logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Tanda-tanda Mental abuse dan Bagaimana Keluar dari Kondisi Tersebut

open-summary

Mental abuse dapat membuat korban merasa tidak berharga dan menghancurkan kepercayaan dirinya. Kenali tanda-tanda mental abuse berikut ini sebelum terlambat.


close-summary

3.83

(12)

18 Okt 2020

| Nenti Resna

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Ada sejumlah tanda-tanda seseorang mengalami mental abuse

Korban mental abuse membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya

Table of Content

  • Ciri-ciri mental abuse
  • Cara keluar dari mental abuse

Mental abuse atau kekerasan mental dapat digambarkan sebagai tindakan pelaku yang bermaksud merendahkan harga diri seseorang (korbannya). Tindakan ini dapat menyebabkan korbannya merasa terhina atau direndahkan.

Advertisement

Ada banyak cara yang digunakan seseorang saat melakukan mental abuse untuk menghancurkan mental korbannya. Tidak jarang, korban mental abuse dapat mengalami trauma dan gangguan mental, seperti kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma.

Ciri-ciri mental abuse

Mental abuse adalah kekerasan secara psikologis yang melibatkan perilaku atau upaya seseorang (pelaku) untuk menakut-nakuti, mengontrol, memanipulasi dan mengisolasi orang lain (korbannya).

Mental abuse bisa memiliki banyak bentuk, baik yang terlihat jelas atau bahkan yang hampir tidak disadari sama sekali. Berapa hal berikut dapat menjadi tanda adanya mental abuse.

  • Dapat dilakukan oleh siapa saja, tapi sering kali kondisi ini menjadi bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
  • Adanya perilaku teratur atau terus-menerus berupa pernyataan merendahkan atau ancaman kepada korban.
  • Pelaku berusaha membuat korban merasa tidak berharga dengan menghancurkan kepercayaan diri korban.

Selain itu, pelaku kekerasan mental juga kerap melakukan tindakan-tindakan untuk menjatuhkan mental korbannya, seperti:

  • Menghina, meniadakan keberadaan, dan mengkritik korban, misalnya dengan melakukan ejekan, memberikan nama panggilan yang merendahkan, pembunuhan karakter, mempermalukan korban di depan umum, meremehkan, mengolok-olok, menghina penampilan, dan sebagainya.
  • Melakukan tindakan mempermalukan dan menguasai korban, misalnya dengan memberikan ancaman, mengontrol apa yang korbannya lakukan, memutuskan sesuatu tanpa berdiskusi, mengontrol keuangan, marah tiba-tiba, sikap yang tidak bisa diprediksi sehingga korban selalu was-was, dan sebagainya.
  • Melakukan tuduhan dan menyalahkan korban, sekaligus menyangkal semua tuduhan ke arahnya. Misalnya, cemburu buta dan menuduh korban berselingkuh, menyalahkan korban karena sudah menyebabkan kemarahannya, membuat korban merasa bersalah, membalikkan keadaan dengan menuduh korban sebagai pelaku kekerasan, dan sebagainya.
  • Mengabaikan kebutuhan emosional dan mengisolasi korban, misalnya dengan menutup komunikasi, melarang korban bersosialisasi, menolak disentuh dan tidak memberikan perhatian, tidak melakukan apa pun saat melihat korban menangis atau terluka.

Pelaku mental abuse juga kerap melakukan gaslighting, yakni upaya untuk memanipulasi sehingga korban mulai meragukan dirinya sendiri dan tidak berdaya.

Pelaku meyakinkan bahwa kesalahan ada pada korban dan kenapa korban layak mendapatkan perlakuan seperti itu. Gaslighting berfungsi agar pelaku dapat tetap mengontrol korban dan menjatuhkan mentalnya.

Di dalam sebuah jalinan hubungan intim (kekasih atau suami istri), mental abuse juga dapat menyebabkan korban menjadi ketergantungan (kodependensi).

Korban merasa perlu selalu mendapatkan persetujuan pelaku dan mendahulukan kepentingan pelaku. Sedangkan, pelaku melakukan mental abuse untuk meningkatkan harga dirinya.

Saat mengalami kekerasan mental, mungkin tidak ada bekas luka yang terlihat. Namun, dampaknya bisa bertahan sangat lama pada mental seseorang. Korban mental abuse juga dapat mengalami gangguan mental dan emosional jika relasi keduanya tidak segera diperbaiki atau diakhiri.

Ada kalanya orang lain dapat melihat terjadinya kekerasan mental, tapi korban sendiri menyangkalnya. Sebagian korban mungkin akan menolak untuk dibantu dan bahkan membela pelaku.

Cara keluar dari mental abuse

Salah satu cara keluar dari mental abuse adalah memprioritaskan diri sendiri
Cobalah untuk menghargai dan memprioritaskan diri sendiri

Untuk bisa keluar dari mental abuse, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan:

  • Sadari bahwa kekerasan mental yang Anda terima bukan tanggung jawab Anda melainkan sepenuhnya kesalahan pelaku.
  • Jangan mencoba bernalar atau beradu argumen dengan pelaku mental abuse. Kecil kemungkinan Anda bisa membantunya. Hanya konselor profesional yang memiliki tanggung jawab untuk membantu pelaku.
  • Tetapkan batasan-batasan Anda. Jangan menoleransi sikap atau perbuatan pelaku, jangan menanggapi atau terjebak dalam pertengkaran dengannya. Sebisa mungkin batasi interaksi dengan pelaku.
  • Ubah prioritas. Jangan lagi selalu mendahulukan atau memikirkan kepentingan pelaku. Mulailah memprioritaskan diri sendiri dan apa yang penting sekaligus dapat membahagiakan diri Anda.
  • Keluarlah dari hubungan atau keadaan yang membuat pelaku dapat melakukan kekerasan mental kepada Anda. Jika memungkinkan, putuskan semua hubungan dan jangan merasa bersalah.
  • Anda mungkin akan membutuhkan beberapa waktu untuk sembuh. Minta bantuan teman dan keluarga yang suportif untuk mendukung Anda melalui semua ini.
  • Jangan pernah berhubungan kembali dengan pelaku kekerasan mental, walaupun pelaku memberikan berbagai macam bujukan.

Baca Juga

  • Amnesia Disosiatif: Gejala, Penyebab, dan Perawatannya
  • 8 Cara Keluar dari Jeratan Toxic Relationship dengan Cepat
  • 7 Cara Mengatasi Kekerasan di Sekolah yang Perlu Diketahui Orangtua

Anda harus ingat bahwa korban mental abuse tidaklah lebih lemah atau lebih memalukan dari orang-orang yang bukan korban. Anda tidak perlu malu mengungkapkan jika pernah menjadi korban kekerasan mental.

Lakukan berbagai upaya untuk membuat diri Anda merasa berharga dan percaya diri lagi. Anda dapat berkonsultasi dengan psikolog atau bergabung dalam yayasan/komunitas/kelompok suportif untuk mengembalikan kondisi mental seperti sediakala.

Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar mental abuse, Anda juga bisa tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

traumakekerasan

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved