logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Terlalu Fokus Makan Sehat? Bisa Jadi Gangguan Orthorexia

open-summary

Meski kelihatannya sehat, terlalu terobsesi dengan pola makan sehat bisa menjadi indikasi dari gangguan makan orthorexia. Penderita gangguan ini memperhatikan pola makannya secara berlebih dan bahkan mengikuti aturan makan yang sangat ketat. Alih-alih sehat, penderita orthorexia dapat mengalami berbagai gangguan fisik, mental, dan bahkan sosial.


close-summary

3.5

(2)

28 Feb 2020

| Anita Djie

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Penderita ortorhexia sangat terobsesi untuk menjaga diet makanan sehat

Penderita orthorexia menjalani pola hidup sehat yang sangat ketat hingga lebih menjurus ke arah obsesi

Table of Content

  • Apa itu gangguan orthorexia?
  • Catatan dari SehatQ

Mengadopsi pola makan sehat penting untuk menjaga kesehatan. Namun, kadangkala pola makan sehat yang Anda terapkan bisa jadi terlalu berlebih dan malah menimbulkan gangguan mental orthorexia.

Advertisement

Gangguan orthorexia diindikasikan dengan fokus berlebih terhadap pola diet sehat yang dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari. Penderita orthorexia biasanya tidak terlalu mementingkan penurunan berat badan tetapi lebih ke jenis makanan yang dikonsumsi.

Baca Juga

  • Chia Seeds Hingga Kopi, Ini 9 Pencahar Alami untuk BAB Lebih Lancar
  • Mengenal Kepribadian ISFP, Sangat Detail dan Cinta Damai
  • Manfaat Cumi-Cumi untuk Kesehatan, Salah Satunya Bagus untuk Jantung

Apa itu gangguan orthorexia?

Orthorexia merupakan salah satu gangguan makan yang diindikasikan dengan obsesi berlebih terhadap pola makan sehat. Meskipun demikian, gangguan mental ini belum dimasukkan ke dalam Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang merupakan panduan dari psikiater.

Penderita gangguan orthorexia lebih fokus terhadap jenis makanan sehat yang dikonsumsi daripada jumlah makanan yang dikonsumsi ataupun seberapa banyak berat badan yang bisa diturunkan.

Sekilas, gangguan ini sulit dibedakan dengan penerapan pola makan sehat biasanya, tetapi terdapat beberapa indikasi dari gangguan orthorexia, seperti:

  • Terobsesi dengan kualitas makanan yang akan dikonsumsi

Penderita orthorexia pasti akan selalu memeriksa tabel nutrisi dan komposisi secara berlebihan. Penderita gangguan ini sangat khawatir jika harus mengonsumsi pengawet, gula, ataupun senyawa kimia lain yang ditambahkan dalam makanan.

Bahkan, penderita orthorexia hanya akan mengonsumsi jenis makanan tertentu yang dibuat dari bahan-bahan spesifik, seperti hanya mengonsumsi daging sapi yang diberikan pangan organik.

  • Memiliki pola makan yang kaku

Menjaga pola makan tidak berarti Anda menjadi kaku dan benar-benar membatasi apa yang dikonsumsi. Penderita orthorexia akan merasa sangat cemas dan stres ketika dirinya tidak mengikuti aturan pola makan yang ditetapkan.

Penderita orthorexia dapat merasa malu, bersalah, depresi, dan bahkan menghukum dirinya sendiri ketika tidak mampu menjalani pola makan yang telah ditetapkan.

  • Menjauhi jenis makanan tertentu

Penderita orthorexia bisa merasa bahwa jenis makanan tertentu tidak sehat untuk dikonsumsi dan tidak boleh dimakan. Contohnya, makanan tinggi karbohidrat atau produk susu.

Namun, akan sulit untuk melacak penderita orthorexia yang memang menjalani pola diet tertentu yang mengharuskan pengurangan konsumsi jenis makanan tertentu, seperti diet paleo atau diet keto.

  • Selalu memikirkan apa yang harus dikonsumsi

Mengatur makanan apa yang akan dikonsumsi besok atau selama minggu adalah hal yang normal. Namun, Anda kemungkinan mengalami orthorexia jika Anda selalu memikirkan apa yang harus dikonsumsi tiap jam setiap harinya.

  • Berdampak ke kehidupan sosial

‘Pola makan sehat’ yang Anda tetapkan berdampak negatif terhadap kehidupan sosial yang dimiliki.

Penderita orthorexia dapat mengisolasi dirinya dari acara makan bersama keluarga dan teman karena takut tidak bisa mengatur jenis makanan yang akan dikonsumsi.

Misalnya, Anda rela tidak ikut pesta pernikahan sahabat atau anggota keluarga Anda karena tidak ingin mengonsumsi makanan tidak sehat yang disajikan di acara pernikahan.

Gangguan makan orthorexia tidak hanya berakibat buruk secara sosial, tetapi juga dapat berdampak secara fisik dan psikologis. Gangguan ini dapat memicu malnutrisi, kekurangan mineral tertentu ataupun gangguan pada tubuh akibat penerapan pola makan yang terlalu ketat.

Secara psikologis, tentunya gangguan orthorexia dapat menimbulkan berbagai emosi negatif yang menimbulkan stres berlebih, serta membuat penderitanya menjadi terlalu terobsesi dengan ‘pola makan sehat’.

Catatan dari SehatQ

Gangguan orthorexia diindikasikan dengan obsesi terhadap pola makan sehat dan seringnya dicirikan dengan pola makan yang terlalu kaku atau ketat. Apabila Anda atau orang-orang di sekitar Anda memiliki ciri-ciri orthorexia dan mulai mengganggu aktivitas atau hubungan sosial, Anda dapat mengunjungi psikolog atau psikiater.

Advertisement

kesehatan mentalhidup sehatpola hidup sehat

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved