Tes Alergi Antibiotik: Apa Manfaatnya dan Bagaimana Prosedurnya?

Tes alergi bertujuan untuk memastikan apakah seseorang alergi terhadap obat tertentu
Kepastian alergi obat juga dibutuhkan untuk menghindari pemakaian jenis antibiotik yang tidak perlu.

Penicilin termasuk jenis obat yang paling sering memicu reaksi alergi. Bagi mereka yang punya kecenderungan alergi obat, ada baiknya melakukan tes alergi antibiotik. Apa alasannya?

Pasalnya, reaksi alergi dapat menimbulkan gejala-gejala yang parah hingga mengancam nyawa. Sebut saja anafilaksis dan Stevens-Johnson syndrome

[[artikel-terkait]]

Reaksi alergi pada penderita Stevens-Johnson syndrome

Stevens-Johnson syndrome atau SJS adalah kondisi kelainan yang menyerang kulit dan membran mukosa, mata, serta genital. Gejala bermula dari demam, sakit kepala, pegal-pegal, sakit teggorokan, dan batuk, yang mirip dengan gejala flu.

Kemudian penderita akan mengalami ruam merah atau keunguan yang menyebar dan membentuk lepuhan. Jaringan kulit yang melepuh lalu mati dan mengelupas. Kondisi kulit penderita kerap menyerupai korban luka bakar.

Bahaya SJS bila tidak ditangani dengan cepat

Apabila tidak dirawat dengan benar, SJS bisa memicu komplikasi seperti bekas luka dan perubahan warna kulit, adanya gangguan pada organ dalam akibat peradangan, mata yang mengalami iritasi dan kekeringan, gangguan pada kornea, hingga kebutaan.

SJS umumnya umumnya disebabkan oleh reaksi alergi terhadap suatu zat yang terkandung dalam antibiotik serta infeksi tertentu. Oleh sebab itu, kemunculannya sering tidak terduga. Inilah salah satu alasan mengapa tes alergi sangat penting untuk dilakukan.

Tujuan dan fungsi tes alergi antibiotik

Melakukan tes alergi bertujuan memastikan apakah seseorang memang benar menderita alergi terhadap obat tertentu, khususnya yang diberikan melalui suntikan. Dengan mengetahuinya secara tepat, dokter dapat memberikan obat yang tepat pula dan efektif untuk mengatasi suatu penyakit.

Menurut suatu penelitian, salah satu obat yang paling sering memicu alergi adalah antibiotik, khususnya jenis penisilin (penicillin). Obat ini bekerja dengan mengikat protein dalam darah dan sel tubuh untuk memicu kinerja sistem imun tubuh.

Proses tersebut bisa menyebabkan sistem kekebalan tubuh yang mengidentifikasi penisilin sebagai alergen (pemicu alergi). Jika sudah begini, sistem imunitas akan mengembangkan antibodi terhadap penisilin. Sebagai akibatnya, reaksi alergi akan terjadi pada penggunaan penisilin berikutnya.

Jika seseorang alergi terhadap satu jenis antibiotik, umumnya bisa diganti dengan penggunaan antibiotik jenis lainnya. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Pemberian antibiotik nonpenisilin pada orang yang diperkirakan alergi pensilin ternyata bisa menimbulkan masalah lain. Misalnya, peningkatan risiko infeksi dari bakteri yang resisten terhadap antibiotik akibat penggunaan jenis antibiotik yang levelnya lebih tinggi.

Selain itu, jenis antibiotik yang tersebut juga umumnya lebih mahal, sehingga tentu saja akan menambah biaya Anda untuk berobat.

Apakah tes alergi antibiotik berbeda dengan tes alergi biasa?

Harap diingat bahwa tes alergi antibiotik berbeda dengan tes alergi pada umumnya, yang biasa digunakan untuk menguji reaksi imun tubuh terhadap zat lain. Misalnya, alergi terhadap makanan (seperti, kerang atau kacang), bulu binatang, debu, maupun tungau.

Uji alergi untuk hal-hal umum tersebut disebut dengan istilah skin prick test. Sementara tes alergi untuk antibiotik dikenal dengan istilah skin test.

Pada uji alergi antibiotik, dokter akan menyuntikkan sedikit antibiotik yang bersangkutan ke bawah kulit penderita. Oleh sebab itu, tes ini juga kerap dinamakan intradermal test.

Prosedur tes alergi antibiotik

Tes alergi antibiotik yang disebut skin test, hanya dilakukan ketika seseorang akan diberikan antibiotik tertentu. Seperti apakah caranya?

Dokter atau petugas kesehatan akan menyuntikkan antigen ke bawah kulit. Lokasi injeksi kemudian dilingkari dengan pulpen agar bisa diamati.

Proses pengamatan akan dilakukan selama 10-15 menit guna melihat apakah ada reaksi alergi pada bagian yang tadi disuntik, berupa pembengkakan.

Baik alergi obat maupun efek samping obat dapat menimbulkan gejala ringan sampai serius. Bedanya, pada alergi, biang keladi dari gejala-gejala yang muncul adalah respons sistem imunitas tubuh yang menganggap zat tidak berbahaya sebagai zat asing yang berbahaya bagi tubuh. 

Alergi obat juga bisa muncul setelah beberapa kali penggunaan obat. Ini berarti, Anda bisa saja tidak mengalami reaksi alergi apapun ketika pertama kali menggunakan obat. Kemudian, reaksi alergi timbul pada pemakaian obat yang sama di waktu berikutnya.

Pasalnya, saat pertama kali memakai obat, sistem imunitas belum mengenali obat sebagai zat asing berbahaya. Pada penggunaan berikutnya, sistem imunitas sudah menganggap obat tersebut sebagai zat berbahaya dan membangkitkan reaksi pertahanan tubuh hingga muncul gejala-gejala alergi. 

Berkat tes alergi antibiotik, Anda bisa mendapatkan kepastian dalam menghindari pemakaian jenis obat maupun antibiotik yang menimbulkan alergi. Demikian pula dengan menghindari pemakaian jenis antibiotik yang tidak perlu.

Very Well Health.
https://www.verywellhealth.com/penicillin-allergy-testing-83056
Di diakses pada 18 Juni 2019

Journal of Medical Microbiology & Diagnosis.
https://www.omicsonline.org/open-access/antibioticantibiotik-allergy-when-to-test-challenge-or-desensitise-2161-0703-1000234.php?aid=77490
Diakses pada 18 Juni 2019

WebMD. 
https://www.webmd.com/allergies/facts-about-drug-allergies#1
Diakses pada 18 Juni 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/30558872
Diakses pada 18 Juni 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/stevens-johnson-syndrome/
Diakses pada 16 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed