Time Out, Metode Mendisiplinkan Anak yang Bisa Dilakukan Orangtua

(0)
16 Mar 2021|Fadli Adzani
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Di dalam metode time out, orangtua tidak boleh menggunakan kekerasan.Time out adalah metode mendisiplinkan anak tanpa kekerasan.
Saat anak terus menunjukkan perilaku buruk di dalam atau luar rumah, orangtua harus mencari cara untuk mendisiplinkan mereka. Salah satu cara efektif yang bisa dicoba adalah time out.Time out merupakan teknik yang telah dilakukan banyak orangtua selama puluhan tahun lamanya. Sebagian besar dokter anak juga merekomendasikan time out untuk mengatasi perilaku buruk, seperti membangkang dan melakukan kekerasan fisik.

Apa itu time out?

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Amerika Serikat (CDC), time out adalah metode mendisiplinkan anak yang dilakukan dengan cara melarangnya untuk berbicara dengan siapa pun, tidak memberikannya perhatian, hingga membawanya pergi dari tempat di mana perilaku buruk terjadi dan memintanya duduk di kursi.Metode time out sendiri diciptakan oleh Arthur W. Staats, seorang psikolog asal Amerika Serikat pada tahun 1950-an untuk melatih kedisiplinan anak.Time out adalah metode mendisiplinkan anak yang dapat membuat Si Kecil merasa bosan. Kebosanan inilah yang dipercaya bisa membuat anak jera dan tidak mengulangi perilaku buruknya.Namun, Anda tidak disarankan menggunakan time out untuk segala perilaku buruk. Misalnya, merengek atau menangis tidak perlu dihukum dengan time out.Beberapa perilaku buruk yang dipercaya dapat diatasi dengan time out, di antaranya:
  • Melakukan sesuatu yang berbahaya

Saat anak melakukan suatu perilaku yang berbahaya, seperti berlari di tengah jalan tanpa pengawasan, Anda boleh memberikan hukuman time out kepadanya.Time out dipercaya akan membuat anak mengerti bahwa perilaku seperti berlari di tengah jalan dapat membahayakan dirinya. 
  • Membahayakan orang lain

Saat anak melakukan perilaku yang membahayakan teman-temannya, time out dapat dilakukan untuk membuat Si Kecil memahami bahwa menyakiti orang lain bukanlah hal baik.
  • Melanggar peraturan keluarga

Jika anak telah melanggar peraturan keluarga, maka Anda bisa melakukan time out agar Si Kecil patuh terhadap peraturan yang sudah dibuat dan disetujui bersama.
  • Tidak mau mendengarkan peringatan dari orangtua

Jika anak tidak mau mendengarkan peringatan dan nasihat baik dari orangtuanya, maka time out dapat menjadi solusi yang bisa membuat Si Kecil mematuhi dan mendengar apa yang dikatakan oleh Anda.

Cara melakukan time out yang benar

time out adalah metode mendisiplinkan anak
Orangtua harus tegas jika ingin mendisiplinkan anak, namun jangan kasar terhadapnya
Supaya anak tidak mengulangi perilaku buruknya, time out harus dilakukan dengan benar. Penting bagi orangtua untuk mengetahui langkah-langkah melakukan time out sebelum mencobanya pada anak.

Langkah 1: Perhatikan perilaku buruk anak dan berikan peringatan

Sebelum melakukan time out, Anda harus memerhatikan perilaku buruk anak dan memberikannya peringatan terlebih dahulu. Beri tahu anak jika ia tidak berperilaku baik, maka ia harus menjalani time out. Ingat, gunakan nada yang halus tapi tegas.Misalnya, jika Anda meminta anak untuk merapihkan mainannya tapi tidak digubris oleh Si Kecil, Anda bisa mengatakan, "Jika kamu tidak segera merapikan mainanmu, maka kamu harus menjalani time out."Tunggu sekitar 5 detik. Jika anak mendengarkan peringatan Anda, maka pujilah dia. Namun, jika ia tetap tidak menggubris peringatan Anda, segera lakukan time out.Pastikan bahwa Anda telah memberikannya peringatan terlebih dahulu sebelum melakukan time out. Jangan melakukan time out sebelum Anda memberikannya peringatan.

Langkah 2: Berikan alasan pada anak mengapa ia harus menjalani time out

Anda juga harus memberikan alasan mengapa anak perlu menjalani time out. Saat Anda sedang mengutarakan alasannya, hindari hal-hal di bawah ini:
  • Jangan menggurui atau berdebat dengan anak
  • Jangan menerima alasan apa pun dari anak
  • Jangan berbicara pada anak saat Anda sedang membawanya ke tempat atau kursi time out
  • Acuhkan teriakan, protes, dan janji-janji dari anak.

Langkah 3: Minta ia duduk di kursi time out

Jika anak menolak untuk melakukan time out, tarik tangannya dengan lembut (tanpa kekerasan) atau menggendongnya ke kursi time out. Mintalah Si Kecil untuk duduk dan melarangnya berdiri sampai waktu time out selesai.Saat proses time out sedang berlangsung, jangan biarkan ia berbicara dengan siapa pun dan larang ia untuk bermain dengan apa pun.Terkadang, meminta anak untuk duduk di kursi time out bukanlah hal yang mudah. Jika anak kabur dari kursi time out-nya, bawalah ia kembali ke kursi dan jangan berbicara dengannya.

Langkah 4: Akhiri time out

Time out biasanya berlangsung selama 2-5 menit saja, terutama untuk anak balita. Misalnya, jika anak Anda berusia 2 tahun, Anda disarankan untuk melakukan time out selama 2 menit saja. Jika ia sudah berusia 5 tahun, lakukan time out selama 5 menit.Pastikan anak sudah tidak merengek atau berteriak lagi sebelum ia berdiri dari kursi time out. Sebelum ia menyelesaikan sesi time out, ingatkan kembali pada anak untuk tidak mengulangi perilaku buruknya.Jika ia kembali melakukan perilaku buruk, Anda boleh membawanya kembali ke kursi atau tempat time out.

Langkah 5: Puji anak saat ia melakukan hal baik

Jika anak sudah menyelesaikan sesi time out, berikan pujian jika Si Kecil melakukan hal baik. Hal ini dipercaya dapat membuatnya bersemangat untuk melakukan hal-hal baik lagi.Saat anak sedang menjalani sesi time out, Anda disarankan untuk tetap berada di dekatnya, tapi jangan sampai terlihat olehnya. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga jika anak melakukan hal berbahaya atau berusaha untuk kabur meninggalkan tempat time out.

Apakah time out berdampak negatif untuk anak?

Sejumlah ahli percaya kalau time out memiliki dampak buruk terhadap anak
Sejumlah ahli percaya kalau time out memiliki dampak buruk untuk anak
Dibandingkan dengan tindakan fisik, time out dipercaya sebagai metode mendisiplinkan anak yang dianggap lebih baik dan tentunya manusiawi.Akan tetapi, sejumlah ahli memiliki pandangan yang kontra terhadap metode time out. Misalnya, seorang ahli menyatakan bahwa time out dapat membuat anak melihat dirinya sebagai orang jahat.Selain itu, ada pula ahli yang mengatakan bahwa time out akan menjauhkan anak dari orangtua dan memicu ketakutan pada anak, di saat Si Kecil sangat membutuhkan perhatian dari Ayah dan Ibunya.Maka dari itu, Anda disarankan untuk berkonsultasi dulu pada psikolog atau dokter anak sebelum melakukannya. Dengan begitu, mereka dapat memberikan saran mengenai cara melakukan time out yang benar atau mungkin merekomendasikan metode mendisiplinkan anak yang lebih efektif.Jika Anda ingin berkonsultasi mengenai cara mendisiplinkan anak, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga!
tips parentingparenting stressgaya parenting
Child Mind. https://childmind.org/article/are-time-outs-harmful-kids/
Diakses pada 2 Maret 2021
CDC. https://www.cdc.gov/parents/essentials/timeout/whatistimeout.html
Diakses pada 2 Maret 2021
Johns Hopkins Magazine. https://pages.jh.edu/jhumag/0900web/letters.html
Diakses pada 2 Maret 2021
CDC. https://www.cdc.gov/parents/essentials/timeout/steps.html
Diakses pada 2 Maret 2021
AHA Parenting. https://www.ahaparenting.com/parenting-tools/positive-discipline/timeouts
Diakses pada 2 Maret 2021
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait