Tetanus Toksoid, Perlindungan Terdepan untuk Penyakit Tetanus

Pemberian vaksin berisi tetanus toksoid dapat melindungi dari penyakit tetanus
Tetanus toksoid dapat diberikan dalam bentuk vaksin DTP-HB-HiB

Tetanus toksoid berisi toksin yang telah dilemahkan dengan formaldehid sehingga tidak lagi berbahaya. Zat ini digunakan sebagai imunisasi aktif setelah terjadi luka dan sebagai pencegahan primer penyakit tetanus dalam bentuk vaksinasi.

Terdapat dua tipe toksoid yang tersedia, yaitu toksoid cair dan toksoid adsorpsi (presipitat garam aluminum). Keduanya memiliki potensi yang sama untuk menciptakan serokonversi (perkembangan antibodi dalam serum akibat imunisasi) dalam tubuh. Akan tetapi, toksoid adsorpsi lebih sering digunakan karena respons kadar antitoksin yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama dibandingkan toksoid cair.

Pemberian Tetanus Toksoid saat terjadi luka

Tetanus toksoid diberikan pada semua jenis luka apabila Anda belum pernah memperoleh vaksinasi atau vaksinasi yang didapat belum cukup dari dosis yang dibutuhkan, yaitu 3 dosis. Apabila Anda telah menerima vaksinasi tetanus sebanyak lebih dari tiga kali dengan vaksin terakhir dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun, tetanus toksoid hanya diberikan ketika Anda mengalami jenis luka di bawah ini:

  • Luka terkontaminasi dengan tanah, feses, dan air liur
  • Luka tertusuk
  • Luka tembak
  • Kecelakaan yang mengakibatkan luka terbuka
  • Luka bakar
  • Frostbite

Tidak terbatas pada jenis luka di atas, apabila luka yang dialami dianggap mampu menjadi tempat perkembangbiakan tetanus, maka sebaiknya Anda mendapat suntikan tetanus toksoid. Jika vaksin terakhir Anda lebih dari 10 tahun, Anda tetap perlu divaksin walaupun luka yang dialami kecil dan bersih.

Pemberian Tetanus Toksoid dalam Bentuk Vaksin

Di Indonesia, tetanus toksoid diberikan dalam bentuk vaksin DTP-HB-HiB, yaitu vaksin gabungan yang memberikan pencegahan terhadap difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, dan infeksi Haemophilus influenzae B. Penyuntikan vaksin ini akan dilakukan pada paha atas atau lengan pada bayi yang lebih besar.

Pemberian vaksin berisi tetanus toksoid diberikan paling cepat pada bayi berusia 6 minggu. Sesuai rekomendasi dari IDAI, vaksin ini direkomendasikan untuk diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan apabila memperoleh DTPw, serta pada usia 2, 4, dan 6 bulan apabila vaksin yang diberikan DTPa. Vaksin ini tidak bisa diberikan pada anak dengan kejang, kelainan saraf, atau kelainan otak pada bayi baru lahir.

Efek samping yang dapat ditimbulkan berupa reaksi lokal pada tempat suntikan berupa bengkak, nyeri, dan kemerahan. Selain itu, dapat disertai demam pada sebagian besar kasus. Umumnya, Anda akan diberikan obat penurun panas untuk mengantisipasi terjadinya demam.

Pada reaksi yang berat, dapat terjadi demam tinggi, anak menjadi rewel, dan menangis dengan nada tinggi. Hal ini bisa berlangsung dalam 24 jam setelah pemberian.

[[artikel-terkait]]

Jika terjadi efek samping, tindakan penanganan yang dapat Anda lakukan sebagai orangtua adalah sebagai berikut:

  • Memberikan minum lebih banyak (ASI atau sari buah)
  • Kenakan pakaian tipis jika mengalami demam
  • Kompres bekas lokasi suntikan dengan air dingin
  • Jika demam, berikan obat paracetamol dengan dosis sesuai berat badan
  • Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat
  • Jika reaksi memberat dan menetap, sebaiknya membawa anak Anda ke dokter.

Pemberiaan booster dilakukan pertama kali pada usia 18 bulan, kemudian 5 tahun, 10-12 tahun, dan tiap 10 tahun setelahnya. Pada anak berusia 7 tahun ke atas, tetanus toksoid akan diberikan dalam bentuk vaksin Td atau Tdap, tidak lagi bersama dengan vaksin hepatitis B dan Haemophilus influenza B.

Ibu yang sedang hamil juga dianjurkan untuk memperoleh imunisasi TT, yaitu tetanus toksoid murni. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, yaitu tetanus yang terjadi pada bayi baru lahir.

Perlindungan yang diberikan oleh tetanus toksoid secara signifikan menurunkan kejadian tetanus. Akan tetapi, tidak menjamin 100% bahwa tidak akan terjadi tetanus pada individu yang berisiko. Tetanus toksoid perlu dilakukan pengulangan (booster) setiap 10 tahun untuk mempertahankan kadar antitoksin dalam darah.

CDC. https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/tetanus.html
Diakses pada Mei 2019

Buku Ajar Imunisasi. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014

Jadwal imunisasi IDAI 2017

Artikel Terkait

Banner Telemed