logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Apa Itu Pedofil? Ini Ciri-Ciri, Penyebab, dan Penangannya

open-summary

Pedofil adalah orang dewasa (berusia di atas 16 tahun) yang menderita kelainan seksual berupa suka kepada anak-anak bahkan bayi. Penyimpangan ini dapat ditandai dengan fantasi dan dorongan seksual yang intens terhadap anak kecil.


close-summary

5

(1)

8 Feb 2022

| Asni Harismi

Ditinjau oleh dr. Karlina Lestari

Bahaya pedofil mengancam anak-anak

Orangtua punya peran penting dalam menghindarkan anak dari bahaya pedofil

Table of Content

  • Apa itu pedofil?
  • Ciri-ciri pedofil
  • Perilaku pedofil
  • Penyebab pedofil
  • Penanganan pedofil
  • Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk menghindarkan anak dari pedofil?

Pedofil adalah orang dewasa (berusia di atas 16 tahun) yang menderita kelainan seksual berupa suka kepada anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun bahkan bayi. Penyimpangan seksual ini ditandai dengan munculnya fantasi atau nafsu birahi ketika orang tersebut melihat anak-anak.

Advertisement

Di era digital ini, pedofil bahkan sudah merambah ke dunia digital, terutama melalui media sosial yang kemudian merambah ke aplikasi berbalas pesan pribadi seperti WhatsApp.

Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua mengetahui arti pedofil dan hal yang harus dilakukan untuk menghindarkan anak dari bahaya predator seksual ini.

Apa itu pedofil?

Pedofilia adalah kelainan seksual yang bisa ada dalam diri siapa saja, namun lebih banyak diidap oleh laki-laki. Sementara itu, anak-anak yang menjadi korbannya bisa laki-laki maupun perempuan, mulai dari bayi, balita, hingga remaja.

Di dunia maya, pedofil bahkan bisa menyamarkan identitas mereka dan mengubah karakter menjadi seperti orang yang disukai anak-anak. Tujuan orang-orang pedofil ini bermacam-macam, misalnya:

  • Memperoleh foto anak-anak yang tidak mengenakan busana
  • Bertemu kemudian melakukan pelecehan seksual secara fisik pada anak
  • Berbicara pornografi atau bermain peran dengan tema yang melecehkan anak secara seksual
  • Meminta imbalan finansial.

Untuk mencapai tujuan ini, pedofil akan terlebih dahulu membangun kepercayaan anak-anak atau disebut grooming. Grooming terjadi dengan beberapa tahap, yaitu:

  1. Pedofil menyanjung anak, menunjukkan minat yang sama, atau membombardir akun media sosial anak dengan komentar positif selama beberapa jam hingga hitungan bulan.
  2. Pedofil juga akan mengetahui kedekatan anak dengan orangtua. Jika orangtua sedikit atau tidak mengawasi sama sekali, ia akan meningkatkan ‘serangan’ dalam waktu singkat.
  3. Pedofil akan meyakinkan anak bahwa hal-hal yang berbau pornografi adalah normal, misalnya dengan mengirim foto alat kemaluan si pedofil atau foto eksplisit anak-anak korban pelecehan dia sebelumnya kepada si calon korban.
  4. Terakhir, pedofil akan meminta anak untuk melakukan keinginannya, seperti mengirim foto atau video tanpa busana, bertatap muka langsung, bermain peran, atau meminta anak mengirimkan sejumlah uang.

Jika Anda mengindikasi anak sedang menjadi sasaran pedofil, segera ambil langkah perlindungan terhadap anak Anda. Bila perlu, Anda juga dapat lapor polisi atau lembaga perlindungan anak.

Ciri-ciri pedofil

anak menjadi fantasi seks pedofil
Pedofil menjadikan anak sebagai fantasi seks

Seorang pedofil merasa terangsang secara seksual terhadap anak di bawah umur, tetapi pada saat yang bersamaan juga bisa merasa sangat tertekan. Sebab, gangguan ini sering kali membuat pelaku memiliki kecemasan dan rasa bersalah.

Namun, gangguan pedofilia bukanlah orientasi seksual. Kondisi ini termasuk ke dalam parafilia atau gangguan seksual menyimpang. Seseorang dikatakan mengalami pedofilia jika gangguan ini terjadi setidaknya selama 6 bulan. Adapun ciri-ciri pedofil adalah:

  • Lebih akrab dengan anak-anak daripada orang dewasa
  • Memiliki fantasi dan dorongan seksual yang intens terhadap anak-anak
  • Mencari kegiatan yang melibatkan anak-anak pada kelompok usia yang ia suka
  • Sering memberi hadiah atau mengajak anak jalan-jalan
  • Senang memerhatikan anak yang disukainya
  • Mencari alasan untuk bisa berduaan dengan anak
  • Sering menonton konten pornografi antara anak-anak dengan orang dewasa
  • Cenderung ingin menyentuh-nyentuh anggota tubuh anak
  • Membicarakan anak-anak layaknya kekasih atau pasangan dewasa.

Perilaku pedofil

Perilaku menyimpang pedofilia biasanya bermula saat remaja, di mana pelakunya merasakan fantasi atau dorongan seksual kepada anak-anak. Umumnya, korban pedofil adalah anak kecil yang berada di lingkungan terdekatnya, misalnya saudara atau tetangga.

Dilansir dari Psychology Today, studi menunjukkan bahwa anak yang merasa kurang perhatian atau kesepian berisiko lebih tinggi menjadi korban pedofilia.

Awalnya, pelaku akan mengiming-imingi anak dengan memberinya hadiah atau mengajaknya berjalan-jalan. Ketika anak sudah merasa dekat, pelaku pedofil akan melancarkan aksinya. Tindakan yang diinginkan pelaku sering kali melibatkan oral seks atau menyentuh alat kelamin.

Korban pun merasa takut untuk menolak keinginan pelaku. Hal ini bisa menyebabkan korban merasa frustrasi, cemas, hingga depresi. Dalam kasus tertentu, korban melampiaskan amarahnya pada diri sendiri bahkan orang lain.

Penyebab pedofil

Penyebab pedofilia belum diketahui secara pasti. Namun, gangguan ini disinyalir dapat diturunkan dari keluarga entah berasal dari genetika atau perilaku yang dipelajari. Selain itu, terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang menjadi pedofil, yaitu:

  • Menjadi korban pelecehan seksual pada masa kanak-kanak
  • Memiliki kelainan pada otak, yaitu lebih sedikit materi putih (sirkuit penghubung) di otak
  • berbagai kelainan neurologis dan psikologis.

Seorang pedofil menyadari memiliki ketertarikan seksual pada anak-anak sekitar waktu pubertas. Namun, rasa malu dan takut sering kali membuatnya enggan berkonsultasi pada psikolog atau psikiater untuk mendapat penanganan yang tepat.

Penanganan pedofil

Penanganan pedofil adalah untuk membantu mengendalikan perasaan dan ketertarikan pada anak-anak. Dengan mendapat penanganan yang tepat, diharapkan seorang pedofil bisa menahan diri agar tidak melanjutkan perasaannya menjadi aktivitas seksual.

Perawatan yang dapat dilakukan sebagai penanganan pedofil adalah:

  • Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif dilakukan untuk mengubah pola pikir dan perasaan seorang pedofil terhadap anak-anak. Dalam terapi ini akan dibangun rasa empati terhadap anak korban kekerasan seksual agar tidak ada keinginan melakukan hal yang tidak baik pada anak.

Selain itu, terapi perilaku kognitif juga akan mengajarkan cara mencegah kambuhnya gangguan, menghindari atau mengalihkannya dengan hal positif, serta membuat sistem pengawasan agar tidak terdorong untuk melakukan hal yang sama.

  • Obat-obatan

Untuk menyertai psikoterapi dalam menangani pedofilia, obat-obatan juga mungkin diresepkan oleh psikiater.

Obat-obatan tertentu, seperti medroxyprogesterone acetate dan leuprolide acetate, dapat menekan produksi hormon testosteron sehingga gairah seks seorang pedofil menurun. 

Jika Anda atau orang terdekat mengindikasikan gangguan pedofil, sebaiknya segera cari bantuan psikolog atau psikiater.

Baca Juga

  • Mengenal Apa Itu Strict Parents, Ciri-Ciri, dan Dampaknya
  • Perhatikan Hal Berikut Ini Saat Mengajak Bayi Naik Pesawat
  • 9 Hewan Peliharaan Lucu dan Jinak untuk Anak serta Cara Merawatnya

Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk menghindarkan anak dari pedofil?

anak bercerita pada ibu
Bersikap terbuka pada anak dapat membuatnya merasa nyaman untuk bercerita

Orangtua tidak bisa selamanya melakukan larangan ini-itu kepada anak agar terhindar dari pedofil. Sebaliknya, Anda dapat melakukan pendekatan personal kepada anak dan mengajarkan beberapa hal dasar agar ia bisa melindungi dirinya sendiri dari pedofil, seperti:

1. Mengenalkan bagian-bagian tubuh anak yang bersifat privat

Langkah ini sudah bisa dimulai sejak anak berusia 3 tahun. Praktisi anak bahkan menyarankan orangtua untuk mengenalkan nama bagian tubuh itu sesuai aslinya, misalnya ‘payudara’ daripada ‘nenen’, ‘penis’ daripada ‘pipis’, dan sebagainya.

2. Berikan batasan bagian tubuh yang boleh disentuh/diperlihatkan pada orang lain

Jelaskan kepada anak dengan bahasa yang sederhana bahwa bagian tubuh tertentu, terutama area genital dan payudara (terutama bagi anak perempuan) tidak boleh disentuh, kecuali oleh orangtua. Jelaskan pula bahwa area privat tersebut tidak boleh diperlihatkan kepada siapa pun, apalagi bila tidak sepengetahuan orangtua.

Anda tidak perlu menjelaskan bahwa di luar sana ada orang jahat yang mengincar anak-anak karena itu akan membuat anak overwhelmed atau kewalahan dengan penjelasan Anda. Cukup berikan pengertian bahwa bagian tubuh tersebut harus ia lindungi.

3. Waspadai juga orang yang Anda kenal

Tidak sedikit orangtua yang keliru menganggap pedofil hanya bisa datang sebagai orang asing yang sama sekali belum dikenal oleh anak. Faktanya, 80-90 persen predator anak merupakan orang yang kenal atau justru dekat dengan buah hati Anda sehari-hari.

4. Terbuka kepada anak

Pedofil biasanya menggunakan sandi ‘ini rahasia kita, jangan beritahu ibu dan ayah supaya kamu tidak dimarahi’ untuk mendapatkan kepercayaan anak. Sebelum hal ini terjadi, Anda dapat terlebih dahulu merebut kepercayaan buah hati Anda sendiri dengan selalu terbuka dan memintanya untuk menceritakan semua kegiatannya di hari itu.

5. Percaya pada anak

Di sisi lain, Anda juga harus percaya bahwa anak Anda adalah individu yang bisa mandiri. Jika Anda selalu menyalahkan anak atas hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip Anda, anak juga akan melakukan yang sebaliknya sehingga ia akan segan bercerita pada Anda jika memiliki masalah atau mungkin sedang diincar oleh pedofil.

Intinya, Anda harus membangun hubungan yang dekat dengan anak. Ketika anak sudah merasa nyaman dengan keluarganya sendiri, maka ia cenderung akan terbuka dan mendengarkan nasihat dari orangtua, apalagi nasihat itu demi kebaikannya sendiri. Jangan sampai anak menjadi korban pedofil hingga kesehatan mentalnya terganggu.

Sementara itu, jika Anda memiliki pertanyaan seputar kesehatan, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga.

Advertisement

tips parentingcara mendidik anak

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved