Tips Jitu Bicarakan Menstruasi Pertama dengan Anak Tanpa Canggung

Menstruasi pertama bagi para remaja wanita bisa saja membuat panik dan cemas
Menyambut menstruasi pertama bisa saja membuat panik para remaja wanita.

Sebagian besar orangtua merasa canggung jika harus membicarakan tentang menstruasi pertama dengan putri mereka ketika memasuki masa pubertasnya. Namun membekali anak dengan pengetahuan ini tergolong penting agar ia siap menghadapi tahap menuju keremajaan.

Mayoritas anak perempuan akan mendapatkan menstruasi pertamanya di usia 11 hingga 14 tahun. Namun tidak semua remaja wanita mengalami pada usia yang sama.

[[artikel-terkait]]

Sebagian ada yang haid di usia lebih awal, yaitu umur sembilan tahun. Sementara sebagian yang lain mungkin saja mengalaminya lebih lambat, yakni di usia menjelang 16 tahun.

Cepat atau lambat menstruasi pertama datang, orangtua (terutama ibu) dianjurkan untuk mempersiapkan putri mereka. Berikan pengetahuan agar mereka terhindar dari cemas dan panik, maupun terpaan informasi yang keliru. Nah, bagaimanakah cara tepat membahas topik ini dengan putri Anda?

Kenali tanda-tanda jelang menstruasi pertama pada anak Anda

Jika putri Anda sudah memperlihatkan tanda-tanda berkembangnya hormon kewanitaan dan sistem reproduksi, Anda pun sebaiknya bersiap-siap untuk memperkenalkan topik menstruasi perdana dengannya. Perkembangan hormon ini dapat terlihat dari payudaranya yang semakin berisi, kemunculan bulu ketiak, serta pertambahan tinggi badan yang cepat.

Biasanya, anak perempuan akan mengalami menstruasi pertama pada dua tahun setelah payudaranya mulai berkembang. Sinyal lain yang sering kali menjadi tanda datangnya haid pertama ialah adanya lendir keputihan pada celana dalam putri Anda. Ini umumnya menandakan bahwa haid perdana akan terjadi dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan.

Apa saja yang harus Anda katakan pada putri Anda?

Pertama-tama, yang harus Anda lakukan adalah mencari waktu yang tepat untuk membicarakan menstruasi pertama pada putri Anda. Pilih waktu yang santai, misalnya di akhir pekan saat pekerjaan rumah anak tidak menumpuk dan ia tidak sedang bersama teman-temannya.

Biasanya, pembicaraan ini akan terasa lebih nyaman ketika dilakukan oleh ibu. Sedangkan bagi ayah yang berstatus single parent, sebaiknya meminta bantuan pada perempuan yang paling dekat dengan putri Anda (misalnya, nenek atau bibi).

Kalau tidak memungkinkan, sang ayah sebaiknya mempelajari seluk-beluk haid pertama terlebih dulu untuk membekali diri sekaligus mengantisipasi pertanyaan dari putrinya.

Berikut hal yang bisa Anda lakukan untuk membantu putri Anda menyongsong menstruasi pertamanya.

1. Jelaskan gambaran umum mengenai menstruasi pertama

Putri Anda mungkin akan bertanya-tanya seperti apa haid pertama yang akan ia alami. Merupakan reaksi yang wajar jika ia bertanya mengenai sakit atau tidak saat menstruasi, kenapa bisa keluar darah dari vagina, berapa lama menstruasi berlangsung, hingga bagaimana caranya membersihkan darah haid.

Anda bisa menjelaskan secara perlahan-lahan, dimulai dari fakta bahwa darah menstruasi pertama bisa berwarna merah, cokelat, bahkan kehitaman. Tekankan juga pentingnya menjaga kebersihan pada masa ini. Salah satunya dengan mengganti pembalut setiap empat hingga enam jam agar terhindar dari bakteri dan infeksi.

2. Jelaskan jenis-jenis pembalut

Pembalut memiliki beberapa jenis, dari pembalut sekali pakai atau pembalut kain yang bisa digunakan berulang kali. Mereknya permbalut sekali pakai juga bermacam-macam.

Jelaskan pada putri Anda bahwa pembalut jenis apapun bisa menjadi pilihannya karena sama-sama berfungsi sebagai penampung darah menstruasi. Yang penting adalah daya serap pembalut dan kenyamanan penggunanya.

3. Bawa perlengkapan menstruasi untuk berjaga-jaga

Ketika usia putri Anda sudah memasuki detik-detik menstruasi perdana, pastikan ia selalu membawa pembalut atau pakaian ganti. Pasalnya, haid pertama bisa terjadi di rumah, sekolah, maupun tempat lain yang tak terduga. Pastikan putri Anda siap mengantisipasi dengan kemungkinan ini.

4. Jangan terlalu detail menjelaskan sisi negatif menstruasi

Semua perempuan yang sudah mengalami menstruasi tentu paham banyak sisi negatif dari tamu bulanan ini. Kram, jerawat, sakit perut, payudara sensitif, hingga sindrom pra-menstruasi (PMS) adalah hal biasa bagi para wanita menjelang atau selama menstruasi berlangsung.

Efek samping haid juga tentu harus dijelaskan pada putri Anda agar ia tidak panik saat mengalaminya. Namun hindari penjelasan terlalu rinci atau terkesan membesar-besarkan masalah untuk menghindari munculnya rasa takut pada putri Anda.

Yakinkan juga bahwa merasakan gejala menstruasi adalah hal yang normal dan dialami banyak wanita. Gejala-gejala tersebut pun bisa reda sendiri atau dengan mengonsumsi obat peredi nyeri haid yang dijual bebas di apotek-apotek terdekat jika benar-benar diperlukan atau dengan menggunakan bantal pemanas yang diletakkan di perut atau punggung bawah.

Selain mempersiapkan putri Anda, Anda sendiri juga harus waspada jika ia tidak juga mengalami menstruasi pertama meski usianya sudah menginjak 16 tahun. Pun saat haid perdana sudah datang, tapi volume perdarahan terlalu deras dan kram haid sangat menyakitkan, segera konsultasikan ke dokter.

Artikel Terkait

Banner Telemed