Jangan Panik, Tidak Semua Penyakit Kulit pada Bayi Berbahaya

Penyakit kulit pada bayi tidak semuanya berbahaya
Tidak semua penyakit kulit pada bayi berbahaya

Munculnya bentol dan bercak-bercak pada wajah bayi seringkali membuat orangtua merasa cemas. Mereka tentu tidak menginginkan anaknya mengalami sakit, apalagi penyakit kulit yang gejalanya sangat terlihat. Namun, tidak semua penyakit kulit pada bayi berbahaya bagi si buah hati. Ada beberapa penyakit kulit yang wajar terjadi, terutama pada 4 minggu pertama setelah bayi lahir.

Sebagian kondisi tersebut adalah kondisi yang normal dan akan menghilang dengan sendirinya. Namun, ada juga segelintir masalah kulit pada bayi yang menandakan kondisi kesehatan yang lebih serius.

Kulit bayi berbeda dengan kulit pada orang dewasa. Bayi memiliki kulit yang lebih tipis dengan rambut, kelenjar minyak, dan kelenjar keringat yang lebih sedikit. Kulit bayi rentan terkena penyakit akibat paparan trauma mekanik (trauma karena alat), bakteri, ataupun perubahan suhu dan cuaca.

[[artikel-terkait]]

Jenis-jenis penyakit kulit pada bayi

Penyakit kulit pada bayi sering tampak di area wajah, kepala, ataupun bagian tubuh lainnya. Beberapa penyakit tersebut, di antaranya:

1. Eritema toksikum

Eritema toksikum merupakan kondisi kulit ringan yang berlangsung sementara. Kondisi ini hanya memiliki gejala berupa ruam pada kulit. Sebanyak 30-70% bayi yang lahir cukup bulan akan mengalami kondisi ini.

Pada bayi yang mengalami eritema toksikum, akan tampak bintik-bintik kecil yang menonjol dengan kemerahan di sekitarnya, terkadang disertai dengan nanah. Kondisi ini ditemukan pada wajah, badan, lengan, dan tungkai bagian atas.

Secara umum kondisi ini tidak perlu mendapat pengobatan apa pun. Bila dalam waktu 2 minggu kondisi bayi belum juga membaik, sebaiknya Anda membawa si buah hati ke dokter kulit.

2. Jerawat pada bayi

Jerawat pada bayi baru lahir akan timbul dalam waktu 30 hari sejak lahir. Pada kasus yang ringan, penyakit kulit ini akan menghilang. Namun, pada kasus yang berat, jerawat pada bayi akan tetap bertahan. Diduga hal ini disebabkan oleh hormon androgen yang berlebihan dalam tubuh.

Berdasarkan American Academy of Dermatology, jerawat pada bayi dialami oleh 20 persen bayi di Amerika Serikat. Jerawat paling banyak berada pada daerah hidung dan pipi bayi. Saat gejala memberat, jerawat dapat ditemukan pada dahu, dagu, kulit kepala, leher, dada, hingga punggung bagian atas.

3. Milia

Milia juga termasuk penyakit kulit yang sering terjadi pada bayi. Milia pada bayi ditandai dengan lenting-lenting kecil berukuran 1-3 mm, berwarna bening atau kekuningan. Milia terjadi pada 40-50% bayi cukup bulan, Pada bayi yang lahir kurang bulan atau prematur, penyakit kulit ini lebih jarang dialami.

Milia terjadi akibat pori-pori yang tersumbat. Paling sering ditemukan pada wajah, di sekitar mata, dan hidung. Milia akan menghilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Hindari memberikan krim atau salep pada kulit bayi. Krim dan salep dapat memperburuk penyumbatan pada pori dan menyebabkan lebih banyak milia terbentuk.

4. Dermatitis

Kulit bayi yang lebih tipis dan sensitif membuat bayi lebih rentan mengalami dermatitis. Penyakit ini dapat disebabkan kulit yang kering, iritasi, maupun alergi. Kondisi ini umum dialami pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun.

Kulit bayi akan tampak merah, gatal, dan tampak bersisik saat terjangkit dermatitis. Pada bayi berusia di bawah 6 bulan, dermatitis sering terjadi pada pipi, dagu, dahi, dan kulit kepala. Pada usia yang lebih besar, yaitu 6 bulan hingga 12 tahun, dermatitis lebih banyak dialami pada bagian tubuh lain, seperti siku dan lutut ketika bayi mulai belajar merangkak.

KUTLUBAY Z, TANAKOL A, ENGÝN B, ONEL C, SÝMSEK E, SERDAROGLU S, et al. Newborn Skin: Common Skin Problems. Maedica (Buchar). 2017 Jan;12(1):42–7.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323172.php
Diakses pada Mei 2019

WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/baby-skin-rashes
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed