Alasan Thalidomide Tak Lagi Digunakan untuk Mengatasi Morning Sickness

Satu dosis thalidomide dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan pada janin
Dulu, thalidomide sering dikonsumsi ibu hamil untuk mengatasi morning sickness

Thalidomide merupakan obat yang memiliki efek imunomodulator atau memengaruhi system imun, dan dapat pula digunakan sebagai anti radang. Obat ini yang diproduksi oleh perusahaan obat asal Jerman dan mulai dijual secara bebas pada akhir tahun 1950an. Obat ini termasuk dalam golongan sedatif nonbarbiturat dan tidak bersifat adiktif.

Thalidomide berfungsi untuk mengatasi sakit kepala, insomnia, dan depresi. Selain itu, pada ibu hamil, obat ini terbukti ampuh mengatasi gejala Morning Sickness. Berkat keberhasilannya tersebut, obat ini sangat terkenal pada tahun 1950-1960an. Seluruh dunia memasarkan thalidomide dengan berbagai merek dagang dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi.

Seiring perkembangan, banyak wanita yang mengonsumsi thalidomide mengaku mengalami gejala neuropati perifer. Selain itu, karena banyaknya konsumsi thalidomide pada ibu hamil untuk mengatasi Morning Sickness, banyak ditemukan kasus bayi terlahir dengan berbagai kelainan bawaan. Awalnya hubungan antara kedua hal ini disangkal, hingga akhirnya ada penelitian yang dilakukan oleh dua peneliti asal Jerman dan Australia membuktikan hal tersebut.

Peredaran thalidomide sebagai obat untuk ibu hamil mulai ditarik dari pasaran di seluruh dunia pada tahun 1962. Obat ini menjadi catatan kelam dalam dunia medis. Mekanisme yang mendasari gangguan perkembangan janin akibat konsumsi thalidomide tidak diketahui hingga bertahun-tahun setelahnya.

Dampak konsumsi thalidomide pada ibu hamil

Saat itu, konsumsi thalidomide pada ibu hamil banyak dilakukan pada awal kehamilan di mana gejala Morning Sickness yang dialami sangat terasa. Masa trimester pertama kehamilan juga merupakan masa paling penting dalam perkembangan berbagai organ pada janin. Inilah yang menyebabkan dampak buruk akibat konsumsi thalidomide umumnya berat. Satu dosis thalidomide yang dikonsumsi cukup untuk meningkatkan risiko terjadinya kelainan pada bayi.

Dampak utama konsumsi thalidomide pada janin, yaitu menyebabkan gangguan perkembangan anggota gerak. Sebagian besar hal ini terjadi secara bilateral. Kondisi ini bisa terjadi pada kedua lengan atau tungkai, bahkan keempat anggota gerak tersebut.

Kelainan akibat konsumsi thalidomide yang paling parah disebut sebagai phocomelia, yaitu kondisi di mana tulang panjang mengalami malformasi atau tidak terjadi pembentukan. Pada kasus yang berat, tangan dan kaki dapat menempel langsung pada badan. Kelainan lainnya yang muncul dapat bervariasi, mulai dari pemendekan lengan dan tungkai hingga jari-jari yang tidak terbentuk.

Selain pada anggota gerak, thalidomide juga menyebabkan kelainan pada mata, telinga, sistem kardiovaskuler, dan ginjal. Kelainan pada saluran pencernaan menyebabkan bayi dapat terlahir dengan kondisi atresia esofagus, duodenum, maupun anus.

Hingga 40% bayi yang mengalami kelainan akibat paparan thalidomide mengalami kematian dalam satu tahun pertama kehidupannya. Sebagian lainnya bertahan hidup dan beradaptasi dengan kondisi kelainan yang dimiliki.

Gangguan kesehatan saat beranjak dewasa

Meski mampu bertahan hidup hingga beranjak dewasa, banyak individu yang terpapar thalidomide mengalami ganguan muskuloskeletal, di antaranya nyeri punggung dan bahu, osteoartritis dini, dan gangguan mobilitas sendi. Nyeri yang dialami umumnya bersifat kronis dengan intensitas sedang berat, dan dapat terjadi secara hilang timbul ataupun terus menerus. Sebagian juga melaporkan adanya kesemutan dan baal.

Kelainan bawaan tersebut, terutama pada anggota gerak berdampak besar pada kualitas hidup dan kesehatan mental penderitanya. Akibat sulitnya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, sebagian individu mengalami gangguan mental berupa depresi dan gangguan cemas.

[[artikel-terkait]]

Penggunaan Thalidomide saat ini

Thalidomide masih digunakan secara terbatas untuk mengobati lesi kulit pada lepra tipe eritema nodosum dan kanker kulit multiple myeloma. Obat ini juga terus diteliti sebagai obat untuk mengatasi kondisi inflamasi pada lupus dan penyakit Bechet, lesi oral pada HIV, serta kanker darah dan sumsum tulang. Sejauh ini penelitian menunjukkan hasil yang positif.

Kim JH, Scialli AR. Thalidomide: the tragedy of birth defects and the effective treatment of disease. Toxicol Sci. 2011 Jul;122(1):1–6
Diakses pada Mei 2019.

Newbronner E, Glendinning C, Atkin K, Wadman R. The health and quality of life of Thalidomide survivors as they age – Evidence from a UK survey. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6334953/
Diakses pada Mei 2019

Rehman W, Arfons LM, Lazarus HM. The Rise, Fall and Subsequent Triumph of Thalidomide: Lessons Learned in Drug Development. Ther Adv Hematol. 2011 Oct;2(5):291–308.
Diakses pada Mei 2019

Vargesson N. Thalidomide?induced teratogenesis: History and mechanisms. Birth Defects Res C Embryo Today. 2015 Jun;105(2):140–56.
Diakses pada Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cancer/in-depth/thalidomide/art-20046534
Diakses pada Mei 2019

Thalidomide. https://www.thalidomidesociety.org/thalidomide-faqs/
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed