Terapi Kulit untuk Lupus Tidak Hanya Berupa Anti Inflamasi

Penderita lupus biasanya mengalami gangguan kulit seperti ruam-ruam di kulit wajah
Kortikosteroid merupakan salah satu obat mengatasi gangguan kulit bagi penderita lupus.

Masyarakat umumnya mengenal lupus sebagai suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan menyebabkan banyak komplikasi kepada penderitanya. Ruam berwarna kemerahan pada pipi yang menyerupai sayap kupu-kupu adalah salah satu ciri khas dari penyakit ini.

Penyakit lupus merupakan salah satu penyakit autoimun atau kondisi saat sistem imun menyerang jaringan dan organ tubuh yang memicu peradangan. Oleh karenanya, peradangan tersebut diatasi dengan pemberian anti inflamasi.

[[artikel-terkait]]

Apakah anti inflamasi bisa mengatasi gangguan kulit pada penderita lupus?

Anti inflamasi hanya berfungsi untuk mengurangi peradangan yang terjadi dalam tubuh penderita, bukan untuk mengatasi gangguan kulit. Peradangan tersebut mengakibatkan demam, rasa sakit, dan pembengkakan serta kekakuan pada bagian persendian, otot, dan jaringan lainnya.

Pemberian obat anti inflamasi dapat mengurangi gejala-gejala tersebut dan mencegah masalah medis lain yang lebih serius. Peradangan akibat lupus dapat memicu penyakit ginjal, masalah jantung, dan bahkan kerusakan pada sistem saraf.

Salah satu obat anti inflamasi yang digunakan adalah NSAIDs berupa ibuprofen dan naproxen yang bisa ditemukan di berbagai apotek. Namun, peradangan yang parah membutuhkan NSAIDs yang diresepkan oleh dokter.

Meskipun demikian, terdapat beberapa efek samping dari obat anti inflamasi NSAIDs, yaitu gangguan ginjal, meningkatnya risiko masalah jantung, pusing, pendarahan di perut, dan diare.

Selain NSAIDs, aspirin adalah salah satu obat antisakit dan anti inflamasi yang juga digunakan untuk mengatasi ketidaknyamanan di persendian akibat kambuhnya lupus. Namun, bagi beberapa orang, penggunaan aspirin memicu masalah pencernaan dan gangguan ginjal.

Kortikosteroid adalah alternatif obat anti inflamasi lain yang bisa digunakan dan merupakan obat anti inflamasi yang terkuat dari obat-obatan lain sejenisnya. Hanya dalam beberapa jam, kortikosteroid mampu mengurangi peradangan dan rasa sakit.

Penggunaan kortikosteroid memiliki efek samping yang serius dan oleh karenanya membutuhkan pengarahan dan instruksi dari dokter. Terkadang krim yang mengandung kortikosteroid juga diberikan untuk mengatasi ruam pada kulit di penderita lupus.

Terapi obat apa yang sesuai untuk gangguan kulit pada penderita lupus?

Jika obat anti inflamasi bukan penanganan yang tepat, apa terapi apa yang tepat untuk mengatasi gangguan kulit pada penderita lupus? Pemberian obat sebenarnya tergantung dari ruam yang ditimbulkan oleh lupus.

Terapi obat berupa obat antimalaria, seperti plaquenil mampu mencegah ruam karena lupus dan meningkatkan pertahanan kulit terhadap sinar ultraviolet dari matahari. Menarik ya, ternyata obat antimalaria punya fungsi lain.

Obat kortikosteroid tidak hanya berfungsi sebagai obat anti inflamasi, tetapi juga sebagai salah satu obat mengatasi gangguan kulit bagi penderita lupus yang paling umum diberikan. Obat ini membantu mengatasi ruam kulit yang diderita penderita lupus. Obat kortikosteroid dapat ditemukan dalam bentuk krim, semprotan, minyak, larutan, gel, dan sebagainya. 

Terdapat juga obat yang dikenal dengan sebutan imunomodulator yang mampu mengatasi gangguan kulit yang serius akibat lupus tanpa efek samping yang ditemukan pada penggunaan kortikosteroid. 

Obat imunomodulator bekerja dengan cara menekan sistem imun di kulit yang menimbulkan ruam berbentuk kupu-kupu (butterfly rash), luka, dan sebagainya. Selain obat imunomodulator, obat thalidomide juga dapat menjadi alternatif lain untuk mengatasi gangguan kulit yang terjadi.

Obat atau suplemen lain yang dapat digunakan adalah vitamin A, sulfone, diaminodiphenylsulfone, retinoid, dan sebagainya. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui jenis dan dosis obat yang dapat dikonsumsi.

Apakah ada cara lain untuk mengatasi gangguan kulit yang dialami?

Pemberian obat anti inflamasi maupun obat untuk gangguan kulit tidak cukup untuk menjaga kesehatan kulit penderita lupus. Pastinya terdapat perubahan pola atau gaya hidup yang harus dijalani.

Salah satunya adalah melindungi diri dari sinar UV. Sinar UVA dan UVB berpotensi memicu luka-luka dan ruam merah berbentuk kupu-kupu pada pipi dan hidung. Oleh karenanya, terapkanlah beberapa tips untuk mencegah sinar UV: 

  • Tutupi badan

Lindungi badan Anda dengan menggunakan celana panjang, baju berlengan panjang, topi dengan pinggiran yang lebar, dan kacamata hitam yang memfilter sinar UV saat beraktivitas di luar ruangan.

  • Cari tahu obat yang digunakan

Obat anti inflamasi, tekanan darah, dan antibiotik tertentu mampu meningkatkan sensitivitas kulit terhadap cahaya matahari. Oleh karenanya, selalu konsultasikan dengan dokter mengenai obat yang dikonsumsi.

Bila obat yang dikonsumsi meningkatkan sensitivitas terhadap cahaya matahari, Anda harus lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan.

  • Gunakan sunscreen setiap hari

Sunscreen dengan SPF 30 sudah cukup untuk melindungi Anda dari serangan sinar UV. Selalu pastikan bahwa sunscreen yang digunakan mengandung avobenzone, mexoryl, titanium dioxide, atau zinc oxide.

Oleskan setiap 80 menit sekali saat Anda beraktivitas di luar ruangan serta sebelum menggunakan perias wajah.

Genetics Home Reference. https://ghr.nlm.nih.gov/condition/systemic-lupus-erythematosus
Diakses pada 01 Juli 2019

John Hopkins Lupus Center. https://www.hopkinslupus.org/lupus-treatment/lupus-medications/
Diakses pada 01 Juli 2019

Lupus. https://www.lupus.org/resources/how-lupus-affects-the-skin
Diakses pada 01 Juli 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lupus/symptoms-causes/syc-20365789
Diakses pada 01 Juli 2019

UW Medicine. http://www.orthop.washington.edu/patient-care/articles/arthritis/lupus-erythematosus.htmlDiakses pada 01 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/lupus/guide/skin-care-tips-for-lupus#1
Diakses pada 01 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed