Teknik marmet atau memerah ASI dengan tangan tidak membutuhkan alat khusus
Teknik marmet dapat mengosongkan payudara hingga tuntas

Apa jadinya jika ibu menyusui yang bekerja lupa membawa pompa ASI ke kantor? Teknik marmet bisa jadi jawabannya. Ini adalah cara memerah ASI menggunakan tangan dan tanpa menggunakan alat bantu lain.

Cara memerah ASI setiap ibu menyusui berbeda-beda, tergantung pada pilihan setiap orang. Ada yang lebih suka menggunakan alat pompa elektrik, manual, atau teknik marmet.

Sekarang kita bedah kelebihan dan kekurangan setiap metode.

Cara memerah ASI, pilih yang mana?

Alat pompa ASI menjadi teman baik ibu menyusui yang harus bekerja setelah cuti selama sekitar 3 bulan. Biasanya, alat pompa ASI ini satu paket dengan cooler bag dan botol kaca atau plastik ASI untuk menampung hasil perah.

Berdasarkan preferensi, biasanya ada 3 cara memerah ASI yang dipilih:

Memerah ASI dengan pompa elektrik paling banyak dipilih oleh ibu menyusui

1. Perah ASI dengan pompa elektrik

Memerah ASI dengan pompa elektrik banyak disukai karena hanya perlu menempelkan alat pompa pada payudara dan menekan tombol start, otomatis alat akan bekerja. Tangan tak perlu direpotkan untuk mengoperasikan alat tersebut.

Namun di sisi lain, alat pompa elektrik lebih memakan tempat dan elemennya cukup banyak. Mulai dari charger, selang, valve, dan banyak lagi. Jika satu saja ketinggalan, alat pompa terancam tidak bisa digunakan.

Belum lagi waktu yang digunakan untuk membersihkan dan mensterilkan setiap elemen pompa ASI setiap habis digunakan.

2. Perah ASI dengan pompa manual

Selanjutnya ada cara memerah ASI dengan pompa manual, tidak menggunakan alat yang harus dihubungkan dengan aliran listrik ataupun baterai. Alat ini dioperasikan dengan cara menekan tuas secara bergantian hingga payudara kosong.

Namun di sisi lain, yang membuat kurang nyaman adalah tangan harus terus bergerak untuk mengoperasikannya. Kadang ibu menyusui bisa merasa pegal atau lelah.

3. Teknik marmet

Yang ketiga adalah teknik marmet atau memerah dengan tangan. Tanpa alat satu pun, teknik marmet bisa dilakukan dengan menempelkan botol kaca ASI langsung ke puting payudara.

Kemudian, tangan bergerak dengan arah tertentu untuk mengeluarkan ASI dari payudara. Peralatannya tidak banyak, namun kadang tidak semua ibu menyusui terbiasa menggunakan teknik marmet.

Teknik marmet tidak sulit

Wajar jika ada ibu menyusui yang merasa mustahil bisa mengosongkan payudara hanya dengan tangan kosong. Padahal, teknik marmet sangat direkomendasikan oleh konselor laktasi karena bisa benar-benar mengosongkan payudara hingga tuntas.

Jika Anda memerah ASI tidak tuntas, bisa saja ada akumulasi ASI yang tersumbat membuat gumpalan dan terasa nyeri. Bila dibiarkan, ibu menyusui bisa merasakan sakit, demam, hingga mastitis.

Ingin belajar teknik marmet yang lebih ringkas? Simak caranya:

Selalu bersihkan tangan sebelum memerah ASI

1. Cuci tangan

Mengingat tangan Anda akan berinteraksi langsung dengan payudara dan rentan terkena ASI perah, pastikan tangan sudah dicuci dengan bersih di air mengalir

2. Pijat perlahan

Sebelum memulai, pijat perlahan area payudara terutama di bagian atas agar siap untuk diperah

Jangan lupa steril dulu botol kaca yang akan digunakan untuk menampung ASI perah

3. Siapkan botol kaca 

Sebagian besar ibu menyusui yang melakukan teknik marmet akan menampung ASI perah dengan botol kaca khusus ASI. Pastikan botol kaca sudah disteril dan letakkan di bawah puting.

4. Posisi tangan

Salah satu hal yang cukup tricky ketika melakukan teknik marmet adalah posisi tangan yang benar. Idealnya, letakkan 4 jari selain ibu jari di bawah payudara. Kemudian, ibu jari ada di bagian atas payudara yang bergerak ke arah puting untuk mengeluarkan ASI.

Jika gerakan di atas belum berhasil mengeluarkan ASI, jangan menyerah. Cari posisi yang paling pas. Bukan berarti posisi tangan di atas adalah satu-satunya cara. Biasanya, ibu menyusui akan menemukan posisi mana yang paling tepat untuk memancing ASI keluar.

5. Beri jeda

Teknik marmet tentu membuat tangan pegal karena harus terus bergerak memijat payudara. Untuk itu, beri jeda sembari membangun mood agar kembali rileks. Melakukan stretching bisa jadi pilihan.

Jangan lupa ketika mengambil jeda, pastikan botol kaca tertutup agar tidak terpapar debu atau risiko tumpah karena tersenggol.

Bisa karena terbiasa. Itulah yang menjadi prinsip ketika seorang ibu menyusui memilih menggunakan teknik marmet. Apalagi, memerah ASI butuh komitmen yang tidak main-main.

Bonusnya, teknik marmet juga sekaligus memijat payudara dan memastikan tidak ada ASI yang tertinggal. Risiko clogged duct atau mastitis tentu jauh berkurang.

Sebisa mungkin, teruslah disiplin dalam mengosongkan payudara sehingga suplai ASI tetap terjaga. Jangan tunggu sampai payudara terlalu keras. Lebih baik memerah dengan jeda singkat dan hasil sedikit ketimbang jeda lama dengan hasil yang banyak namun ada risiko suplai berkurang.

Selamat mencoba!

Motherlove. https://www.motherlove.com/blogs/all/pump-more-milk-with-hands-on-pumping
Diakses 8 November 2019

Parents. https://www.parents.com/baby/breastfeeding/breast-pumping/hand-expressing-breast-milk-how-to/
Diakses 8 November 2019

Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/how-to-increase-your-milk-supply-with-hands-on-pumping-2748592
Diakses 8 November 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed