuat kebiasaan buang air besar terutama setelah makan

Membuat kebiasaan baru perlu waktu. Biasakanlah buang air besar secara rutin setiap hari terutama setelah makan malam. Sesaat setelah makan, gerakan pada usus akan meningkat dan berpotensi untuk menimbulkan rangsangan untuk buang air besar.

Demikian 7 tips dari kami agar pencernaan tetap lancar dan terhindar dari susah BAB saat puasa. Selamat menjalankan ibadah puasa.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation/symptoms-causes/syc-20354253
Diakses 29 April 2019

Lacy BE, Mearin F, Chang L, Chey WD, Lembo AJ, Simren M, Spiller R. Bowel disorders. Gastroenterology. 2016 May 1;150(6):1393-407

Tang ZX, Shi LE, Aleid SM. Date fruit: chemical composition, nutritional and medicinal values, products. Journal of the Science of Food and Agriculture. 2013 Aug 15;93(10):2351-61

Artikel Terkait

Banner Telemed