Terapi Bekam, Kontroversial tapi Punya Banyak Penggemar

Banyak orang meyakini terapi bekam dapat melancarkan peredaran darah dan membuang darah kotor
Terapi bekam menggunakan alat seperti cawan kecil yang menarik kulit dan menciptakan ruang hampa udara

Terapi alternatif yang telah ada sejak dulu dan masih banyak digunakan sampai sekarang adalah terapi bekam. Cara kerjanya adalah dengan menempatkan cawan di permukaan kulit hingga terbentuk ruang hampa udara dan pembuluh darah kapiler terhisap.

Klaimnya, terapi bekam dapat melancarkan peredaran darah bahkan membuang darah kotor. Menengok ke pengobatan Cina tradisional, terapi bekam juga disebut bisa mengalirkan “qi” atau energi dalam tubuh.

Jenis terapi bekam

Terapi bekam telah ada sejak dulu dan terus berkembang hingga kini. Ada dua jenis terapi bekam. Perbedaan utamanya adalah pada media cawan yang digunakan. Kedua jenis terapi bekam tersebut adalah:

  • Terapi bekam kering

Ini merupakan terapi bekam dengan cawan kecil yang dipanaskan terlebih dahulu. Tujuannya adalah saat api mengecil dan cawan ditempelkan ke kulit, perlahan tercipta ruang hampa. Dengan demikian, kulit dan otot akan tertarik ke atas karena perubahan tekanan.

  • Terapi bekam basah

Merupakan perkembangan lebih modern dari terapi bekam kering, cawan yang digunakan adalah pompa karet. Sebelum ditempelkan ke tubuh, area kulit yang akan dibekam terlebih dulu disayat hingga mengeluarkan darah.

Nantinya, darah ini yang akan ditampung dalam cawan dan dianggap sebagai darah kotor. Setelah selesai, luka sayatan akan ditutup agar tidak menimbulkan infeksi.

Amankah terapi bekam?

Terapi bekam diklaim bermanfaat bagi kesehatan, terutama untuk melancarkan aliran darah, mengatasi nyeri otot, mengobati batuk, hingga masalah jerawat. Meski demikian, belum ada penelitian yang benar-benar membuktikan hal ini.

Justru yang perlu digarisbawahi adalah sisi keamanan dari terapi bekam. Efek samping bisa dirasakan pada saat terapi atau seusai terapi.

Risiko dari terapi bekam di antaranya:

  • Luka sayatan

Untuk bisa mengalirkan darah keluar dan tertampung di cawan, terapis akan menyayat area kulit. Namun hal ini berisiko karena belum tentu benda tajam yang digunakan untuk menyayat benar-benar bersih. Bisa jadi pisaunya terkena bekas darah dari orang lain.

Luka sayatan yang terbuka pun rentan mengalami infeksi apabila tidak ditangani dengan tepat. Bukan tidak mungkin luka terbuka ini justru menjadi pintu masuk bagi bakteri dan kuman.

  • Penularan hepatitis

Selain risiko di atas, terapi bekam juga membuka peluang terjadinya penularan hepatitis terutama jika kebersihan peralatannya masih diragukan. Pompa silikon yang digunakan bagi setiap orang harus terlebih dahulu disteril sebelum diaplikasikan ke klien berikutnya.

Jika tidak, mungkin saja ada endapan bekas darah atau kotoran lain pada pompa silikon tersebut.

  • Luka bakar

Selain luka sayatan, luka bakar juga mungkin dialami orang seusai mengikuti terapi bekam. Hal ini terjadi apabila pompa silikon menghisap terlalu kencang sehingga kulit rentan terbakar.

  • Pusing

Ada kalanya seseorang akan merasa pusing sesaat setelah menjalani terapi bekam karena ada darah yang keluar. Reaksi pada setiap orang bisa berbeda.

  • Pendarahan di tengkorak

Meski langka, terapi bekam juga bisa menyebabkan pendarahan di tengkorak kepala apabila bekam dilakukan di kulit kepala

Perlu diingat juga bahwa seusai melakukan terapi bekam, biasanya akan ada bekas lingkaran berwarna gelap keunguan di area yang dihisap. Bekas ini akan menghilang dengan sendirinya setelah beberapa hari.

Waspada terapi bekam

Terapi bekam menjadi kontroversial karena risiko-risiko yang membayanginya justru lebih dominan ketimbang manfaatnya. Tak hanya itu, perlu diingat bahwa terapi bekam bukan untuk semua orang.

Ada golongan orang yang sebaiknya tidak mencoba terapi bekam, seperti:

Jika Anda merasa terapi bekam cocok dan membuat badan lebih sehat, pastikan bahwa Anda melakukan terapi bekam di tempat yang steril. Baik itu lokasi, peralatan, terapis, terutama semua benda yang bersinggungan langsung dengan kulit Anda.

Namun jika tidak, mungkin ada baiknya menunggu sampai ada penelitian ilmiah yang benar-benar membuktikan manfaat dari terapi bekam untuk kesehatan. Penelitian yang benar-benar valid, bukan bias atau hanya “apa kata orang” saja.

Healthline. https://www.healthline.com/health/cupping-therapy#side-effects
Diakses 8 Oktober 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324817.php
Diakses 8 Oktober 2019

WebMD. https://www.webmd.com/balance/guide/cupping-therapy#1
Diakses 8 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed