4 Tips Mengajari Anak Berhenti Berak Celana

(0)
22 Jun 2020|Azelia Trifiana
Encopresis merupakan salah satu penyebab anak berak celanaEncopresis bisa menjadi penyebab anak sering berak celana
Mungkin tidak sedikit orangtua yang pernah merasa frustrasi ketika anaknya belum juga tuntas melakukan toilet training. Atau, sudah berhasil tidak lagi memakai popok selama beberapa bulan, tapi tiba-tiba kembali berak celana alias BAB di celana. Jika ingin mengajari anak agar tidak lagi melakukannya, kenali dulu apa pemicunya.Jangan dulu terbawa emosi ketika anak BAB di celana. Berak celana belum tentu berarti anak malas buang air ke kamar mandi atau melakukannya dengan sengaja. Bagi anak berusia di atas 4 tahun, ada kondisi disebut encopresis, yaitu saat anak tidak bisa mendeteksi keinginan mereka untuk buang air besar.

Apa itu encopresis?

Mungkin ketika encopresis terjadi, orangtua akan berpikir si kecil sedang mengalami diare. Namun berbeda dengan diare, encopresis membuat berak celana terjadi lebih sering bahkan ketika pencernaan anak sedang baik-baik saja.Ini terjadi karena ada penumpukan kotoran di usus besar sehingga sarafnya tidak bisa memberi sinyal pada otak bahwa inilah saatnya untuk buang air besar. Apabila dibiarkan, encopresis bisa membuat anak kehilangan nafsu makan atau merasakan nyeri di perut mereka.Belum lagi jika anak mengalami BAB keras, maka kulit di sekitar anus bisa robek. Bukan tidak mungkin ke depannya anak justru menahan buang air besar karena tidak ingin merasakan sakit lagi. Ini adalah siklus yang tidak sehat bagi sistem pembuangan mereka.Semakin sering anak menahan BAB karena tidak ingin merasakan nyeri akibat feses yang keras, semakin terganggu pula kinerja saraf yang memberi sinyal bahwa ini saatnya untuk BAB ke kamar mandi.

Cara mengajari anak berhenti BAB di celana

Secara bertahap, orangtua bisa mengajari anak cara berhenti BAB di celana. Ingat, encopresis bukanlah masalah perilaku atau kurangnya pengendalian diri anak saja. Jadi, memberikan hukuman bukanlah solusi yang tepat.Konsultasikan kepada dokter spesialis anak bagaimana cara mengatasi kondisi ini. Beberapa langkah penanganan yang bisa dilakukan secara bertahap di antaranya:

1. Mengosongkan rektum dan usus

Bergantung pada usia anak, dokter akan merekomendasikan konsumsi obat yang bisa membuat feses menjadi lebih lunak. Namun ingat, pemberian obat semacam ini hanya boleh dilakukan di bawah supervisi dokter khusus. Jangan berikan obat sembarangan tanpa berkonsultasi sebelumnya.

2. Atur jadwal

Ketika anak mulai mengonsumsi obat yang bisa melunakkan feses atau laksatif, segera atur jadwal teratur kapan waktunya BAB di kamar mandi. Cara ini penting untuk memberi kesempatan bagi usus agar menyusut ke ukuran normal. Terlebih bagi anak yang mengalami encopresis, otot di sekitar usus pernah meregang maksimal sehingga perlu waktu untuk pulih.Orangtua bisa menyusun jadwal buang air besar setelah makan. Pada tahap ini, usus mendapatkan stimulasi secara alami. Berikan waktu bagi mereka untuk duduk selama 5-10 menit sehingga mereka bisa fokus pada sinyal dari sistem pencernaannya.

3. Tetap tenang

Jangan sekalipun menunjukkan rasa kesal atau frustrasi di depan anak-anak, terutama setelah terjadi insiden berak celana. Ini hanya akan membuat anak bereaksi dengan sama negatifnya dan tidak bisa memutus siklus masalah sinyal mereka saat ingin buang air besar.

4. Berikan kepercayaan

Secara bertahap ketika jadwal buang air besar sudah menjadi lebih teratur, berikan kepercayaan lebih kepada mereka. Sekaligus, berikan privasi ketika mereka sedang buang air besar. Ajarkan juga bagaimana membersihkan anus dan toilet setelah menuntaskan BAB. Apresiasi jika mereka sudah berhasil.Ada banyak cara kreatif yang bisa dilakukan untuk membantu anak mengatur jadwal buang air besar yang teratur, sekaligus menghindari BAB di celana. Lakukan secara perlahan dan menyenangkan, seperti memasang stiker reward di pintu kamar mandi atau melakukan validasi atas emosi yang mereka rasakan setiap harinya.Sebisa mungkin hindari menunjukkan emosi negatif seperti berteriak atau menyalahkan anak-anak karena hanya akan membuat mereka merasa bersalah. Tidak akan ada solusi pada situasi seperti itu terutama jika anak mengalami encopresis, bukan sekadar masalah perilaku.
tips parentingparenting stressgaya parenting
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/encopresis.html
Diakses pada 7 Juni 2020
Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/how-to-stop-toddlers-from-pooping-in-their-pants-290227
Diakses pada 7 Juni 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/encopresis
Diakses pada 7 Juni 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait