Tes IQ Anak Tidak Dapat Jadi Patokan Kecerdasan Si Kecil, Ini Alasannya


Selama ini, tes IQ anak dinilai sebagai gambaran dari kecerdasan Si Kecil. Padahal, faktanya tidak demikian. Lantas, apa sebenarnya fungsi tes ini?

(0)
23 Feb 2020|Aditya Prasanda
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Tes IQ anak bukan cerminan kecerdasan Si Kecil, jangan sampai terjebak.Meski bisa mengetahui kemampuan kognitif dan analisis anak, tes IQ anak bukanlah penentu kecerdasan Si Kecil.
Tidak sedikit yang beranggapan hasil tes IQ anak dapat dijadikan patokan kecerdasan seseorang. Padahal, tes IQ atau intelligence quotient test hanyalah alat ukur yang terstandarisasi untuk mengetahui kemampuan kognitif dan analisis individu.Tes IQ tidak secara gamblang dapat mengukur kecerdasan maupun potensi lain yang dimiliki seorang anak untuk bekalnya di masa depan. Para ahli psikologi meyakini ada komponen lain dalam diri seorang individu yang berperan mengarahkannya pada banyak jalur kesuksesan. Sayangnya, komponen ini tidak dapat dinilai melalui tes IQ. Lalu, apa fungsi tes IQ anak sebenarnya?

Fungsi tes IQ anak

Tes IQ anak antara lain dilakukan untuk mencari
hambatan Si Kecil dalam belajar.
Untuk mengetahui tingkat kecerdasan seorang anak, orangtua sebaiknya tidak hanya mengacu pada skor IQ. Sebab, tes IQ secara umum digunakan untuk menilai:
  • Kemampuan kognitif dan akademik di sekolah
  • Menjadi pertimbangan dalam memilih studi atau karier
  • Mengetahui kemampuan analisis logis-matematis dan pemecahan masalah secara akademik
  • Mengetahui hambatan dalam belajar

Apa yang dilakukan dalam tes IQ anak?

Tes IQ anak dapat menjadi alat pertama untuk mendiagnosis kemampuan Si Kecil. Pada dasarnya, tes ini hanya menggali kemampuan kognitif. Sehingga, untuk anak yang hasil tes IQ nya sangat rendah, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lain seperti pemeriksaan adaptif maupun pemeriksaan kejiwaan untuk mengetahui penyebab hambatan dalam belajar di sekolah.Saat berlangsung, psikolog akan menggunakan teknik tertentu untuk mengidentifikasi area kognitif anak, seperti:
  1. Verbal reasoning:

    Tes ini dilakukan untuk mengukur kemampuan anak dalam menggunakan perbendaharaan kosa kata untuk pemahaman suatu konsep, penalaran, mengekspresikan, dan menerapkannya.
  2. Visual spatial:

    Tes ini bertujuan untuk melihat keterkaitan antara objek visual, memori jangka pendek, serta koordinasi visual dan motorik.
  3. Fluid reasoning:

    Tes ini berfungsi untuk mengukur kemampuan anak dalam berpikir logis dan menyelesaikan masalah secara logis-matematis.
  4. Working memory:

    Tes ini menguji kemampuan anak dalam belajar, memanipulasi, dan menguasai informasi untuk menyelesaikan tugas tertentu.
  5. Processing speed:

    Tes ini dilakukan untuk melihat kemampuan anak dalam memproses dan membuat keputusan dengan cepat berdasarkan informasi visual.

Bukan hasil tes IQ anak, ini yang pengaruhi kecerdasan anak

Interaksi dalam keluarga ternyata ikut memengaruhi
kecerdasan anak.
Sebuah penelitian menyebutkan, seorang anak dengan nilai IQ 100, memiliki kecerdasan kognitif rata-rata. Sementara itu, anak yang memiliki nilai IQ lebih dari 130, mempunyai kecerdasan kognitif di atas rata-rata.Ingat, hasil tes IQ anak sebenarnya tidak bisa dijadikan acuan terhadap kecerdasan Si Kecil. Jadi anak yang IQ nya tinggi bukan berarti pasti akan berhasil dalam kehidupan, pun sebaliknya. Faktor genetik, lingkunganlah yang ternyata berpengaruh pada kecerdasan anak.
  • Genetik:

    Faktor genetik merupakan salah satu faktor peran penting di balik kecerdasan kognitif setiap individu. Anak yang terlahir dari orang tua dengan IQ yang tinggi, berpotensi memiliki kecerdasan kognitif yang baik. Dengan catatan, anak tersebut dibesarkan dengan pola asuh yang tepat.
  • Lingkungan:

    Selain faktor genetik, pola interaksi dalam keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial juga turut memengaruhi IQ seseorang.
  • Asupan nutrisi:

    Anak-anak yang mendapatkan nutrisi dari ASI eksklusif diyakini memiliki IQ yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak. Kandungan nutrisi pada ASI diduga dapat meningkatkan perkembangan otak, sistem saraf, dan kemampuan kognitif. Namun, pernyataan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Jadi, hasil tes IQ anak tidak dapat dijadikan patokan kecerdasan

Selama bertahun-tahun, tes IQ anak untuk menentukan kecerdasan telah mendapatkan banyak kritikan. Padahal, kesimpulan tersebut bisa dibilang tidak adil terhadap individu yang memiliki kekurangan dalam kemampuan kognitif.Tes ini pun disebut kerap mengesampingkan potensi lain seorang individu dan menganak tirikan pentingnya kreativitas, empati, kemampuan sosial dan kecerdasan spiritual individu.Saat ini bahkan telah dikenal pula teori kecerdasan majemuk yang meyakini kecerdasan individu tidak hanya diukur secara logis-matematis, tetapi juga verbal-linguistik, spasial-visual, musikal, intrapersonal, naturalis, interpersonal, dan eksistensialis.Sehingga, orangtua tidak perlu terlalu menjadikan hasil tes ini sebagai tolok ukur kecerdasan dan kesuksesan si Kecil kelak. Kalaupun dokter atau ahli perkembangan anak lainnya menyarankan buah hati Anda untuk melakukan beberapa terapi atau usaha untuk meningkatkan IQ anak, hal tersebut semata-semata berhubungan dengan kemampuan kognitif.
tumbuh kembang anakperkembangan anakanak sekolah
Healthline.
https://www.healthline.com/health/iq-testing
Diakses pada 22 Februari 2020
Journal of Education and Training Studies.
An Investigation between Multiple Intelligences and Learning Styles
https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1170867.pdf
Diakses pada 22 Februari 2020
Verywellmind.
https://www.verywellfamily.com/what-are-multiple-intelligences-4002039
Diakses pada 22 Februari 2020
Verywellmind.
https://www.verywellmind.com/what-factors-determine-intelligence-2795285
Diakses pada 22 Februari 2020
Verywellfamily.
https://www.verywellfamily.com/are-breastfed-babies-smarter-4136950
Diakses pada 22 Februari 2020
Smartkids.
https://www.smartkidswithld.org/first-steps/evaluating-your-child/understanding-iq-test-scores/
Diakses pada 22 Februari 2020
Sage Journals.
https://sci-hub.tw/https://doi.org/10.1177%2F0959354302012003012
Diakses pada 22 Februari 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait