Sejak bayi tanda-tanda katarak sudah dapat dideteksi
Tanda-tanda katarak dapat dideteksi sejak bayi lahir

Katarak kongenital merupakan suatu kelainan pada lensa mata sejak bayi baru lahir. Tanda-tanda katarak kongenital dapat diidentifikasi oleh tenaga kesehatan maupun orangtua di rumah. Deteksi dini dapat mencegah kebutaan pada anak.

Pada tahun 2017, Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) dalam Kampanye Pupil Putih/White Pupil Campaign mengungkapkan bahwa setiap 60 detik, satu orang anak di seluruh dunia menjadi buta.

Padahal 80% penyebab kebutaan pada anak sebenarnya bisa dicegah melalui pemeriksaan dan tindakan segera. Terdapat 200.000 kasus katarak pada anak di seluruh dunia, atau 3-6 anak setiap 10.000 kelahiran hidup.

Tanda-Tanda Katarak Kongenital

Tanda-tanda katarak kongenital dapat dikenali oleh orangtua di rumah. Tanda-tanda tersebut antara lain sebagai berikut:

  • Bayi tidak peka secara visual terhadap lingkungan sekitarnya, terutama pada katarak kongenital yang mengenai kedua mata.
  • Pupil atau bagian tengah bola mata yang harusnya berwarna hitam berwarna keabuan atau putih keruh.
  • Efek mata menjadi merah atau red eye glow pada foto akan hilang atau berbeda antara mata kiri dan kanan.
  • Pergerakan bola mata yang cepat.
  • Keadaan mata malas atau lazy eyes. Keadaan ini membuat mata anak terlihat tidak bekerja dengan sinkron satu dengan yang lain atau mata yang seperti tertutup atau memicing.

Kapan Tanda-Tanda Katarak Kongenital Dapat Diidentifikasi?

Tanda-tanda katarak kongenital dapat dideteksi sejak bayi lahir. Jika tidak ditemukan saat lahir dan baru ditemukan saat usia kurang dari 16 tahun, maka keadaan ini disebut katarak juvenil, bukan katarak kongenital.

Pada umumnya, tenaga kesehatan yang membantu menolong persalinan seperti dokter dan bidan akan menemukan kondisi ini saat menolong bayi baru lahir atau saat pemeriksaan harian bayi baru lahir.

Penanganan Katarak Kongenital

Biasanya, penanganan katarak kongenital dilakukan dengan metode operasi. Beberapa riset mengatakan jika usia 4-6 minggu merupakan waktu yang tepat untuk dilakukannya operasi.

Sebuah riset lain pada tahun yang sama menyatakan bahwa sebaiknya operasi dilakukan saat bayi berusia lebih dari enam bulan hingga dua tahun. Operasi yang dilakukan pada anak usia tersebut cenderung lebih aman dan memiliki hasil yang lebih baik ke depannya.

Paling penting adalah berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk melakukan operasi. Pertimbangkan semua aspek demi kebaikan anak.

Ketika Anda mencapai kalimat ini, beberapa anak di dunia telah mengalami kebutaan. Deteksi dini sangat diperlukan agar mengurangi angka kebutaan terutama dari kondisi katarak kongenital.

Depkes RI. http://www.depkes.go.id/article/view/17020600001/deteksi-dini-pupil-mata-putih-cegah-kebutaan-pada-anak.html
Diakses 8 Mei 2019

Medsinge A, Nischal KK. Pediatric cataract: challenges and future directions. Clinical ophthalmology (Auckland, NZ). 2015;9:77.

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/article/001615.htm
Diakses 8 Mei 2019

Churchill A, Graw J. Clinical and experimental advances in congenital and paediatric cataracts. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 2011 Apr 27;366(1568):1234-49.

Lambert SR. The timing of surgery for congenital cataracts: minimizing the risk of glaucoma following cataract surgery while optimizing the visual outcome. Journal of AAPOS: the official publication of the American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus/American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus. 2016 Jun;20(3):191.

Lin HT, Long EP, Chen JJ, Liu ZZ, Lin ZL, Cao QZ, Zhang XY, Wu XH, Wang QW, Lin DR, Li XY. Timing and approaches in congenital cataract surgery: a four-year, two-layer randomized controlled trial. International journal of ophthalmology. 2017;10(12):1835.

Artikel Terkait

Banner Telemed