Teori Erikson, 8 Tahapan Psikososial Adalah Bekal Orangtua Mendidik Anak


Teori perkembangan psikososial Erik Erikson hampir mirip dengan teori milik Sigmund Freud. Aspek psikososial adalah faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak hingga lanjut usia.

(0)
18 Nov 2020|Azelia Trifiana
Psikolog yang berhasil menciptakan teori perkembangan manusia paling berpengaruh hingga kini adalah Erik Erikson. Aspek psikososial adalah titik berat teori ini, yang berarti karakter seseorang terbentuk dalam tahapan sepanjang hidupnya.Teori perkembangan psikososial Erik Erikson hampir mirip dengan teori milik Sigmund Freud. Hanya saja, yang lebih ditekankan pengalaman sosial sejak masih anak-anak hingga lanjut usia.

Tahapan teori psikososial Erikson

Erikson meyakini bahwa pada setiap jenjang kehidupannya, manusia akan menghadapi konflik yang berpengaruh besar pada karakter dirinya. Konflik ini bisa berpengaruh positif maupun negatif.Apabila tahapan psikososial di usia tertentu bisa terlewati dengan baik, maka kekuatan ego akan meningkat. Di sisi lain, apabila tidak terlewati dengan baik, rasa kurang ini akan terbawa hingga dewasa.Penjabaran tentang tahapan psikosial Erikson dibedakan menjadi:

1. Bayi (lahir-18 bulan)

bayi tengkurap
Tahap pertama teori perkembangan psikososial adalah yang paling penting bagi kehidupan manusia. Pada fase ini, konflik akan berpusat pada kepercayaan atau “trust vs mistrust”. Artinya, peran orang di sekitarnya sebagai pengasuh sangatlah krusial.Apabila pengasuh berhasil memberikan makanan, kasih sayang, kehangatan, rasa aman, dan sebagainya, maka akan membentuk karakter seseorang yang bisa percaya kepada orang lain.Sebaliknya, jika bayi tidak mendapatkan pengasuhan yang konsisten, tidak dekat secara emosional, atau merasa terabaikan, maka akan tumbuh menjadi orang yang takut dan tidak percaya pada dunia. Hasil akhir dari proses ini adalah harapan atau hope.

2. Anak-anak (2-3 tahun)

Memasuki tahap kedua, bayi sudah tumbuh menjadi anak-anak yang memiliki kendali diri lebih besar. Tak hanya itu, anak juga mulai mandiri. Fase potty training cukup krusial untuk melewati fase “autonomy vs shame and doubt” ini.Erikson meyakini bahwa anak yang memiliki kendali diri akan otomatis merasa lebih mandiri. Contohnya saat bisa memilih apa yang dimakan, mainan favorit, hingga baju yang akan dikenakan.Hasil akhir dari proses ini adalah keinginan atau will. Jika berhasil, anak akan memiliki kuasa atas dirinya. Jika gagal, akan muncul rasa malu dan penuh keraguan.

3. Usia pra-sekolah (3-5 tahun)

balita
Di tahap ini, anak mulai terlibat dalam permainan dan interaksi sosial. Jika berhasil melewatinya dengan baik, anak akan merasa bisa memimpin orang lain. Sementara bagi yang gagal, akan kerap merasa bersalah, meragukan kemampuan diri sendiri, dan jarang berinisiatif.Ini adalah fase “initiative vs guilt” yang membentuk karakter manusia hingga memiliki tujuan hidup atau purpose. Hasil ini hanya bisa tercapai apabila anak berhasil menyeimbangkan kapan menyampaikan inisiatif dan kapan mau bekerja sama dengan orang lain.

4. Usia sekolah (6-11 tahun)

ibu mengantar anak sekolah
Lewat interaksi sosial, anak mulai merasakan bangga ketika berhasil melakukan sesuatu. Pada usia sekolah ini pula, mereka harus menghadapi tantangan berupa target sosial dan akademis. Di fase “industry vs inferiority” ini, yang berhasil melewatinya akan merasa kompeten. Sebaliknya, yang gagal akan merasa inferior.Itulah mengapa hasil akhir dari fase ini adalah “confidence”. Anak-anak yang di usia sekolah jarang mendapat apresiasi atau dukungan dari orang terdekat akan meragukan kemampuannya menjadi sukses.

5. Remaja (12-18 tahun)

anak remaja bermain hape
Fase selanjutnya adalah “identity vs role confusion” yaitu saat remaja mencari jati diri yang akan berpengaruh pada hidupnya dalam jangka panjang. Remaja yang berhasil akan konsisten dengan dirinya, sementara yang gagal akan merasa bingung tentang jati dirinya.Jati diri ini berkaitan dengan kepercayaan, konsep ideal, dan nilai yang membentuk karakter seseorang. Jika berhasil, maka akan ada hasil akhir berupa fidelity, kemampuan untuk hidup berdampingan dengan harapan dan standar masyarakat.

6. Awal dewasa (19-40 tahun)

Fase “intimacy vs isolation” berkaitan erat dengan hubungan kasih sayang dengan pasangan. Jika berhasil, maka orang bisa membentuk hubungan yang kuat. Sebaliknya jika gagal, seseorang justru akan menutup dirinya.Mengingat tiap tahapan berkaitan dengan fase sebelumnya, hal ini berkaitan pula dengan identitas. Orang yang tidak yakin tentang identitas dirinya cenderung lebih mudah merasa kesepian hingga depresi. Hasil akhir dari tahapan ini adalah love.

7. Dewasa (40-65 tahun)

Berada di fase dewasa, seseorang tentu ingin melakukan sesuatu yang membuat dirinya berguna. Jika sukses, maka akan muncul rasa berguna. Sebaliknya jika gagal, akan merasa keterlibatannya di dunia tidaklah signifikan. Ini adalah fase “generativity vs stagnation”.Hasil akhir dari fase ini adalah kepedulian atau care. Mulai dari melihat anak tumbuh dewasa hingga merasa dekat dengan pasangan adalah bagian penting dari tahapan ini.

8. Kematangan (65 tahun-meninggal dunia)

Inilah tahap ketika seseorang melakukan refleksi pada apa yang dilakukannya semasa muda. Jika merasa puas dengan pencapaiannya, maka akan muncul rasa cukup. Sebaliknya jika tidak puas, akan muncul penyesalan hingga rasa putus asa.Hasil akhir dari fase ini adalah kebijaksanaan atau wisdom. Orang yang merasa puas terhadap apa yang dilakukannya semasa muda akan siap menghadapi akhir hidupnya dengan damai.Teori perkembangan psikososial Erikson tidak berarti seseorang harus benar-benar berada di kutub positif atau negatif untuk bisa melihatnya. Justru, yang terpenting adalah keseimbangan di antara kedua aspek.

Terlepas dari kritik atau relevansi teori ini bagi kehidupan manusia, aspek psikososial adalah hal yang bisa membantu saat menghadapi beragam konflik kehidupan.Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang teori perkembangan kehidupan dan bagaimana menanamkan nilai yang tepat saat mendidik anak, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
tips parentingibu dan anakgaya parenting
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/erik-eriksons-stages-of-psychosocial-development-2795740
Diakses pada 3 November 2020
Positive Psychology. https://positivepsychology.com/erikson-stages/
Diakses pada 3 November 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/erikson-stages
Diakses pada 3 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait