Teknik Pernapasan Menutup Mulut dengan Selotip saat Tidur, Amankah?

Menutup mulut dengan selotip saat tidur demi menguasai teknik pernapasan yang tepat
Menutup mulut dengan selotip, bisa menjadi cara untuk bisa melakukan teknik pernapasan melalui hidung

Sebuah metode baru yang belum familiar dilihat, baru-baru ini ramai dibicarakan di media sosial. Metode tersebut adalah menutup mulut menggunakan selotip saat tidur, sebagai langkah untuk mencapai cara bernapas yang benar.

Cara bernapas yang benar yang ingin dicapai melalui metode ini adalah bernapas melalui hidung. Selama ini, keuntungan yang bisa didapat dari bernapas lewat hidung maupun kerugian yang bisa timbul akibat kebiasaan bernapas lewat mulut, memang belum banyak beredar.

Lalu, amankah teknik pernapasan tersebut? Sebelum mengetahui lebih lanjut mengenai metode ini, ada baiknya mengetahui terlebih dahulu, dampak dari bernapas melalui mulut, bagi kesehatan Anda.

[[artikel-terkait]]

Bahaya yang bisa timbul akibat bernapas lewat mulut

Bernapas lewat mulut sebenarnya tidak selalu dilarang. Pada kondisi tertentu seperti saat sedang flu atau olahraga, bernapas lewat mulut bisa membantu masuknya oksigen yang diperlukan tubuh.

Namun jika menjadi kebiasaan, maka teknik pernapasan ini bisa menimbulkan berbagai kerugian untuk kesehatan, berupa:

  • Mulut kering
  • Bau mulut
  • Suara menjadi serak
  • Tidur mendengkur
  • Tidur menjadi tidak nyenyak
  • Tubuh menjadi lelah saat bangun tidur
  • Lingkaran hitam di bawah mata
  • Peningkatan risiko gigi berlubang dan munculnya penyakit gusi
  • Menyebabkan masalah pada rahang
  • Kesulitan berbicara, termasuk untuk melafalkan huruf ‘S’

Menutup mulut dengan selotip saat tidur untuk perbaiki teknik pernapasan

Secara medis, penelitian mengenai metode ini sebenarnya belum banyak ditemukan. Namun menutup mulut dengan selotip dipercaya sebagian orang, bisa melatih tubuh untuk melakukan teknik pernapasan yang benar.

Konsepnya sebenarnya sederhana. Jika mulut ditutup, maka mau tidak mau, Anda akan bernapas melalui hidung. Bernapas melalui hidung saat tidur, dipercaya bisa meningkatkan produksi nitrit oksida, yang bermanfaat untuk meredakan peradangan, memperbaiki kualitas tidur, meningkatkan daya ingat, dan menjaga sistem imun tubuh.

Menutup mulut dengan selotip juga dianggap bisa mengurangi risiko terjadinya mulut kering dan kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur.

Perlu diingat, bagi Anda yang ingin mencoba metode ini, pelajari sebaik mungkin teknik yang digunakan dari para pencetus teknik ini. Jangan gunakan sembarang selotip atau penutup mulut, yang justru bisa berbahaya bagi kesehatan Anda.

Anda juga disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter, apabila ingin mencobanya, agar lebih aman.

Teknik pernapasan ini bisa menimbulkan bahaya pada kondisi tertentu

Menutup mulut menggunakan selotip saat tidur, tidak disarankan untuk orang yang memiliki gangguan tidur, seperti apnea tidur dan yang sedang mengalami mual. Berikut ini penjelasannya.

1. Tidak disarankan untuk penderita apnea tidur

Teknik pernapasan ini tidak disarankan untuk penderita apnea tidur dimana pernapasan berhenti tanpa sadar dalam periode waktu yang singkat selama tidur. Sebab, orang-orang dengan kondisi ini, umumnya membutuhkan alat bernama continuous positive airway pressure (CPAP), untuk bisa tidur dengan lelap.

Saat tidur, tubuh berada pada kondisi tidak sadar. Pemasangan selotip di mulut akan menyulitkan penderita apnea tidur, untuk bernapas, apabila alat CPAP yang digunakan berhenti berfungsi, akibat mati listrik atau sebab lainnya.

Jika proses pernapasan terganggu, maka karbondioksida yang seharusnya dikeluarkan, menjadi menumpuk di darah.

Kondisi ini bisa menyebabkan penderita apnea tidur tersebut, menjadi lebih sulit untuk bangun, atau malah bangun dalam kondisi bingung, maupun jatuh koma.

2. Tidak disarankan untuk yang sedang mual

Anda juga tidak disarankan melakukan teknik pernapasan tersebut, saat mengalami mual akibat mengonsumsi minuman beralkohol maupun karena penyakit tertentu. Sebab dalam kondisi tersebut, Anda tentu saja akan kesulitan muntah, jika mulut dalam kondisi diplester.

Orang yang mabuk dan tidur nyenyak, berada pada fase tidak sadar. Sehingga, muntah yang seharusnya bisa keluar secara spontan, berisiko kembali masuk ke tubuh dan justru masuk ke paru-paru.

Kondisi ini disebut dengan aspirasi paru-paru. Aspirasi, bisa jadi salah satu penyebab pneumonia atau bahkan kematian, apabila terjadi sesak napas.

Pada keadaan ini, risiko yang akan timbul apabila Anda bernapas melalui mulut, tidak sebanding dengan risiko bahaya yang bisa timbul akibat menutup mulut dengan selotip. Sehingga, Anda perlu lebih berhati-hati jika ingin mencoba metode ini.

Menutup mulut menggunakan selotip saat tidur, bukanlah satu-satunya cara untuk bisa menghilangkan kebiasaan yang salah dalam bernapas. Cara lain seperti melatih pernapasan dengan yoga atau menggunakan alat khusus dari dokter, bisa menjadi pilihan.

 

Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/sleep/mouth-taping-cheapest-life-hack-better-sleep/
Diakses pada 7 Juli 2019

Very Well. https://www.verywellhealth.com/taping-lips-to-prevent-air-leaks-with-cpap-3015023
Diakses pada 7 Juli 2019

Healhtline. https://www.healthline.com/health/alternate-nostril-breathing
Diakses pada 7 Juli 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/mouth-breathing
Diakses pada 7 Juli 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319487.php
Diakses pada 7 Juli 2019

Ask The Dentist. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319487.php
Diakses pada 7 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed