Infeksi ESBL terjadi karena bakteri kebal terhadap penyakit
Infeksi ESBL adalah kondisi di mana bakteri kebal terhadap antibiotik

Apa itu infeksi ESBL?

ESBL atau extended spectrum beta-lactamase adalah enzim yang diproduksi beberapa jenis bakteri tertentu yang membuatnya kebal terhadap antibiotik biasa. Ketika bakteri ini mengeluarkan ESBL dan menginfeksi seseorang, antibiotik biasa jadi tidak berguna untuk menanganinya.

Jika tidak ditangani dengan tepat, infeksi ini bisa menjadi lebih parah dan dapat mengganggu kehidupan penderitanya. Meski pun jarang terdengar, beberapa orang pernah mengalami kasus seperti ini. Ini dia beberapa diantaranya.

Kasus resistensi antibiotik

1. Paolo

Seharusnya liburan bersama keluarga menjadi kenangan yang menyenangkan, tetapi bagi Paolo yang terinfeksi dengan infeksi ESBL dari bakteri E.coli, liburan tersebut dipenuhi dengan kesakitan.

Pada awalnya, pria berusia 55 tahun tersebut sempat berasumsi bahwa dirinya hanya mengalami dehidrasi karena cuaca di musim panas. Namun, gejala yang dirasakan semakin bertambah dan menimbulkan demam serta rasa menggigil.

Paolo kemudian berkonsultasi dengan ipar laki-lakinya yang merupakan seorang dokter. Iparnya menyarankannya untuk meminum ciprofloxacin yang merupakan antibiotik yang biasanya dipakai untuk mengobati infeksi saluran kemih.

Namun, kondisi Paolo tidak kunjung membaik. Pada akhirnya, pria tersebut memutuskan untuk kembali ke Roma ditemani dengan adik iparnya.

Setelah diperiksa, Paolo ternyata terinfeksi bakteri E.coli yang memicu infeksi ESBL dan membuat bakteri tersebut memiliki resistensi antibiotik tertentu.

Pada awalnya Paolo diberikan obat amoxicillin selama empat minggu, tetapi empat hari setelah obatnya dihentikan, infeksi saluran kemih yang dimiliki muncul kembali.

Salah satu teman Paolo yang merupakan spesialis penyakit menular menyarankannya untuk mengonsumsi obat fosfomycin selama 21 hari yang berhasil mengatasi infeksi ESBL yang dialami

2. Emily Collins

Berbeda dengan Paolo, Emily Collins mengalami infeksi ESBL yang kronis. Bakteri E.coli yang menjangkiti wanita ini memiliki resistensi antibiotik yang tinggi.

Emily memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terinfeksi dengan penyakit infeksi saluran kemih karena adanya jaringan parut pada ginjalnya yang diakibatkan karena kelahirannya yang prematur.

Oleh karenanya, sejak kecil Emily sudah sering diberikan berbagai macam antibiotik untuk mengatasi infeksi saluran kemih yang dimiliki. Seiring bertambah dewasa, kemunculan infeksi saluran kemih yang dialami semakin berkurang.

Namun, saat dirinya berusia 21 tahun, infeksi saluran kemih yang menyerangnya tidak bisa diobati dengan berbagai macam antibiotik. Setelahnya, baru diketahui bahwa gadis tersebut terinfeksi dengan bakteri pemicu infeksi ESBL dengan resistensi antibiotik yang kronis.

Sebelumnya, Emily hanya diberikan antibiotik minum. Namun, resistensi antibiotik yang dimiliki membuatnya harus menggunakan jenis antibiotik yang diberikan melalui pembuluh darah (intravena).

Gadis tersebut hanya bisa menunggu di rumah sakit sampai dokter menemukan antibiotik yang sesuai untuk mengatasi resistensi antibiotik yang terjadi.

Hal tersebut tidak hanya membuat Emily kesepian, tetapi juga menghancurkan impiannya menjadi seorang perawat dan membuatnya kehilangan pekerjaannya.

3. Kelly Strudwick

Infeksi saluran kemih yang dialami oleh Kelly Strudwick awalnya masih bisa ditangani dengan antibiotik biasanya. Namun, pada infeksi saluran kemih berikutnya, bakteri E.coli yang menyerangnya memiliki resistensi antibiotik yang memicu infeksi ESBL.

Gadis yang berusia 25 tahun tersebut diberikan antibiotik meropenem yang tidak efektif dan membuatnya tidak mampu berjalan dan mengalami sakit perut yang parah. Kelly langsung dibawa ke UGD.

Akan tetapi, infeksi ESBL yang dialami memicu sepsis atau menyebarnya infeksi bakteri ke dalam darah. Meskipun telah diberikan obat antibiotik meropenem dan doxycycline, kondisi Kelly tidak kunjung membaik.

Bahkan, Kelly mulai berhalusinasi dan menganggap bahwa dirinya dijadikan kelinci percobaan dari suatu penelitian. Untungnya, setelah kejadian tersebut, kondisi gadis tersebut mulai membaik dan 10 hari setelahnya, ia sudah bisa keluar dari rumah sakit.

Setelah keluar dari rumah sakit, Kelly masih terus diberikan antibiotik ertapenem melalui pembuluh darah oleh perawat selama 10 hari berturut-turut di rumahnya. Namun, bakteri E.coli yang menjangkitinya bisa muncul sewaktu-waktu.

Kelly membutuhkan waktu tiga bulan untuk dapat kembali bekerja, meskipun kejadian yang dialami di rumah sakit mengakibatkan trauma yang membuatnya takut terhadap kegelapan.

Umumnya, bakteri infeksi ESBL adalah bakteri E.coli dan Klebsiella. Keduanya dapat diobati dengan antibiotik biasa, tetapi E.coli dan Klebsiella yang sudah memiliki resistensi antibiotik tidak mampu lagi ditangani dengan antibiotik biasa, seperti penisilin dan sefalosporin.

Konsultasikan ke dokter

Bila Anda atau kerabat mengalami infeksi yang tidak kunjung sembuh meskipun sudah diberikan obat antibiotik, maka Anda atau kerabat perlu mengunjungi dokter ahli untuk dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Antibiotic Research UK. https://www.antibioticresearch.org.uk/young-patient-antibiotic-resistant-infection-tells-story/
Diakses pada 26 Juni 2019

ECDC. https://antibiotic.ecdc.europa.eu/en/ecdc-patient-story-paolo
Diakses pada 26 Juni 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/esbl
Diakses pada 26 Juni 2019

The Telegraph. https://www.telegraph.co.uk/news/2018/03/26/contracting-super-bug-has-changed-life/
Diakses pada 26 Juni 2019

Artikel Terkait