Terlalu Sering Ganti Pembalut? Anda Mungkin Terkena Menorrhagia

Penderita menorrhagia dapat mengeluarkan darah menstruasi lebih dari 80 ml
Menorrhagia dapat disebabkan oleh banyak hal, termasuk penyakit tertentu.

Apa Anda pernah mengalami menstruasi yang lama dengan volume darah sangat banyak dan harus berali-kali ganti pembalut? Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal dengan istilah menorrhagia.

Apa sebenarnya menorrhagia ini dan apakah penyebabnya? Simak penjelasannya di sini!

Kapan Anda dianggap mengalami menorrhagia?

Normalnya, darah menstruasi yang keluar berjumlah sekitar 30-40 ml dalam waktu empat sampai lima hari. Namun perempuan dengan menorrhagia bisa mengeluarkan darah menstruasi hingga lebih dari dua kali lipat jumlah normal, yakni di atas 80 ml.

Durasi menstruasi pun berlangsung lebih lama, yakni lebih dari 7 hari dan penderita harus mengganti pembalut nyaris tiap dua jam sekali. Bahkan pembalut ukuran biasa tidak cukup untuk menampung darah, sehingga butuh pembalut dengan ukuran dan daya serap dua kali lebih besar.

Penderita pun tidak jarang harus bangun pada malam hari di tengah tidur nyenyaknya untuk mengganti pembalut. Sebagai akibatnya, kualitas tidurnya akan terganggu.

Menstruasi pada menorrhagiajuga bisa diikuti dengan kram perutyang luar biasa, sakit kepala sebelah (migrain), sertagejala anemia. Mulai dari mudah lelah, pucat, hingganapaspendek.

Apa sebenarnya penyebab menorrhagia?

Dalam kebanyakan kasus, penyebab di balik menorrhagia tidak diketahui secara pasti. Namun, para pakar meyakini bahwa terdapat sederet faktor yang bisa mempertinggi kemungkinan seorang wanita untuk mengalaminya. Faktor-faktor risiko tersebut meliputi:

1. Fibroid

Fibroid adalah tumor jinak yang tumbuh di dalam atau di sekitar rahim. Tumor ini dikatakan sebagai penyebabd ari 20 hingga 30 persen kasus menstruasi dengan volume darah berlebihan.

2. Polip rahim

Benjolan nonkanker ini bisa tumbuh pada dinding rahim atau leher rahim (serviks). Polip rahim diyakini menjadi pemicu di balik lima sampai 10 persen kasus menorrhagia.

3. Endometriosis

Menurut sebuah penelitian, endometriosis diduga menjadi penyebab pada sekitar lima persen dari keseluruhan kasus menorrhagia. Endometriosis terjadi ada jaringan rahim yang tumbuh di luar rahim, misalnya pada tuba falopi atau ovarium, dan jaringan yang melapisi panggu Anda.

Meski umumnya endometriosis menyebabkan nyeri haid yang tak tertahankan, perdarahan menstruasi yang berlebihan juga bisa terjadi dan menjadi salah satu gejalanya.

4. Ketidakseimbangan hormon

Pada kondisi normal, dinding rahim akan menebal untuk menyambut pembuahan. Ketika tak terjadi pembuahan, dinding tersebut akan luruh dan keluar sebagai darah menstruasi.

Bila terjadi ketidakseimbangan hormon, rahim akan memproduksi hormon berlebih yang memicu penebalan dinding rahim yang berlebih pula. Saat siklus haid tiba, peluruhan dinding yang tebal ini akan menyebabkan jumlah darah menstruasi yang sangat banyak.

Kondisi ketidakseimbangan hormon tersebut bisa muncul akibat berbagai kondisi. Misalnya, sindrom polikistik ovarium (PCOS), obesitas, resistensi insulin, dan masalah pada kelenjar tiroid.

5. Kanker rahim

Salah satu gejala kanker rahim yang perlu diwasapadai adalah perdarahan yang tidak normal dari vagina, termasuk menstruasi dengan volume darah yang berlebih. Demikian pula dengan perdarahan vagina di luar masa menstruasi.

6. Penggunaan intrauterine device (IUD)

Di Indonesia sendiri, IUD lebih dikenal dengan istilah KB spiral. Menstruasi dengan jumlah darah berlebihan kerap diklaim sebagai salah satu efek samping dari pemasangan alat KB jenis ini.

Konsultasikan dengan dokter Anda jika menorrhagia terjadi setelah Anda memakai KB spiral. Dokter akan membantu Anda dalam mempertimbangkan untuk melanjutkan pemakaian KB spiral atau menukarnya dengan alat KB lain.

7. Kelainan pembekuan darah

Penderita gangguan pembekuan darah terkadang dapat mengalami volume darah yang berlebihan ketika menstruasi. Misalnya, kelainan perdarahan bernama penyakit von Willebrand.

8. Pengaruh obat-obatan

Saat Anda mengonsumsi obat-obatan tertentu, efek sampingnya bisa saja berupa menorrhagia. Obat antikoagulan, obat antiinflamasi, serta obat yang digunakan dalam terapi hormon maupun kemoterapi termasuk beberapa contohnya.

Ketika Anda mengalami menorrhagia, ada baiknya Anda mencari tahu mengenai penyebabnya. Apalagi jika kondisi perdarahan menstruasi berlebih ini disertai gejala mencurigakan lainnya dan mengganggu aktivitas rutin Anda. Konsultasikan dengan dokter agar pemicunya bisa diketahui dengan pasti.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/menorrhagia/symptoms-causes/syc-20352829
Diakses pada 15 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/endometriosis/symptoms-causes/syc-20354656
Diakses pada 15 Mei 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/295202.php
Diakses pada 15 Mei 2019

US National Library of Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4002192/
Diakses pada 15 Mei 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/heavy-periods/
Diakses pada 20 Mei 201

Artikel Terkait

Banner Telemed