Terlambat Diobati, Ini Komplikasi Kusta yang Mengintai Penderitanya

Komplikasi kusta umumnya terjadi akibat penyakit kusta yang terlambat disadari oleh pengidap
Pada kasus serius, komplikasi kusta bisa berupa putusnya jari-jari tangan penderita

Penyakit kusta termasuk penyakit tertua di dunia, namun masih ada hingga saat ini. Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan memaparkan bahwa terdapat hampir 16 ribu kasus kusta baru hingga tahun 2019.

Sejatinya, kusta termasuk penyakit yang dapat disembuhkan jika penderitanya tidak terlambat untuk memeriksakan diri ke dokter dan mendapat pengobatan yang tepat. Tentu saja, penanganan pun harus dijalani hingga tuntas oleh pengidap.

Penanganan yang terlambat umumnya akan berujung pada komplikasi kusta. Tak jarang, bahaya kecacatan fisik seumur hidup berpotensi menghantui penderita kusta. Untuk itu, mengenali gejala kusta secepat mungkin perlu dilakukan agar komplikasi bisa dihindari.

Seperti apa gejala penyakit kusta?

Penyakit akibat bakteri Mycobacterium leprae ini sebenarnya bisa disembuhkan bila ditangani sejak dini. Olah karena itu, sangat penting untuk mengenali gejala kusta secepatnya.

Masalahnya, gejala kusta biasanya baru akan muncul setelah penderita mengalami penularan selama bertahun-tahun. Inilah yang membuat penyakit ini sering terlambat ditangani. Secara umum, ciri-ciri kusta bisa meliputi:

  • Muncul bercak-bercak di kulit. Bercak ini bisa berwarna kemerahan atau lebih terang dari warna kulit normal. Kaki, tangan, ujung hidung, daun telinga, atau punggung adalah bagian tubuh yang biasa ditumbuhi bercak kusta. Meski tidak sakit, lama-kelamaan bercak dapat berkembang menjadi benjolan.
  • Kulit yang kering dan pecah-pecah pada tangan dan kaki. Gejala ini muncul akibat kelenjar minyak dan keringat tidak dapat berfungsi, yang disebabkan oleh saraf-saraf kulit penderita yang rusak.
  • Sensasi kebas (mati rasa) atau geli pada bercak-bercak kusta. Rasa kebas juga dapat terjadi di tangan, jari-jari tangan, kaki, dan jari-jari kaki.
  • Rambut-rambut tubuh yang rontok, terutama pada bercak-bercak kusta. Kerontokan ini juga bisa terjadi pada alis dan bulu mata.
  • Otot yang melemah, umumnya pada bagian tangan dan kaki.
  • Jari-jari tangan yang tertekuk akibat otot-otot tangan mengalami kelumpuhan.
  • Luka-luka ulkus pada telapak kaki, terutama pada bagian tumit. Luka ini sama sekali tidak terasa sakit, sehingga mungkin saja tidak disadari.
  • Masalah pada mata, misalnya tidak bisa berkedip karena kerusakan saraf. Akibatnya, mata menjadi kering, muncul bisul dan bahkan mengalami kebutaan.

Stigma di masyarakat mengenai penderita kusta masih cenderung buruk. Karena itu, penderita kusta kerap dijauhi dan dikucilkan karena takut menularkan penyakitnya pada orang-orang di sekitarnya.

Penderita pun kemudian merasa malu dengan kondisinya hingga enggan untuk memeriksakan diri ke dokter. Padahal, semakin cepat kusta mendapat pengobatan, semakin kecil pula kemungkinan penderita untuk mengalami kecacatan.

Komplikasi kusta akibat tidak ditangani


Pengobatan kusta umumnya dilakukan dengan konsumsi beberapa jenis antibiotik selama beberapa bulan hingga beberapa tahun. Rifampicin, clofazimine, dan dapsone merupakan jenis-jenis antibiotik yang akan diberikan.

Obat-obatan tersebut harus diresepkan oleh dokter karena butuh kombinasi yang tepat, sesuai kondisi kesehatan pasien. Selain itu, efek sampingnya juga bisa memicu gangguan pada organ tubuh (seperti, mata dan telinga). 

Apabila kondisinya semakin parah dan tidak diobati hingga tuntas, kusta bisa terus berkembang dan menyebabkan berbagai komplikasi. Mulai dari kerusakan saraf, gangguan pada mata, mimisan kronis, hingga gagal ginjal. Berikut penjelasannya:

  • Kerusakan pada membran mukosa hidung (lapisan di bagian dalam hidung) dapat menyebabkan hidung tersumbat dan mengalami mimisan kronis. Jika tidak diobati, tulang rawan di ujung hidung (septum) bisa terkikis dan hancur.
  • Peradangan pada iris mata yang dapat berujung pada munculnya glaukoma.
  • Perubahan pada bentuk wajah, contohnya benjolan dan pembengkakan yang permanen.
  • Kondisi kornea mata menjadi tidak peka, sehingga dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut hingga kebutaan.
  • Khusus pengidap laki-laki, mereka bisa berpotensi mengalami disfungsi ereksi dan infertilitas.
  • Gagal ginjal.
  • Kelumpuhan pada tangan dan kaki juga dapat terjadi karena adanya kerusakan saraf. Dalam kasus-kasus yang lebih serius, penderita bisa mengalami cedera dan tidak merasakan apa-apa hingga berujung pada hilangnya jari-jari kaki maupun jari-jari tangan.
  • Luka-luka yang tumbuh pada telapak kaki bagian tumit bisa mengalami infeksi dan memicu rasa sakit yang hebat ketika penderita berjalan.

Mengingat komplikasi kusta yang mengerikan dan bisa berujung fatal, mengenali gejala penyakit ini sejak dini sangatlah penting. Jangan meremehkan bercak-bercak abnormal yang muncul di kulit Anda.

Bila terasa mencurigakan, segera periksakan ke dokter. Dengan ini diagnosis akan dilakukan secepatnya dan pengobatan yang tepat bida diperoleh.

The Leprosy Mission. https://www.leprosymission.org.uk/news-and-resources/news/the-oldest-disease-is-still-one-of-the-most-challe/
Diakses pada 15 Juli 2019

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/article/view/19020800001/waspada-kusta-kenali-cirinya.html
Diakses pada 15 Juli 2019

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/article/view/15012000003/penyakit-kusta-bisa-disembuhkan-tanpa-cacat-kuncinya-berobat-tuntas.html
Diakses pada 15 Juli 2019

Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/leprosy/
Diakses pada 15 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/guide/leprosy-symptoms-treatments-history#2
Diakses pada 15 Juli 2019

Merck Manual Professional Version. https://www.merckmanuals.com/professional/infectious-diseases/mycobacteria/leprosy
Diakses pada 15 Juli 2019

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/leprosy/about/about.html
Diakses pada 15 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed