Bayi yang kekurangan zat besi dalam jangka panjang akan mengalami masalah tumbuh kembang
Kulit pucat merupakan salah satu tanda bayi Anda mengalami kekurangan zat besi

Salah satu suplemen yang kerap direkomendasikan untuk bayi adalah tambahan zat besi. Sejatinya, cadangan zat besi di tubuh bayi hingga usia 4 bulan masih sangat cukup. Namun pada beberapa kondisi, zat besi untuk bayi memang dibutuhkan.

Pada bayi sehat, bayi bisa menyerap zat besi dari ASI dengan baik. Berpadu dengan persediaan zat besi dalam tubuh mereka, setidaknya kadar hemoglobin bayi tetap berada di kadar normal hingga 4 bulan pertama usia mereka.

Namun demikian, banyak hasil studi di Indonesia yang menyatakan bahwa sebagian besar bayi Indonesia kekurangan zat besi, sehingga perlu mendapatkan suplemen zat besi.

Zat besi untuk bayi bisa dibutuhkan pada mereka yang terlahir prematur. Hal ini terjadi karena sebagian besar persediaan zat besi bayi baru diperoleh dari sang ibu saat trimester akhir kehamilan.

Pentingnya zat besi untuk bayi

Zat besi merupakan nutrisi yang sangat penting bagi pertumbuhan bayi. Lewat zat besi komponen sel darah merah terbentuk untuk membawa oksigen dari paru-paru bisa tersalurkan ke seluruh tubuh. Tak hanya itu, zat besi juga membantu otot menyimpan dan memanfaatkan oksigen.

Ketika seorang bayi kekurangan zat besi, ada banyak dampaknya bagi kesehatan mereka. Gejala awalnya bisa berupa menurunnya nafsu makan,  anemia hingga memengaruhi kecerdasan otak.

Jika anemia defisiensi besi terus dibiarkan, dalam jangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan bayi.

Gejala lain saat bayi mengalami kekurangan zat besi adalah:

  • Kulit pucat
  • Lemas
  • Pertumbuhan jadi lebih lambat
  • Nafsu makan menurun
  • Napas lebih cepat dari normal
  • Masalah perilaku
  • Kerap mengalami infeksi
  • Ingin mengonsumsi hal yang tak wajar seperti es batu, debu, cat, dan lainnya atau disebut pica eating disorder

Kapan zat besi untuk bayi diperlukan?

Bayi yang minum ASI akan mendapatkan asupan zat besi yang melindungi dari bakteri berbahaya seperti E.coli, Salmonella, Clostridium, Bacteroides, dan Staphylococcus.

Protein dalam ASI seperti laktoferin dan transferin menjaga saluran pencernaan bayi. Selain itu, zat besi juga mencegah bakteri berkembang biak lebih banyak.

Apabila bayi diberi suplemen zat besi sebelum usia 6 bulan, justru kemampuannya untuk menyerap zat besi alami secara efisien akan berkurang. Bahkan, suplemen zat besi dapat mengganggu kemampuan protein dalam mengikat zat besi dari ASI.

Ketika fase ASI eksklusif telah selesai dan bayi mulai mengenal makanan pendamping atau MPASI, zat besi bisa diperoleh dari makanan-makanan seperti:

  • Daging
  • Jamur
  • Sayuran hijau
  • Ketela
  • Tahu
  • Kuning telur
  • Gandum dan biji-bijian
  • Tomat
  • Ikan (tuna, sarden)

Perlu diingat bahwa makanan-makanan di atas harus diperkenalkan secara bertahap kepada bayi. Dikhawatirkan ada reaksi alergi dari bayi. Tak hanya itu, mengolahnya pun harus benar-benar tepat sehingga tekstur makanan tidak membuat bayi rentan tersedak.

Berdasarkan kelompok usianya, kebutuhan zat besi bisa berbeda. Panduannya sebagai berikut:

  • 7-12 bulan: 11 mg
  • 1-3 tahun: 7 mg
  • 4-8 tahun: 10 mg
  • 9-13 tahun: 8 mg
  • 14-18 tahun (perempuan): 15 mg
  • 14-18 tahun (laki-laki): 11 mg

Tentunya, kebutuhan zat besi di atas bisa berbeda antara satu anak dengan anak lainnya.

Suplemen zat besi untuk bayi

Memberikan suplemen zat besi untuk bayi di atas 6 bulan sah-sah saja, terutama jika memang bayi berisiko mengalami kekurangan zat besi.

Selain bayi prematur, ada juga faktor risiko yang membuat bayi bisa jadi memerlukan suplemen zat besi tambahan, yaitu:

  • Anak yang sulit makan atau kurang mendapat asupan protein
  • Kondisi medis yang membatasi penyerapan nutrisi
  • Anak terlahir dari ibu yang kekurangan zat besi
  • Anak yang mengonsumsi terlalu banyak susu sapi
  • Anak yang hanya minum ASI

Memberikan suplemen zat besi harus atas rekomendasi dari dokter anak. Bila perlu, dokter akan memeriksa sampel darah untuk tahu seberapa banyak simpanan zat besi bayi tersebut. Suplemen akan diberikan jika dokter melihat bayi memang mengalami kekurangan zat besi.

Efek samping suplemen zat besi untuk bayi

Suplemen zat besi dapat diberikan dalam bentuk tetes, sirup, gummies, atau bubuk. Namun perlu diingat juga bahwa ada efek samping dari konsumsi suplemen zat besi untuk bayi.

Umumnya, suplemen zat besi dapat menyebabkan sakit perut hingga konstipasi. Jangan berlebihan memberikan zat besi karena berisiko menyebabkan anak mengalami diare, muntah, hingga tubuh terasa sangat lemah.

Selalu berikan zat besi sesuai dosis karena memperbanyak dosis tidak akan mempercepat perbaikan kondisi defisiensi zat besi.

Untuk menghindari penyerapan suplemen zat besi untuk bayi berlebihan, Anda juga bisa memadukan dengan vitamin C seperti dari stroberi dan jeruk yang dapat membantu menyerap zat besi.

Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/iron-supplements-for-kids#What-Precautions-Should-I-Follow?
Diakses 13 November 2019

Kelly Mom. https://kellymom.com/nutrition/vitamins/iron/
Diakses 13 November 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/iron-deficiency/art-20045634
Diakses 13 November 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed