Tanda-Tanda Overachiever dan 5 Cara Mengatasinya


Individu yang memiliki sifat overachiever bisa sukses baik secara akademik maupun profesional. Namun, dalam jangka panjang sifat ini malah bisa menyebabkan ketidakseimbangan dalam kehidupan seseorang yang akhirnya malah menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan.

0,0
29 Oct 2021|Azelia Trifiana
Sikap overachiever dapat membuat seseorang bekerja berlebihanSikap overachiever dapat membuat seseorang bekerja berlebihan
Memang benar bahwa individu yang overachiever bisa sukses baik secara akademik maupun profesional. Namun, ingat bahwa ini bisa jadi biang kerok terjadinya ketidakseimbangan dalam hidup seseorang.
Bukan tidak mungkin, overachiever mengabaikan kebutuhan dirinya, keluarga, dan teman-temannya demi mencapai kesuksesan. Seakan dibutakan oleh keinginan mendapat pencapaian terbaik.

Tanda-tanda orang yang overachiever

Masalah pada individu yang overachiever tidak terletak pada keinginannya untuk mencapai kesuksesan. Ini bukan masalah. Hanya saja, cara untuk mencapainya bisa menimbulkan masalah.Beberapa tanda-tanda sosok orang yang overachiever di antaranya:
  • Memiliki ekspektasi berlebih dari guru atau atasan
  • Sebagai atasan, terlalu keras terhadap bawahan
  • Ekspektasi dan tuntutan terhadap kerja tim berlebihan
  • Rentan mengalami burnout pekerjaan
  • Meyakini yang terpenting adalah hasil akhirnya
  • Mengkritik diri sendiri secara berlebihan
  • Terus-menerus khawatir akan masa depan
  • Tidak menikmati masa kini
  • Bekerja berlebihan dan tidak bisa rileks
Tentu selain beberapa tanda-tanda orang yang overachiever di atas, ada hal lain yang juga menjadi indikator. Penting untuk mengenali ketika situasi sudah kelewat batas agar tahu kapan menarik tuas rem.Dampak dari overachieverBeberapa dampak yang mungkin timbul ketika seseorang terjebak dalam keinginan overachiever adalah:
  • Sukar menerima kegagalan

Sosok overachiever akan sangat fokus pada hasil akhir. Ini yang menjadi standar dalam menjalani keseharian. Ketika tercapai, mereka lebih merasa lega karena tidak gagal, bukannya benar-benar menikmati pencapaiannya. Begitu pula sebaliknya. Ketika gagal, mereka bisa merasa benar-benar hancur.
  • Terlalu keras mengkritik diri sendiri

Jangan heran apabila sosok overachiever memasang ekspektasi luar biasa tinggi. Mereka pun tak segan-segan mengkritik diri sendiri dengan keras dan berlebihan. Alhasil, merasa cemas dan meragukan diri sendiri akan menjadi bagian dari pikiran yang menghantui. Ini adalah perpaduan tak terhindarkan munculnya stres.
  • Mengabaikan masa kini

Terlalu terbutakan dengan masa depan membuat seorang overachiever cenderung mengabaikan apa yang terjadi saat ini. Mereka acuh pada apa yang ada saat ini, karena sibuk khawatir dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Tak heran jika sulit bagi mereka untuk menikmati waktu saat ini, apalagi bersikap mindful.
  • Bekerja berlebihan

Bukan workaholic saja, namun orang overachiever seakan-akan tak bisa berhenti bekerja. Tak pernah mengambil cuti, menyendiri, atau bahkan sekadar bersantai. Pola ini terus berulang, terutama saat masa-masa sibuk. Ketika sudah kronis, overachiever akan merasa bingung bagaimana menekan tombol pause dari pekerjaan.Pemandangan yang akan sering terlihat dari seorang overachiever adalah lembur setiap hari, terus-menerus bekerja, bahkan tidak meluangkan waktu untuk merawat diri atau menjalani hobi.
  • Berani mengambil risiko

Berani, memang. Namun cenderung berlebihan ketika orang overachiever sudah menghalalkan berbagai risiko demi mencapai tujuannya. Bahkan yang tidak etis sekalipun. Mereka rela melakukan apapun demi tidak menghadapi kegagalan. Bukan hanya dalam pekerjaan, ini juga bisa terjadi dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
  • Mudah marah

Ekspektasi berlebihan akan membuat seorang overachiever merasa stres. Ketika sudah menumpuk, rentan terjadi ledakan emosional saat situasi tidak berjalan sesuai rencana. Bahkan, hal sederhana saja bisa membuat mereka meledak tak keruan.
  • Tidak bisa menghadapi kritik

Bagi overachiever, evaluasi atau kritik dari orang lain bisa jadi sangat destruktif. Sebab, menurut mereka kritik adalah indikasi terjadinya kegagalan. Ini adalah hal yang paling ditakuti oleh mereka. Bahkan, dari kritik kecil sekalipun.
  • Dihantui rasa takut

Setiap orang pasti punya sumber motivasi. Bagi overachiever, mereka termotivasi rasa takut. Takut gagal, takut mengecewakan orang lain, takut terlihat lemah, takut tampak tidak kompeten. Inilah yang menjadi sumber kecemasan mereka.Pada akhirnya, orang semacam ini akan bekerja keras demi menghindari kegagalan, bukan demi mencapai kesuksesan. Kondisi ini juga disertai dengan rasa khawatir, takut, dan kehilangan kepercayaan diri.Baca juga: Sisi Gelap Menjadi Orang Perfeksionis bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Cara mengatasi kebiasaan overachiever

Apabila dampak dan tanda-tanda orang yang overachiever di atas telah Anda alami, saatnya mengambil sikap. Ini penting, jangan sampai keinginan mencapai tujuan justru merusak kesehatan fisik, mental, dan relasi dengan orang lain.Beberapa hal yang bisa Anda lakukan seperti:

1. Menyusun ulang prioritas

Ambil jeda dari kesibukan dan tuntutan sehari-hari, kemudian renungkan kembali apa yang menjadi prioritas Anda. Pertimbangkan pula bagaimana perasaan Anda ketika tujuan tidak tercapai? Lalu, tarik kesimpulan apakah ekspektasi ini realistis?Setidaknya, ini bisa menjernihkan pikiran untuk tahu apa motivasi yang selama ini ada.

2. Merawat diri sendiri

Jangan lupakan pentingnya merawat diri sendiri, baik fisik maupun mental. Ambil jeda saat merasa lelah, apresiasi pencapaian selama ini, dan lakukan hal setiap hari yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental. Bisa dengan berolahraga, minum smoothies, meditasi, dan banyak lagi.

3. Terhubung dengan orang lain

Bagi overachiever, mungkin relasi dengan orang lain di sekitar kerap kali bukan menjadi prioritas. Baik itu dengan keluarga, pasangan, teman, bahkan tetangga. Cobalah untuk lebih terkoneksi dengan mereka. Hubungan sosial yang baik akan menjadi faktor penting bagi kesuksesan seseorang.

4. Berteman dengan rasa takut

Tentu orang overachiever punya sumber ketakutan yang membuatnya terbutakan untuk mencapai tujuan. Ketakutan ini bukan untuk diabaikan atau dianggap tidak ada. Justru, bertemanlah dengan rasa takut. Kenali akar masalahnya sehingga perlahan bisa menerima.Bantuan terapis atau pakar kesehatan mental bisa membantu dalam proses ini.

5. Memiliki mantra

Mantra dalam hal ini sama seperti positive self-talk yang bisa menjadi pengingat agar tidak terlalu menuntut diri berlebihan. Contohnya seperti apresiasi sudah melakukan yang terbaik, merasa cukup, dan mencintai diri sendiri. Mantra semacam ini juga menjadi pengingat untuk menyayangi diri sendiri.

Catatan dari SehatQ

Setelah semua pencapaian sejauh ini - terlepas dari sempurna atau tidak - Anda layak mendapat apresiasi. Tidak perlu menjadi sempurna, karena tiap orang unik dan punya jalan hidup masing-masing. Ketika Anda merasa terjebak sebagai seorang overachiever, ketahuilah bahwa semua ini bisa teratasi.Hal terpenting, ketahui apa sumber ketakutan Anda. Apa yang sampai membuat Anda tidak bisa tenang menjalani hidup dan terus dihantui keharusan untuk sukses? Dari situ, masalah perlahan bisa terurai.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar cara membiasakan diri memberikan afirmasi positif, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentalstres
Verywell Health. https://www.verywellmind.com/are-you-an-overachiever-4580606
Diakses pada 18 Oktober 2021
Huffington Post. https://www.huffpost.com/entry/overachiever-signs_n_4740534
Diakses pada 18 Oktober 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/anxiety/hacks-high-functioning-anxiety#4.-Have-a-mantra,-and-use-it-every-day
Diakses pada 18 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait