Gagap pada anak dapat menyebabkan dirinya sulit bersosialisasi
Terapi wicara dipercaya mampu membantu anak gagap untuk mengekspresikan perasaan lewat kata-kata.

Kondisi gagap pada anak dapat membingungkan bagi orangtua. Di satu sisi, kondisi ini disebutkan dapat hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak. Namun, di sisi lain, anak mungkin membutuhkan terapi wicara, untuk mengatasinya.

Sejauh ini, perawatan yang umum dilakukan untuk anak yang gagap memang dengan melakukan terapi wicara. Terapi ini dipercaya dapat membantu mengatasi gagap dalam jangka panjang, dan membantu anak untuk mengerti serta dapat mengekspresikan dengan baik perasaannya, melalui kata-kata.

Bagi Anda para orangtua, yang berencana memilihkan terapi wicara untuk anak, berikut ini metode perawatan tersebut, yang perlu Anda ketahui.

Haruskah Anak Menjalani Terapi Wicara?

Kondisi gagap pada anak masih sering tidak dianggap serius oleh sebagian orangtua. Banyak orangtua yang menolak untuk membawa anaknya untuk menjalani terapi wicara, karena dianggap akan menurunkan kepercayaan diri anak, atau menganggap gagap akan hilang dengan sendirinya, saat anak tumbuh besar.

Memang pada sebagian besar kasus, gagap dapat hilang dengan sendirinya. Namun di sisi lain, anak yang telah mengalami gagap lebih dari satu tahun, dipercaya akan sulit untuk pulih dengan sendirinya.

Tidak ada panduan mengenai usia terbaik bagi anak dalam menjalani terapi wicara. Meski begitu, beberapa ahli merekomendasikan untuk membawa anak melakukan terapi wicara 6-12 bulan, setelah Anda menyadari anak memiliki kondisi gagap.

Manfaat Terapi Wicara untuk Anak yang Gagap

Terapi wicara dapat memberikan berbagai manfaat untuk Si Kecil yang mengalami kondisi gagap. Namun, hasil terapi dapat berbeda, antara satu anak dengan anak lainnya.

Beberapa anak dapat benar-benar berhenti gagap, dan beberapa lainnya dapat belajar mengenai cara untuk membuatnya mengurangi gagap. Terapi ini juga dapat memberikan manfaat, dengan membuat anak belajar untuk berbicara lebih mudah dan santai, meski kegagapan masih sedikit terlihat.

Satu hal yang penting, terapi wicara justru akan meningkatkan kepercayaan diri anak terhadap kemampuannya dalam berbicara. Sebab, kondisi gagap yang dibiarkan, dapat memengaruhi kesehatan mental anak kedepannya.

Anak yang gagap dapat menjadi tidak percaya diri dan tidak berani untuk bersosialisasi. Gangguan kecemasan merupakan kondisi yang banyak dialami oleh penderita gagap. Karena mereka menganggap, berbicara membuat mereka cemas dan stres. Karena itu, terapi wicara dapat membantu kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

Bagaimana Cara Kerja Terapi Wicara?

Terapi wicara akan dilakukan oleh seorang terapis profesional, dengan beberapa strategi untuk membantu kemampuan bicara Si Kecil, melalui:

1. Aktivitas Intervensi Bahasa

Terapis akan berinteraksi dengan anak Anda dengan bermain dan berbicara, menggunakan gambar, buku, objek-objek tertentu, atau kejadian di sekitar. Tujuanya, untuk menstimulasi perkembangan kemampuan bicara.

Terapis juga akan mencontohkan kosakata serta tata bahasa yang benar, dan menggunakan latihan berulang, untuk membangun kemampuan berbicara pada anak.

2. Terapi Artikulasi

Latihan artikulasi atau cara pengucapan, dilakukan bersama terapis yang mencontohkan cara pengucapan kata dengan benar, per suku kata dan per kalimat, sambil bermain. Permainan yang dilakukan akan disesuaikan dengan usia anak.

Permainan tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan khusus masing-masing anak. Terapis akan mencontohkan anak cara memproduksi suara yang benar, dan menggerakkan lidah dalam memproduksi suara tertentu.

3. Terapi Makan dan Menelan

Terapis dapat menggunakan berbagai latihan oral termasuk memijat wajah dan melatih lidah, rahang, serta bibir untuk melatih kekuatan ototnya untuk makan, minum, dan menelan.

Terapis juga mungkin akan mengenalkan anak ke berbagai tekstur makanan dan temperatur untuk meningkatkan kesadaran anak saat makan dan menelan.

Semakin cepat terapi wicara dimulai, maka hasilnya akan semakin baik. Anak yang memulai terapi saat berusia di bawah lima tahun, cenderung mendapatkan hasil yang lebih baik, dibandingkan dengan anak yang memulainya setelah usia lima tahun.

Meski begitu, bukan berarti anak yang berusia di atas lima tahun tidak bisa mengikuti terapi wicara. Hanya saja, kemajuannya kurang optimal, karena anak sudah terbiasa menjalani suatu pola belajar yang perlu diubah.

The Stuttering Foundation. https://www.stutteringhelp.org/stuttering-therapy-children
Diakses pada 5 April 2019

Stuttering Treatment and Research Trust. https://www.stuttering.co.nz/news/why-mental-health-should-be-a-focus-for-people-who-stutter/
Diakses pada 5 April 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/speech-therapy.html
Diakses pada 5 April 2019

Parents. https://www.parents.com/kids/development/learning-disabilities/what-is-speech-therapy/
Diakses pada 5 April 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed