Tidur Bersama Kucing, Sehatkah?

(0)
10 Oct 2020|Azelia Trifiana
Tidur bersama kucing memiliki risiko kesehatanTidur bersama kucing belum tentu sehat
Pecinta kucing tak akan keberatan menghabiskan setiap detik waktunya untuk bermain bersama hewan berbulu yang satu ini. Namun, bagaimana dengan tidur bersama kucing? Mengingat kucing adalah hewan nokturnal dan mengklaim teritori, ada risiko menghabiskan waktu sepanjang malam.Memang benar bahwa ketika berada dekat dengan kucing, dengkuran khasnya mengeluarkan ritme yang menenangkan. Ini dapat membantu seseorang tertidur lebih cepat. Namun, pertimbangkan dulu beberapa hal sebelum tidur bersama kucing.

Dampak negatif tidur bersama kucing

Tidak berlebihan jika seseorang bisa merasa lebih tenang ketika tidur bersama kucing. Kedekatan ini akan memberikan rasa aman baik secara emosional maupun fisik. Tidak menutup kemungkinan, stres yang dialami setelah seharian beraktivitas akan berkurang karena tidur bersama kucing.Namun di sisi lain, ada hal negatif yang perlu diantisipasi seperti:

1. Tidur terganggu

Kucing adalah hewan nokturnal atau yang lebih aktif di malam hari. Artinya, ada kemungkinan tidur mengalami interupsi setiap beberapa jam sekali. Pola tidur dan terjaga manusia berbeda dengan kucing, hal ini bisa menjadi kontraproduktif.

2. Potensi alergi

Bulu kucing berpotensi menjadi tempat hinggapnya kutu. Ketika tidur bersama kucing, artinya manusia berada sangat dekat dalam waktu lebih dari 7 jam. Sangat mungkin kutu ini berpindah dan menggigit sehingga menimbulkan reaksi alergi. Gigitan serangga ini bisa menyebabkan rasa nyeri dan gatal.

3. Tidak aman untuk bayi

Jika orangtua terlintas untuk membiarkan bayi mereka tidur bersama kucing karena kedekatan keduanya, sebaiknya pikirkan dua kali. Selalu ada kemungkinan kucing tanpa sengaja membuat bayi kesulitan bernapas. Contohnya ketika kucing berbaring di wajah atau dada bayi.Ketika terkaget karena tangisan bayi pun, kucing bisa bereaksi dengan mencakar atau menggigit sebelum loncat dari tempat tidur. Luka terbuka pada bayi akibat cakaran kucing ini bisa menjadi pintu masuk penularan penyakit.

4. Muncul rasa dominasi

Tak hanya manusia, hewan juga memiliki insting dominasi. Utamanya kucing, mereka menentukan dominasi berdasarkan teritori yang dikuasai. Apabila sering berada di kamar tidur tuannya, akan muncul rasa menguasai teritori itu.Ketika ada orang asing yang masuk ke kamar tidur, mungkin saja akan muncul rasa gelisah. Bukan tidak mungkin, rasa gelisah ini akan membuat kucing berlaku agresif seperti menyerang orang asing itu.Hal ini juga berlaku ketika pemiliknya membawa hewan peliharaan lain ke kamar. Kucing bisa bertengkar dengan hewan baru yang dinilai masuk ke teritorinya.

5. Tertular kucing sakit

Tak hanya kucing liar saja yang rentan sakit, kucing peliharaan di rumah pun bisa mengalami hal yang sama. Ketika kucing menunjukkan gejala sakit seperti kerontokan bulu, ruam di kulitnya, bersin, batuk, mual, diare, hingga tampak lesu, sebaiknya jaga jarak dengan manusia.Jika gejala itu muncul, segera bawa kucing ke dokter hewan untuk mengantisipasi penularan penyakit. Masalah kesehatan kucing tak hanya mengancam dirinya saja, tapi bisa juga menular pada manusia.

Ingin aman, rawat sepenuh hati

Kucing yang sehat jarang menularkan penyakit
Merawat kucing dengan sepenuh hati ini bukan hanya memberi makan dan mengelusnya saja. Ketika seseorang berkomitmen memelihara kucing, artinya harus diberikan vaksinasi hingga diperiksa kesehatannya secara berkala demi mengurangi risiko penularan penyakit.Tidak tidur bersama kucing pun tak akan mengurangi quality time bersama si hewan berkaki empat ini. Masih ada cara lain untuk menghabiskan waktu bersama kucing kesayangan.Tak hanya itu, orang dewasa dan anak-anak dengan masalah autoimun juga lebih berisiko tertular penyakit dari hewan, termasuk kucing. Jadi, sebaiknya pertimbangkan kedekatan hewan dengan penderita autoimun sebagai langkah mitigasi.Terlepas dari seluruh kewajiban itu, memang benar bahwa berada dekat dengan kucing akan memberikan rasa aman dan nyaman. Dengkuran kucing serasa menghipnotis karena ritmenya membawa ketenangan tersendiri.Banyak pecinta kucing yang mengakui stresnya mereda ketika berinteraksi dengan hewan kesayangan mereka. Penasaran bagaimana interaksi dengan hewan seperti kucing dan anjing bisa mengurangi stres – bahkan lebih ampuh dari manusia? Anda bisa konsultasi langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.  
tidurhidup sehatpola hidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/health-news/should-you-let-your-cat-sleep-in-bed-with-you
Diakses pada 25 September 2020
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/how-owning-a-dog-or-cat-can-reduce-stress-3144701
Diakses pada 25 September 2020
Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2019/07/190715114302.htm
Diakses pada 25 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait