Takut Kehilangan yang Berlebihan Tanda Thanatophobia, Berisiko pada Depresi


Takut kehilangan yang berlebihan disebut sebagai thanatophobia alias takut akan kematian dan berpisah dengan orang-orang terkasih. Kondisi ini bisa menimbulkan gejala berupa mual, sakit perut, bahkan stres.

(0)
18 Dec 2020|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Takut kehilangan ternyata bisa menimbulkan gejala berupa muka yang memerahTakut kehilangan berlebihan dapat menandakan kondisi thanatophobia
Takut kehilangan seseorang yang sangat Anda cintai, seperti orangtua, anak, pasangan, atau teman dekat adalah hal yang wajar. Namun jika rasa itu sudah sangat berlebihan sampai membuat hidup tidak tenang dan mengganggu aktivitas sehari-hari, Anda harus melakukan berbagai cara untuk mengatasinya.Dalam ilmu psikologi, rasa takut kehilangan yang berlebihan disebut sebagai thanatophobia alias takut akan kematian. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yakni thanatos (mati) dan phobos (takut). Orang yang mengalami thanatophobia akan merasa cemas dan takut berlebihan ketika selalu memikirkan kematian.Ada kekhawatiran tertentu yang membuat orang tersebut merasa tidak mampu berpisah dengan orang-orang terkasih di hidupnya. Dalam level yang ekstrem, rasa takut kehilangan ini akan membuat penderitanya tidak mau keluar rumah, menyentuh benda tertentu, atau berinteraksi dengan orang yang dianggapnya berbahaya bagi nyawanya.

Takut kehilangan karena thanatophobia sebabkan gejala ini

Takut kehilangan dapat menimbulkan gejala berupa stres
Thanatophobia berbeda dari necrophobia, meski kedua istilah ini sering digunakan bersamaan. Necrophobia adalah takut akan hal-hal yang berhubungan dengan kematian, seperti jasad orang yang sudah meninggal, kuburan, keranda, batu nisan, dan sebagainya.Sementara itu, berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition atau DSM-5 seseorang didiagnosis thanatophobia bila rasa takut kehilangan yang berlebihan muncul setiap kali memikirkan kematian dirinya sendiri. Rasa ini pun terus bertahan selama 6 bulan beruntun dan sampai merusak kualitas aktivitas sehari-harinya.Selain itu, penderita thanatophobia juga akan mengalami gejala seperti:
  • Langsung takut atau stres saat berpikir dirinya akan mati
  • Serangan panik yang sampai mengakibatkan pusing, muka memerah, berkeringat, dan detak jantung tidak beraturan
  • Mual atau sakit perut ketika memikirkan kematian diri sendiri
  • Depresi (pada tahap yang parah)
Gejala-gejala ini mungkin memiliki derajat keparahan berbeda selama periode tertentu. Namun yang jelas, tanda ini menjadi sangat parah ketika ia melihat orang lain meninggal dunia atau orang yang dicintainya jatuh sakit parah hingga koma.Jika rasa takut kehilangan berhubungan dengan depresi atau kelainan jiwa lainnya, ia juga akan menunjukkan gejala kelainan yang dimaksud.

Bagaimana cara mengatasi rasa kehilangan yang berlebihan?

Berkonsultasi dengan psikolog bisa menjadi pilihan penanganan
Tidak sedikit orang yang menarik diri dari pergaulan atau keluarga agar rasa takut kehilangan tidak muncul di kemudian hari. Namun, hal ini sebaiknya tidak Anda pilih karena justru akan menimbulkan masalah psikologis baru, seperti perasaan yang kosong dan terisolasi.Terpisah dari orang-orang terkasih akibat kematian adalah hal yang tak terhindarkan. Oleh karena itu, Anda sangat disarankan untuk tetap beraktivitas seperti biasa, bertemu dengan orang-orang tercinta, maupun menikmati waktu bersama. Anda tetap dapat menyalurkan rasa takut Anda pada beberapa hal, seperti:

1. Menulis diari

Tuliskan bentuk-bentuk ketakutan di jurnal atau diari dan posisikan diri sendiri seperti sedang berbicara dengan orang lain agar Anda merasa lebih lega.

2. Curhat ke orang tepercaya

Tidak semua orang memahami perasaan cemas atau stres karena takut kehilangan. Namun jika Anda menemukan orang yang tepat, mencurahkan isi hati kepadanya bisa membuat beban seperti terangkat.

3. Terapi

Jangan ragu untuk menghubungi psikiater, psikolog, atau terapis profesional yang dapat Anda ajak bicara tentang rasa takut kehilangan yang berlebihan ini. Terapis yang berpengalaman bisa sekaligus merekomendasikan bentuk perawatan yang tepat, misalnya merekomendasikan terapi perilaku kognitif.

4. Melakukan hal yang membuat rileks

Banyak teknik dapat Anda coba, seperti melakukan meditasi, membayangkan hal yang menyenangkan, hingga teknik pernapasan tertentu untuk meredakan stres dan cemas.

5. Minum obat

Dalam penanganan medis, biasanya dokter akan meresepkan obat penenang yang dapat meredakan serangan panik atau detak jantung tak beraturan yang datang berbarengan dengan fobia. Namun, konsumsi obat bukanlah solusi jangka panjang dan harus dibarengi dengan terapi oleh ahlinya.

Catatan dari SehatQ

Meski takut kehilangan adalah hal yang wajar dialami oleh siapapun, Anda sangat dianjurkan untuk menemui dokter atau ahli kejiwaan jika perasaan ini secara terus-menerus mengganggu kualitas hidup selama 6 bulan beruntun. Penanganan dini bisa membantu Anda mengendalikan perasaan tersebut.Untuk berkonsultasi dengan dokter atau psikiater, Anda dapat melalukan booking secara online di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentalmasalah kejiwaanpenyakit kejiwaan
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321939
Diakses pada 8 Desember 2020
Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-thanatophobia-3577764
Diakses pada 8 Desember 2020
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/making-change/201602/love-and-the-fear-loss
Diakses pada 8 Desember 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/thanatophobia
Diakses pada 8 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait