Tantangan Ibu Muda: Menyaring Informasi dan Ingin Sempurna

Derasnya arus informasi, berisiko membuat ibu muda tidak berani mengambil keputusan tertentu dalam hal pengasuhan anak.
Ibu muda berisiko kebingungan dalam mengambil keputusan dalam mengasuh anak, karena banyaknya informasi.

Seorang ibu muda tentunya akan mengalami berbagai perubahan dan pengalaman baru. Tak terkecuali, sejumlah tantangan yang menanti. Psikolog dari Lembaga konsultasi psikologi TigaGenerasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi. menyebut terlalu banyaknya informasi dan keinginan menjadi ibu sempurna, sebagai dua tantangan bagi ibu baru milenial. Seperti apa penjelasannya?

Tantangan ibu muda dalam memilah informasi

"Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua," kata Saskhya kepada SehatQ. Oleh karena itu, orangtua termasuk ibu, akan menghadapi berbagai masalah yang tidak terbayang, sebelum memiliki anak.

Dengan kemajuan teknologi, seorang ibu muda pun bisa dengan begitu mudah memperoleh  banyak informasi seputar parenting atau pengasuhan anak. Sumbernya pun bisa beragam, baik itu para ahli termasuk dokter dan psikolog, sesama ibu, bahkan selebgram atau selebtwit sekalipun.

Akibatnya, seorang ibu muda bisa menjadi kebingungan dengan berbagai informasi yang diterimanya. Begitu pula untuk memilah informasi dan menentukan kebenarannya.

Dampak dari banyaknya informasi

Ibu muda pun berisiko terhadap kondisi-kondisi berikut ini, akibat banyaknya informasi yang diperolehnya.

  • Kebingungan dalam menentukan model pengasuhan anak
  • Penurunan kepercayaan diri dalam mengasuh anak
  • Peningkatan peluang dalam mengambil keputusan yang salah
  • Menyesal dengan pilihan yang sudah diambil
  • Tidak berani memutuskan satu pilihan pun
  • Tidak konsisten dan tidak optimal dalam mengasuh anak

Untuk menghadapi arus informasi, Saskhya menyarankan untuk memilih sumber informasi, hanya dari para ahli di bidangnya. Selain itu, ia menyarankan ibu baru untuk senantiasa berdiskusi dengan pasangan, untuk menemukan pola pengasuhan yang paling sesuai untuk keluarga.

Yang tak kalah penting, kata Saskhya, ibu muda sebaiknya selalu mencari lingkaran pertemanan yang positif. "Jangan lupa juga untuk menggunakan prinsip less is more, untuk selalu mensyukuri kondisi keluarga," kata Saskhya.

Tantangan ibu muda berupa keinginan untuk sempurna

Tantangan berikutnya yang dihadapi oleh ibu muda adalah keinginan untuk selalu tampak sempurna. Saskhya mengungkapkan, pesatnya perkembangan teknologi kini telah menghadirkan banyak wadah untuk berekspresi. Media sosial seperti Instagram adalah salah satunya.

Akibatnya, ibu muda bisa memiliki standar ekspektasi tertentu. Pada akhirnya, kondisi ini seringkali menimbulkan kecemasan, kewaspadaan berlebih, dan mengurangi kepercayaan diri.

Penyebab ibu muda ingin menjadi sempurna

Saskhya mengungkapkan, keinginan menjadi sosok ibu muda yang sempurna, bisa muncul karena:

  • Tekanan sosial
  • Ekspektasi tertentu
  • Rasa malu, gagal, dan berdosa

Ketiga hal tersebut saling berkaitan. Munculnya tekanan sosial, bisa membuat seorang ibu muda memiliki ekspektasi tertentu mengenai cara pengasuhan anak. Selanjutnya, apabila ekspektasi tertentu itu tidak terpenuhi, perasaan malu, gagal, hingga berdosa pun, bisa muncul.

Komentar dari orang lain berisiko menimbulkan tekanan sosial, dan membuat cemas. Sebab, otak manusia memiliki sistem fight or flight, untuk menghadapi kondisi yang dianggap berbahaya atau respons tubuh terhadap stres. Sayangnya, otak tidak bisa membedakan false danger dan real danger.

False danger adalah kondisi yang seakan-akan berbahaya, padahal sebenarnya tidak. Sementara itu, real danger merupakan kondisi bahaya yang sesungguhnya.

Sayangnya, Saskhya menjelaskan, karena otak tidak bisa membedakan false danger dari real danger, maka komentar negatif dapat dipersepsikan otak sebagai kondisi bahaya, setingkat akan diterkam hewan buas.

"Akibatnya, sistem fight or flight menjadi teraktivasi, dan membuat kita cemas serta stres," kata Saskhya.

Dampak dari keinginan ibu muda untuk menjadi sempurna

Ingin menjadi sosok sempurna, termasuk sebagai seorang ibu muda, ternyata bisa menimbulkan dampak-dampak berikut ini.

  • Mudah cemas, rentan terhadap stres, bahkan depresi
  • Selalu merasa "kurang" dalam menjalankan peran sebagai seorang ibu
  • Terjebak dalam mompetition atau mom shaming

Saskhya menjelaskan, mompetition adalah sebuah “kompetisi” antaribu yang menganggap pengasuhan anak oleh dirinya sendiri, lebih baik dari ibu lainnya. Bentuknya bisa beragam, mulai dari sharing pengalaman, tapi dengan kalimat yang menyakiti ibu lain, mengkritik cara pengasuhan anak oleh ibu lain, bahkan menyerang secara verbal.

Sementara itu, mom shaming merupakan bentuk komentar negatif atau kritik berlebihan terhadap seorang ibu, atas pengasuhan anak yang dilakukannya. Hal ini misalnya terjadi, jika ada seseorang yang mengkritik cara parenting seorang ibu, tanpa memperhatikan kondisi emosi, medis, maupun finansial lawan bicaranya.

Untuk mengurangi keinginan menjadi ibu muda yang sempurna, Anda disarankan untuk fokus pada tujuan sebagai ibu, dan bergaul dengan teman-teman yang suportif.

Tips menjaga kesehatan mental bagi ibu muda

Pada akhirnya, sebagai seorang ibu muda, Anda harus menjaga kesehatan mental. Apalagi dengan begitu banyaknya informasi mengenai pengasuhan anak. Saskhya menjelaskan, setidaknya ada tiga langkah untuk menjaga kesehatan mental ibu muda, sebagai berikut ini.

  1. Follow “orang biasa” di media sosial:

    Mengikuti orang-orang biasa atau mereka yang tidak berkecimpung di industri showbiz, penting bagi ibu muda. Sebab, kita bisa menyadari bahwa kesempurnaan tokoh-tokoh industri hiburan, yang digambarkan dalam setiap konten di akun media sosial mereka, tak lain adalah bentuk profesionalisme dalam pekerjaan.
  2. Punya tujuan yang jelas sebagai ibu:

    Ketika seorang ibu muda telah memiliki tujuan yang jelas sebagai orangtua, maka ia tidak akan terlalu memusingkan jumlah like atau komentar dari setiap konten atau postingan yang diunggah di media sosial. Saskhya memberikan sebuah gambaran. Sebagai seorang ibu muda yang bekerja, ia dibantu seorang pengasuh. Ada kalanya ia menerima komentar, "Kok tega 'kasih' anak sendiri ke orang lain?" Namun, Saskhya menyadari, ia memang membutuhkan kehadiran pengasuh, agar aktivitas keluarganya dan pekerjaannya berjalan dengan baik. "It's fine. Komentar itu tadi kuanggap sebagai komentar biasa," ujarnya.
  3. Mendapatkan support system yang baik:

    Memperoleh dukungan dari orang-orang terdekat, bisa membantu menjaga kesehatan mental ibu muda. Oleh karena itu, ibu muda disarankan untuk bekerja sama dengan pasangan dalam menentukan pola asuh anak, dan bergaul dengan orang-orang yang positif.

Saskhya mengingatkan, ada konsekuensi bagi ibu muda, dalam menghadapi perkembangan teknologi. Ia mengungkapkan, wajar jika kemudian seorang ibu bingung, karena mendapatkan banyak informasi soal parenting, dari forum, medsos, bahkan mertua.

Derasnya arus informasi tersebut, sulit untuk dikontrol. Namun, kata Saskhya, sebagai penerima informasi, kita bisa mengontrolnya. Ia berpesan agar setiap ibu ingat, bahwa sebagai individu, setiap orang pasti berbeda.

Dengan kata lain, tidak ada satu formula spesifik, yang bisa benar-benar efektif bagi semua orang. “Jangan tanya ke Google, anak saya beratnya sekian, susah makan, harus bagaimana?” ucap Saskhya. Sebaiknya, berkonsultasilah dengan dokter spesialis anak maupun psikolog anak, untuk mengatasi kondisi semacam itu.

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed