Terminal Lucidity, Ketika Pasien Tampak Sehat Sebelum Meninggal

Terminal lucidity terjadi sesaat sebelum pasien yang koma akhirnya meninggal
Sesaat sebelum meninggal, pasien yang koma tiba-tiba membaik dan bisa berkomunikasi dengan lancar

Ada banyak hal yang kerap mengundang tanda tanya besar terkait kematian seseorang. Salah satunya adalah terminal lucidity, yaitu kondisi ketika seseorang tampak kembali sehat sebelum meninggal dunia.

Mungkin tidak hanya satu dua orang yang merasakan hal ini. Ketika orang terkasih mereka terbaring tak berdaya dalam kondisi kritis, namun tiba-tiba kembali sehat dan bisa beraktivitas normal.

Tentu setiap yang ada di sekitarnya akan mengira kondisinya telah membaik secara fisik maupun mental. Namun sayang, terminal lucidity hanya berlangsung sementara hingga mereka menghembuskan napas terakhir beberapa menit atau jam kemudian.

Terminal lucidity sebelum meninggal biasanya dirasakan individu yang mengidap demensia, tumor otak, stroke, dan sakit mental seperti skizofrenia. Belum ada penjelasan ilmiah mengapa hal ini bisa terjadi.

Satu hal yang pasti, terminal lucidity setiap pasien bisa berbeda satu dan lain, bergantung pada penyakit mereka.

Terminal lucidity sebelum meninggal 

Sebelum istilah terminal lucidity ditemukan, ada banyak sebutan yang disematkan pada fenomena orang yang tiba-tiba membaik namun meninggal beberapa saat kemudian ini. Mulai dari “the final goodbye”, “the end-of-life rally”, hingga “the last hurrah”.

Istilah terminal lucidity datang dari seorang peneliti asal Jerman bernama Michael Nahm yang meneliti tentang hal ini.

Menurut Nahm, saat berada pada fase terminal lucidity, seorang pasien bisa benar-benar berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Mulai dari bercerita, minta bantuan diambilkan sesuatu, hingga menampilkan ciri-ciri yang sama dengan dirinya semasa sehat.

Orang yang menemani pasien akan menjadi saksi terjadinya hal ini, termasuk perawat yang siaga menunggui pasien dalam kondisi kritis.

Tentu hal ini mengejutkan karena datang dari seorang pasien yang semula sudah tidak merespon pada sekitar dan kondisinya telah dekat dengan kematian.

Mencari penjelasan terkait terminal lucidity

Para peneliti berupaya menguak apa yang sebenarnya terjadi ketika fenomena terminal lucidity sebelum meninggal terjadi. Peneliti lain dari Vienna, Alexander Betthyany juga mengumpulkan kuesioner terhadap keluarga pasien yang pernah menjadi saksi terminal lucidity.

Hasilnya, dari 227 pasien dengan demensia yang diteliti, setidaknya 10% di antaranya pernah merasakan terminal lucidity. Tak hanya itu, dari mereka yang merasakan terminal lucidity, 84% meninggal dunia dalam waktu sepekan, sementara 42% lainnya meninggal di hari yang sama.

Dari temuan tersebut, jelas bahwa fungsi kognisi yang normal layaknya orang sehat bisa saja terjadi meskipun otak mengalami kerusakan.

Contoh kasus yang dipaparkan Nahm dalam penelitiannya adalah seorang nenek berusia 91 tahun yang menderita Alzheimer selama 15 tahun. Sudah bertahun-tahun pasien ini tidak merespon sekitar dan tidak mengenali putri atau orang lain yang ada di sekitarnya.

Tiba-tiba suatu sore, dia memulai percakapan normal dengan putrinya. Topiknya seputar ketakutan akan kematian, masalah yang dihadapinya bersama komunitas gereja, dan lainnya.

Hanya selang beberapa jam kemudian, pasien ini meninggal dunia. Hingga kini, belum ada penjelasan ilmiah untuk misteri medis terminal lucidity sebelum meninggal ini.

Contoh kasus terjadinya terminal lucidity

Dari kasus terminal lucidity sebelum meninggal yang dilaporkan sepanjang abad 20, hal-hal yang menonjol adalah hal ini terjadi pada mereka yang menderita penyakit tertentu.

Beberapa di antaranya adalah penyakit yang menunjukkan indikasi kerusakan pada otak seperti tumor, stroke, meningitis, skizofrenia, Alzheimer, dan penyakit gangguan mental lainnya.

Bila sebelumnya telah disebutkan contoh terminal lucidity pada pasien Alzheimer, contoh lain datang dari penderita tumor otak.

Kasusnya adalah seorang anak berusia 5 tahun yang koma selama tiga pekan karena tumor otak. Anggota keluarganya selalu menemaninya selama menjalani perawatan hingga akhirnya sampai di titik merelakan kepergiannya.

Tiba-tiba, anak laki-laki ini sadar dan berterima kasih pada keluarga karena telah merelakannya. Tak hanya itu, dia juga berkata bahwa dia akan meninggal beberapa saat lagi. Seakan membuktikan ucapannya, anak laki-laki ini meninggal dunia keesokan harinya.

Contoh berikutnya adalah seorang pasien stroke berusia 91 tahun yang mengalami lumpuh di kedua sisi tubuhnya. Suatu hari, ia terbangun dan tersenyum lebar. Tanpa harus bersusah payah, dia bisa menegakkan tubuh di kasur, menaikkan kedua tangannya, dan menyebutkan nama suaminya dengan jelas dan ceria.

Hanya beberapa detik kemudian, kedua tangannya terkulai, kembali terbaring di kasur, dan menghembuskan napas terakhir.

Hal yang sama juga pernah terjadi pada seorang pria yang menderita stroke selama 11 tahun. Hanya sepekan sebelum kematiannya, dia terkena stroke kedua dan benar-benar sadar.

Bahkan, mendiang bisa mengucapkan kalimat lengkap dan memahami percakapan yang cukup panjang.

Misteri terminal lucidity

Menguak apa yang terjadi di balik fenomena terminal lucidity sebelum meninggal rupanya masih berupa kepingan puzzle yang belum utuh. Masih perlu penelitian lebih lanjut akan terjadinya hal ini.

Terminal lucidity yang terjadi pada pasien gangguan mental yang berbeda terjadi dengan proses yang berbeda. Semuanya tergantung pada penyebab penyakit yang diderita.

Ada dua kategori terjadinya terminal lucidity. Pertama, ketika fungsi mental menurun seiring dengan kondisi tubuh. Kedua, ketika kondisi mental benar-benar menjadi sehat sepenuhnya hanya beberapa saat sebelum meninggal dunia.

Asumsi yang ada saat ini adalah terminal lucidity terjadi karena adanya fluktuasi fungsi kognitif. Lebih jauh lagi, kondisi saraf seseorang yang mengalami terminal lucidity tentu jauh lebih kompleks ketimbang anggapan konvensional bahwa terminal lucidity adalah ‘ucapan perpisahan’ dari pasien untuk keluarganya.

Penelitian lebih jauh akan membantu dunia medis dalam menangani fenomena ini. Tak hanya itu, keluarga pun bisa lebih memahami dan mempersiapkan diri dengan kemungkinan terjadinya fenomena ini.

Michael Nahm. http://www.michaelnahm.com/terminal-lucidity
Diakses pada 3 Juli 2019

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/understanding-grief/201810/why-some-people-rally-one-last-goodbye-death
Diakses pada 3 Juli 2019

Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/51497433_Terminal_lucidity_A_review_and_a_case_collection
Diakses pada 3 Juli 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed